Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 11


__ADS_3

Kedua orang tua Davi merasa cemas, mereka mondar-mandir kesana-kemari di ruangan mempelai wanita yang tidak kunjung datang. Padahal sudah lebih dari satu jam. Orang suruhannya sudah datang ke rumahnya melihat apa Davi masih di rumah. Namun hasilnya nihil, tak ada siapapun di rumah mereka.


Masih tergembok rapi di luar, itu pertanda kalau sudah tidak ada orang di rumah tersebut. Mereka mau melapor pada polisi tapi belum dua puluh empat jam.


Gio sendiri sudah cemas menunggu di depan meja ijab qobul yang seharusnya dilaksanakan lima belas menit lalu. Bahkan penghulu sudah mendesaknya karena masih ada pernikahan lain yang membutuhkannya. Namun Gio lagi-lagi memintanya untuk tetap tinggal setidaknya menunggu lima menit lagi. Namun tampaknya memang Davi tak akan datang, entah kenapa.


Gio mulai menebak-nebak apa hal buruk terjadi pada calon pengantinnya. Gio sendiri membuang jauh-jauh pikiran buruknya tentang kemungkinan kaburnya Davi dari pernikahan mereka. Pasalnya setelah dia pulang ke tanah air, sikap kekasihnya setelah beberapa tahun LDR an itu sedikit berubah meski tidak terlalu kentara. Namun kecurigaan dan keraguannya runtuh saat kekasihnya menerima lamarannya dan bersedia ikut dirinya ke luar negeri setelah menikah.


Dan sekarang.. Apa kau benar-benar melarikan diri dari pernikahan yang sebenarnya tidak kau kehendaki? Batin Gio terdiam.


"Bagaimana? Apa diangkat ponselnya yah?" Tanya ibu Davi saat suaminya menghubungi ponsel Davi.


Ayah Davi hanya menggeleng menyesal karena tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan istrinya.


"Kemana dia yah?" Tanya ibu Davi cemas sambil menggenggam-genggam jemari tangannya.


"Aku juga tak tahu bu." Jawab ayah Davi juga terlihat cemas.


Pasti keduanya akan malu jika pernikahan itu batal. Tak hanya keluarganya tapi juga keluarga Gio ya juga sudah datang berkumpul di tempat acara yang lumayan mewah dan megah.


Sopir yang disewa Gio untuk menjemput pengantinnya datang ke acara dengan langkah linglung seolah baru terkena hipnotis. GI segera menghampiri beserta seluruh keluarga besarnya juga orang tua Davi.


"Pak, dimana pengantin saya?" Tanya Gio melihat sopir itu.


"Maaf tuan, maafkan saya tuan. Saat hendak perjalanan menuju rumah non Davi, ada yang menghentikan mobil saya. Dan setelah itu saya pingsan. Dan saya bangun di dekat rumah non Davi." Jelas sopir itu langsung membuat ibu Davi pingsan seketika dan ayah Davi segera menolongnya.


Semua orang menjerit histeris saat tahu pengantin wanita diculik. Ya, itulah keputusan yang diambil semua orang setelah mendengar cerita sopir tersebut. Gio terdiam dan jatuh terkulai di lantai gedung acara pernikahannya yang seharusnya dilanjutkan resepsi pernikahan itu.


Ayah Davi langsung mengambil keputusannya untuk melaporkan penculikan putrinya tersebut berdasarkan saksi dari sopir itu. Gio pun tak ikut pulang, dia ikut ke kantor polisi dengan calon mertuanya untuk melaporkannya juga.


***


"Bagaimana?" Tanya seorang pria saat memasuki villanya.

__ADS_1


"Dia sedang tertidur tuan." Jelas seorang pria lain yang ditanya tadi.


"Bagus. Perketat penjagaan, jangan sampai dia melarikan diri." Titah pria itu.


Dia masuk ke dalam kamar tempat yang dimaksud pria-pria tadi.


Cklek


Pria itu membuka pintu kamar mendapati Davi tertidur pulas di ranjang kamar tersebut dengan pakaian pengantin yang masih melekat sempurna di di tubuhnya. Pria itu mendekati ranjang menatap wajah Davi yang terlelap seperti bayi dengan meringkuk melingkar dan mata sembab karena diduga menangis sepanjang malam.


Dan entah sudah pukul berapa dirinya terlelap karena kelelahan menangis. Pria itu menyentuh pipi mulus Davi dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman yang sangat.


"You're mine, Davi. Aku mencintaimu baby." Bisik pria itu sambil mengecup bibir Davi lembut.


Mata Davi langsung membelalak merasakan pergerakan di bibirnya.


"Davin." Guman Davi tersentak melihat pria yang dipikirkannya selama ini ada di hadapannya.


"Kau...? A.. aku ada di mana?" Tanya Davi menatap sekeliling kamar yang asing untuknya.


Menatap pakaiannya yang masih utuh melekat di tubuhnya, gaun pengantin yang harusnya dikenakan untuk pernikahannya dengan Gio semalam.


"Kau ada di villa milikku baby." Jawab Davin prosesif.


"Kau.. kenapa kau menculikku Davin?" Tanya Davi menatap Davin horor.


Karena sekarang wajah Davin memang menakutkan. Wajah dingin, tajam dan mes*um. Tubuh Davi gemetar ketakutan.


"Bukankah kau milikku sayang?" Tanya Davin dengan suara datar menunjukkan keposesifannya.


"Tidak. Aku... aku... akan menikah dengan Gio."


Bruak... pyaar...

__ADS_1


Davin mendorong meja nakas di samping ranjang tempat Davi berbaring tadi. Davi semakin gemetar ketakutan melihat kemarahan di mata Davin.


"Kau hanya milikku sayang, tak akan kubiarkan siapapun yang dapat memilikimu." Bisik Davin sambil meraih rambut Davi yang tergerai berantakan sambil mengecup rambut itu.


"Lepaskan aku Davin, kumohon. bagaimana pun juga pernikahan..."


"Diam!!" Sela Davin murka menatap Davi nyalang.


Membuat Davi semakin ketakutan dan menunduk gemetaran.


"Makanlah dan bersihkan dirimu! Kita tunda malam pertama kita!" Davin pergi meninggalkan kamar itu sebelum amarahnya semakin memuncak karena kecemburuannya pada Davi yang terus saja menyebut pernikahannya yang tidak dengannya.


"Sarapan sudah siap tuan?" Ucap pelayan di villa itu.


"Bantu dia membersihkan tubuhnya!" Titah Davin tanpa menjawab ucapan pelayan itu yang langsung menganggukkan kepalanya mengerti.


Pelayan itu pun masuk ke dalam kamar Davi berada yang ternyata Davi masih meringkuk di ranjang tak bergeming sedikitpun. Davi sontak menoleh menatap pelayan perempuan yang baru masuk tersebut dengan beberapa rekannya.


"Saya akan membantu anda mandi nona." Ucap pelayan itu sambil memberikan hormat pada Davi sopan dan ramah.


"Tidak. Tinggalkan aku sendiri!" Seru Davi dingin.


"Tuan meminta saya untuk memaksa jika anda menolak." Jawab pelayan itu yang langsung menyuruh rekannya untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan oleh calon wanita majikannya.


Rekannya yang berjumlah dua orang itu ada yang menyiapkan air mandi dan pakaian Davi yang sudah dibawanya dalam paper bag dari majikannya. Dan pelayan utama tadi mendekati Davi yang terpundur menolak paksaan pelayan.


"A.. aku akan menurut. Tinggalkan aku!" Seru Davi karena tak nyaman tubuhnya dilihat orang lain.


"Kami tetap akan membantu nona." Jawab pelayan itu tidak menerima bantahan.


Davi terpaksa menuruti apa kata para pelayan tersebut. Bahkan semua membantu mandi dan berpakaian Davi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2