Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 10


__ADS_3

"Apa jadwalku hari ini Zein?" tanya Arthur saat mereka sudah tiba di lobi kantor menuju lift untuk naik ke lantai paling atas tempat ruangannya berada.


"Ada pertemuan dengan klien dari Australia jam sembilan pagi, dilanjutkan makan siang di restoran tersebut. Pukul dua siang rapat dengan hotel cabang. Setelah itu sore hari ada klien dari Singapura ingin melanjutkan kelanjutan bisnis kita. Malam hari..."


"Stop, stop Zein, shit..." Arthur menyela, mimpi masa lalunya semalam benar-benar membuatnya frustasi.


Pasalnya dia kembali memanjakan miliknya hanya dengan urutan jemarinya. Bahkan jadwal yang dikatakan Zein tidak masuk sepenuhnya dalam otaknya. Seperti dengungan.


"Selamat pagi tuan." sapa seorang pria yang duduk di meja sekretaris yang sudah seminggu ini kosong karena Arthur telah memecat Vina.


"Kau...." Arthur menunjuk pria itu, beralih menatap Zein meminta penjelasan.


"Kau sudah datang Ken?" sapa Zein pada temannya itu kemudian beralih menatap Arthur "Dia sekretaris baru anda tuan. Namanya Keanu , panggilannya Ken." jelas Zein pada tuannya.


"Selamat datang Ken, semoga kau tidak mengecewakanku." ucap Arthur menepuk pundak Ken dua kali dan masuk ke dalam ruangannya.


Mata Arthur langsung tertuju pada tumpukan berkas laporan yang sejak seminggu lalu belum juga berkurang. Arthur berdecak kesal, mau protes itu bukan sepenuhnya salah Arthur. Arthur akan melakukannya dengan senang hati karena teringat semua itu tak akan terjadi jika dia tak menghabiskan waktu dengan sang mama tersayang.


"Saya akan ke ruangan saya tuan." pamit Zein.


"Hmm..." Arthur melepas jasnya meletakkan pada sandaran kursinya dan duduk memulai pekerjaannya.


Belum sampai pukul sembilan dan padahal Arthur juga belum memulai pekerjaannya namun Zein muncul dengan wajah penuh kecemasan.


"Tuan..." seru Zein panik.


"Kau bahkan baru pergi lima belas menit yang lalu Zein dan aku belum sempat memegang berkas-berkas ini ck ck." seru Arthur berdecak kesal.


"Maaf tuan. Tapi ini darurat." ucap Zein panik sambil memegang berkas laporan yang baru dikirim dari kepala kantor cabang hotel tuannya.


"Kalau tak penting, aku akan memotong gajimu." seru Arthur.


"Lihatlah tuan, ini laporan langsung dari orang kita di hotel baru kita, terjadi korupsi besar-besaran sehingga pendapatan hotel kita semakin menurun." jelas Zein menunjukkan laporan yang baru di print untuk ditunjukkan pada tuannya.


Arthur meraih berkas laporan itu dengan sedikit kasar dan melihat dengan teliti isi laporan itu. Sorot matanya berubah dingin dan tajam. Tangan kanannya mengepal kuat.


"Siapkan jet pribadi kita secepatnya. Setelah menemui klien dari Australia kita terbang kesana." seru Arthur meremas berkas laporan itu.


"Mau main-main denganku kau..." gumamnya yang masih terdengar jelas oleh Zein. Zein tak berani komentar karena tuannya sedang marah.


"Baik tuan." Zein undur diri segera sebelum tuannya semakin emosi.


Zein segera menyiapkan segala sesuatunya untuk bertemu dengan klien sekaligus menyiapkan jet pribadi.

__ADS_1


Setibanya dia di restoran tempat meeting dengan klien dari Australia, Arthur tidak begitu konsentrasi pada meeting itu. Zein yang menjelaskan segalanya pada sang klien. Klien itu hanya membutuhkan Arthur untuk datang karena ingin melihat keseriusan kerja sama mereka.


Selebihnya semua Zein yang mengurusnya. Masalah mendadak yang terjadi di hotel yang baru dibuka setengah tahun yang lalu membuat Arthur tak bisa berpikir jernih, setelah selesai makan siang dia segera menuju bandara karena segala kebutuhannya sudah disiapkan oleh sang asistennya Zein.


Tanpa sadar karena terlalu lelah dan tegangnya Arthur terlelap di kursi penumpang pesawatnya. Biasanya dia membaringkan tubuhnya sejenak di dalam kamar di dalam pesawat itu namun belum sampai pesawat take off Arthur sudah terlelap.


"Mama..." seru pria kecil itu menghambur memeluk seorang wanita yang muncul di sebuah sekolah taman kanak-kanak.


"Hei, boy... kau tak nakal kan?" tanya wanita itu tersenyum sambil mengusak rambut pria kecil itu.


"Rambutku kan jadi berantakan ma." oceh pria kecil itu sambil menata rambutnya lagi.


"Ma, papa kapan pulang?" tanya pria kecil itu sambil digandeng sang mama melewati trotoar menuju halte bus.


Seketika wajah wanita itu terlihat sedih. Dia bingung akan menjelaskan apa pada putranya itu setiap kali bertanya kapan papa pulang.


"Tuan... tuan..." bisik seorang pria membuat Arthur tersentak.


Dia menatap sekeliling berusaha mencari wanita yang menggandeng pria kecil yang tak bisa dilihatnya dengan jelas wajahnya.


"Zein..." guman Arthur menatap Zein penuh cemas.


"Apa tuan mimpi buruk? Sejak tadi wajah anda terlihat berkerut seperti orang yang sedang bermimpi buruk." tanya Zein. Arthur terdiam sebentar mengingat kembali mimpinya.


"Setengah jam lagi pesawat mendarat tuan." jelas Zein.


Arthur berdiri masuk ke dalam kamar membersihkan tubuhnya sebentar sebelum pesawat landing dan dia akan langsung menuju hotelnya.


Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Incheon. Arthur merasakan perasaan aneh saat menuruni pesawat, seperti akan terjadi suatu hal di negara ini. Arthur menghela nafas panjang, menenangkan hatinya yang terasa berdegup kencang, entah karena apa.


"Langsung ke hotel!" titah Arthur melirik jam tangannya menunjuk pukul tujuh malam.


"Baik tuan." jawab sopir yang sudah disiapkan Zein untuk mengantar kemanapun tuannya pergi selama di negara ini.


Dalam perjalanan, mobil berhenti secara tiba-tiba.


"Maaf tuan sebentar." ucap sopir itu merasa tak enak hati.


Sopir itu keluar dari dalam mobil melihat ban mobilnya pecah.


"Maaf tuan, ban mobilnya pecah, saya akan menggantinya sebentar." jelas sopir itu dengan perasaan takut, cemas dan panik karena raut wajah Arthur sudah berubah dingin dan tajam.


"Zein, cari taksi!" seru Arthur tak menjawab ucapan sopir tadi. Arthur keluar dari mobil itu dengan perasaan kesal.

__ADS_1


Bruk... tubuh anak kecil dari sisi kanannya menubruknya. Arthur refleks menangkapnya.


"Kau tak apa-apa nak?" tanya Arthur, entah kenapa hatinya menghangat saat menangkap tubuh anak kecil yang menabraknya itu.


Arthur mendekap lebih lama tubuh anak kecil itu. Hangat, sungguh perasaan rindu apa ini? batin Arthur.


"Tak apa tuan. Maaf saya tidak sengaja menabrak tuan." jawab anak kecil yang mungkin berumur sekitar kurang lebih lima tahunan namun sikapnya sangat sopan, dia bahkan langsung membungkukkan badan tanda maaf.


"Tak apa. Kau sendiri?" tanya Arthur melihat sekeliling tak ada siapapun di sisi anak kecil itu.


"Iya tuan. Tadi aku ke supermarket sebentar membeli makanan ringan."


"Sendirian?"


"Mamaku belum pulang kerja, katanya lembur. Aku diminta ke rumah temanku sementara mamaku belum pulang bekerja. Dan dia akan menjemputku di rumah temanku." jelas anak kecil itu dengan lancar.


Karena temaram lampu jalan, Arthur tak bisa melihat wajah anak kecil itu dengan jelas.


"Matty...." seru seorang gadis kecil dengan ibu paruh baya dari kejauhan, Arthur menoleh ke arah suara.


"Su Jin ah..." pria kecil yang merasa dipanggil itu melambai.


"Maaf tuan sekali lagi. Saya pergi." pria kecil yang dipanggil Matty tadi membungkuk lagi di depan Arthur dan berlalu meninggalkan Arthur.


Entah kenapa Arthur tak melepaskan tatapan matanya pada pria kecil yang pergi meninggalkannya itu. Hatinya rasanya kosong saat pria kecil itu pergi.


"Tuan, taksi sudah datang." ucap Zein membuyarkan lamunan Arthur.


"Tentu." Arthur langsung masuk ke dalam taksi yang sudah membukakan pintu untuknya itu.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2