Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 5


__ADS_3

Kini semua orang nampak tegang, duduk di sofa ruang keluarga di villa itu. Arthur menatap Karina penuh kasih. Masih menunggu kata-kata yang akan diucapkan oleh sang mama. Wajahnya kini sudah tak lagi nampak pucat seperti siang tadi. Ya, setelah satu minggu Karina terbaring pingsan tak sadarkan diri setelah pingsannya entah itu koma atau tidur.


Tapi itu terlihat seperti orang tidur tapi tak bangun-bangun sampai satu minggu kemudian. Dokter yang memeriksa setiap saat untuk mengganti infusnya hanya menggeleng kepala pertanda sudah menyerah dengan keadaan Karina. Sampai Arthur sempat emosi mencengkeram erat kerah leher dokter itu.


Namun segera dilerai oleh Al yang saat itu juga ikut menunggui di kamar. Arthur yang sudah kalap tak mendengar leraian dari kakak iparnya itu. Namun akhirnya suara sang papa menyadarkannya dan terpaksa melepaskan cengkeramannya.


"Syukurlah, nyonya Karina dalam keadaan baik. Namun bukan berarti dia sembuh total. Kematian dan kesembuhan, semua itu hanya Tuhan yang menentukan, manusia hanya berusaha. Semoga dengan rutin berobat jalan dan pola hidup sehat, nyonya Karina bisa sehat." jelas sang dokter yang baru selesai memeriksa Karina dan ikut duduk di sofa ruang keluarga tempat semua keluarga besar itu berkumpul.


Ketegangan yang terjadi di ruang itu sedikit berkurang. Hanya Arthur yang masih menatap dokter tak percaya, seperti ada yang disembunyikan sang mama. Arthur beralih menatap sang mama yang dibalas dengan senyuman manis bahagia untuk sang putra tersayang.


Karina hanya menganggukkan kepala. Wajah tegang Arthur perlahan melemas, mulai emosinya terkendali melihat anggukan dan senyuman tulus sang mama.


"Baiklah. Karena tugas saya sudah selesai. Saya pamit. Permisi semuanya." pamit dokter itu beranjak dari duduknya.


"Terima kasih dokter." jawab semuanya serentak kecuali Arthur.


**


"Mama yakin merasa enakan?" tanya Angel mewakili rasa penasaran saudara-saudarinya.


"Tentu. Maafkan mama, telah membuat kalian cemas." jawab Karina dengan nada suara yang lancar tanpa terbata-bata menandakan dirinya benar-benar sudah lebih baik.


"Mama tak bohong kan?" tanya Putri menyela.


"Tentu. Lihatlah!" jawab Karina yakin beralih menatap Putri.


"Syukurlah ma, aku takut sekali." ucap Putri mendekati sang mama berlutut duduk di depan sang mama yang duduk di sofa, meletakkan kepalanya di pangkuannya. Karina tersenyum lembut sambil mengusap rambut Putri.


"Mama harus katakan pada kami jika merasakan keadaan mama tak baik?" ucap Al sebagai putra tertua.


"Tentu. Ada papamu yang menjaga mama setiap waktu. Iya kan sayang?" jawab Karina menoleh pada sang suami yang sejak tadi diam sambil memeluk pinggang istrinya posesif. Derian menatap sendu wajah istrinya.


"Kau harus menuruti apa kataku?" seru Derian meski hanya bercanda.


Semuanya pun tertawa senang. Arthur hanya tersenyum tipis sambil menatap sang mama.


"Iya sayang." ucap Karina lembut mencubit sagu suaminya gemas.


"Sekarang kita makan malam dulu yuk!" ajak Vio yang sejak tadi sibuk menyusui putrinya.


Semuanya pun beranjak ke meja makan yang sudah disediakan berbagai macam masakan untuk semua orang. Mereka menyuruh bibi penjaga villa untuk memasak makanan sehat untuk sang nyonya besar.


***


Setelah menghabiskan waktu di ruang keluarga, kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Semua orang sudah tidur di kamar masing-masing setelah ketegangan yang terjadi selama seminggu ini.

__ADS_1


Kini tinggal Karina, Derian dan Arthur. Entah kenapa Arthur masih ingin berlama-lama dengan sang mama, mengingat dirinya akan kembali disibukkan dengan tugas kantor saat dirinya nanti kembali ke kantor.


"Art..." panggil Karina lembut menatap putranya yang duduk di samping kirinya.


"Iya ma." jawab Arthur tak kalah lembut menoleh menatap sang mama.


"Kau punya kekasih?" tanya Karina hati-hati. Arthur awalnya terdiam.


"Tidak." jawab Arthur singkat.


"Kalau istri?" tanya Karina lagi membuat Arthur membelalakkan matanya terkejut.


"Apa maksud mama?" tanya Arthur masih dengan nada lembut.


"Mama tanya." jawab Karina masih menatap Arthur lekat.


Arthur berdecak kesal namun tak mungkin mengungkapkan kekesalannya pada sang mama tercinta.


"Aku tak punya kekasih, bagaimana aku punya istri jika kekasih saja tak punya." jawab Arthur lembut balas menatap sang mama lembut.


Karina masih terus menatap wajah putranya lekat seolah tak percaya dan tak puas dengan jawaban putranya.


"Sungguh ma, aku pasti akan mengenalkan dulu pada mama sebelum menikahi seseorang. Aku bukan anak sedurhaka itu untuk melupakan restu mama untuk pernikahanku." jelas Arthur, Karina menghela nafas berat.


"Mungkin ada orang yang kau sukai?" tanya Karina mengganti pertanyaannya.


"Jadi benar?" tanya Karina melihat raut wajah putranya berubah.


Arthur menundukkan kepalanya berpikir untuk menceritakan pada sang mama atau tidak.


"Sekarang sudah tidak." jawab Arthur menatap wajah sang mama tersenyum getir dan Karina melihat itu.


Diapun mengelus pundak putranya mencoba memberi penghiburan.


"Kau pasti masih sangat mencintainya." ucap Karina membuat Arthur tersentak, sontak menatap sang mama tak percaya.


Selalu dan selalu sang mama mengerti isi hatinya. Tanpa sadar air matanya mengalir meski tak terdengar.


"Kenapa kau tak mencarinya?" tanya Karina masih dengan nada lembut.


"Aku belum menemukannya ma, dia seperti hilang di telan bumi." jawab Arthur diiringi isakan tangisnya.


Derian hanya terdiam menyimak kedua orang yang dicintainya itu. Derian sudah mendengar cerita sang istri saat dia terbaring tidur selama seminggu kemarin. Derian sebenarnya juga tahu hal itu, namun dia harus mencari kemana jika wajahnya saja tak pernah melihat dan fotonya Arthur tak memiliki satu pun. Dan benar gadis itu benar-benar hilang tanpa jejak.


"Kau... tak melakukan sesuatu pada gadis itu kan?" tanya Karina ragu.

__ADS_1


Arthur mendongak menatap sang mama seolah tahu tentang hal yang dicoba untuk disembunyikannya dan dilupakannya.


"Itu...itu..." Arthur menjawab ragu, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya tampak merasa bersalah.


Dia seketika sudah mendongak karena tak tahu jawaban apa yang akan diberikan pada sang mama.


"Ah, sudah malam. Aku mengantuk ma. Aku mau tidur. Selamat malam mama." pamit Arthur buru-buru pergi dari situ kembali ke kamarnya demi menghindari pertanyaan sang mama.


Arthur merasa tak perlu menceritakan kebejatannya pada sang mama, bukan tak perlu, tapi bukan sekarang. Mungkin setelah gadis itu ketemu. Gadis yang telah memporak-porandakan hatinya.


Gadis yang meninggalkannya begitu saja di kamar yang ada di club malam saat ulang tahunnya. Saat masa kuliahnya dulu. Panggilan sang mama tak dihiraukannya.


"Art... Art..." seru sang mama. Derian langsung mengelus lengan istrinya mencoba menenangkan sang istri.


"Dia sudah dewasa, jangan menghakimi putramu. Dia harus tumbuh dewasa." ujar Derian.


"Dia sudah meniduri seorang gadis, dia harus bertanggung jawab. Bagaimana kalau gadis itu hamil dan mengandung cucu kita?" ucap Karina.


"Kalau gadis itu benar hamil, pasti gadis itu akan datang untuk meminta pertanggungjawaban. Tapi... tak ada." jawab Derian.


"Tapi sayang, bagaimana kalau itu terjadi. Dan..."


"Ssst.... Jangan terlalu banyak berpikir sayang, kata dokter kau harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak berpikir. Arthur sudah dewasa, dia pasti akan melakukan yang menurutnya baik. Kita sudah mendidiknya untuk menjadi anak baik." hibur Derian membuat Karina menghela nafas dan mau tak mau menuruti apa kata suaminya.


"Baiklah. Ayo kita tidur!" ajak Karina.


"Lebih dari tidur." bisik Derian lirih di dekat telinga istrinya.


"Baiklah."


"Benarkah?" Karina nampak memerah tersipu malu menundukkan wajahnya.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


. TBC


.


.


.


Maafkan typo

__ADS_1


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


__ADS_2