
"Ayah..." Ji An menghampiri tubuh lemah yang terbaring di ranjang ruang ICU dengan alat-alat yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan pria paruh baya itu.
Ji An sudah berganti dengan baju khusus yang disediakan rumah sakit. Dengan didampingi Arthur yang berdiri di samping Ji An yang mendekap erat jemari tangan tuan besar Kim sang ayah. Arthur mengelus pundak Ji An mencoba menghibur. Air mata Ji An tak bisa dibendung lagi.
Hampir lima tahun dia meninggalkan pria tua ini karena mengusirnya dalam kondisi hamil tujuh bulan yang tanpa diketahui siapa ayah kandungnya. Awalnya Ji An berpikir cukup mempercayakan pamannya untuk menemani ayahnya di sampingnya jika terjadi sesuatu hal yang diinginkan.
Namun nyatanya itu tak cukup. Banyak orang yang menginginkan kejatuhan sang ayah dari posisinya di perusahaan. Isakan terdengar di ruang ICU itu. Arthur tak sanggup bicara apapun selain mengelus lembut pundak sang kekasih dengan kasih sayang.
"Ayah, buka matamu, a.. aku sudah pulang ayah..." bisik Ji An terisak di samping tuan Kim yang masih setia berbaring dengan mata terpejam.
"Ayah... ayah..." suara isakannya kini berganti dengan tangisan yang menyayat hati.
Arthur merengkuh tubuh mungil itu, memasukkan ke dalam dekapannya. Berkali-kali mengecup puncak kepalanya lembut. Ji An tak bisa mengendalikan tangisannya. Dipeluknya erat tubuh kekar Arthur yang memberikannya kehangatan. Sangat hangat dan nyaman, hingga rasa sesak di dadanya kini berangsur membaik.
"Ayah Art... ayah..." bisiknya dalam pelukan itu.
"Serahkan semua pada dokter. Dokter akan menentukan tanggal operasi jika kondisinya stabil." jawab Arthur ikut berbisik lirih.
"Mama..." sela Matty dengan suara rendah merasa diabaikan kedua orang tuanya.
Ji An sontak menoleh merasa bersalah dengan mengabaikan putranya yang sejak tadi ikut masuk juga menemui kakeknya.
"Matt, dia Opamu."
"Opa?" Ji An mengangguk.
"Opa sakit?" tanya Matty lagi. Ji An hanya mampu mengangguk masih dengan air mata yang terus mengalir tiada henti.
**
Di ruang dokter.
"Bagaimana dok?" tanya Arthur yang sudah duduk di ruang pribadi dokter yang menangani ayah mertuanya dengan Ji An ikut duduk di sampingnya menyimak masih dengan wajah penuh kesedihan tak mampu bicara apapun.
__ADS_1
"Sangat kami sesalkan, sepertinya tuan besar Kim tidak bisa dioperasi dalam waktu dekat ini." dokter terlihat menghela nafas berat.
Ji An tampak semakin terisak menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang Arthur tak sanggup mendengar ucapan dokter. Arthur mengusap rambut Ji An dengan lembut memberi penghiburan.
"Tapi kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk operasi setelah kondisinya stabil. Sepertinya...." dokter melanjutkan ucapannya lagi namun terlihat ragu.
Arthur masih mendengarkan kelanjutan ucapan itu dengan penuh penasaran.
"Tuan besar Kim diberikan racun dosis rendah dalam jangka panjang. Dan itu bisa membuat tubuhnya perlahan semakin lemah. Apalagi beliau menderita penyakit ginjal yang sebelah sudah tidak berfungsi lagi. Dan sebelahnya lagi sedikit bermasalah karena racun itu. Itu akan semakin buruk jika tidak segera dilakukan penanganan." jelas dokter itu panjang lebar dan setelah itu menghela nafas panjang.
"Lakukan yang terbaik untuknya dok!" titah Arthur.
"Sangat akan berusaha semaksimal mungkin. Tolong urus dokumen administrasi perizinan operasinya, jika sesuai perkiraan saya, mungkin tiga hari lagi jika kondisinya memungkinkan. Beliau bisa langsung dioperasi." ucap dokter itu. Arthur hanya mengangguk mengiyakan.
**
Sung Hun berdiri dari tempat duduknya di luar ruang ICU tempat tuan dan juga sahabatnya dirawat. Tadi sebelum Ji An ke rumah sakit, dia sempat menghubungi pria paruh baya yang dipanggilnya paman itu. Sung Hun pun langsung berlari ke rumah sakit begitu mendengar berita menggembirakan itu.
Setelah cukup menemui tuannya, dia duduk di kursi depan ruang ICU menunggu sang nona muda untuk menyapa sebentar. Dia tadi sudah sedikit berbincang-bincang dengan asisten pribadi ayah tuan muda kecilnya setelah menemui tuan besar Kim.
Sung Hun tampak terkejut melihat pria muda tampan dan muda berjalan ke arahnya dengan tangan kirinya tak lepas dari bahu Ji An menenangkannya yang sejak tadi hanya bisa diam sambil terus air matanya mengalir.
"Anda..." lirih Sung Hun menatap Arthur tak percaya.
"Paman..." bisik Ji An saat mendapati Sung Hun. Ji An memeluk tubuh yang semakin lemah dan keriput itu.
"Ayah paman, ayah..." isaknya lagi saat berada dalam pelukan Sung Hun.
"Yang sabra nona, kita hanya bisa berdoa dan berusaha. Tuhanlah yang menentukan segalanya." ucap Sung Hun menghibur Ji An sambil mengelus punggung nona mudanya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Aku merasa bersalah paman, aku telah meninggalkannya terlalu lama. Aku... aku yang salah paman." ucap Ji An semakin deras saja air matanya mengalir.
"Stop baby, please. Everything it's okay." ucap Arthur tersenyum getir mendengar kekasihnya menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Nona harus kuat. Ini semua belum berakhir. Tuan muda Jung pasti tidak akan tinggal diam." ucap Sung Hun.
Ji An langsung melepaskan pelukannya menatap Sung Hun dengan pandangan mata tak terbaca.
"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi paman. Aku sudah mengurusnya." sela Arthur membuat kedua orang itu serentak menatapnya bersamaan meminta penjelasan.
Arthur mengajak keduanya duduk di bangku taman rumah sakit dengan duduk berhadapan. Ji An di samping Arthur dan Sung Hun duduk di seberang meja terpisahkan meja. Arthur mengatakan semua rencananya pada Sung Hun dan Ji An. Hal itu membuat Ji An melotot tak suka. Itu pasti akan membuat nama baik keluarga Arthur tercemar.
Dan Ji An tak mau hal itu terjadi. Namun Arthur mencoba memberikan penjelasan dengan hati-hati pada Ji An hingga dia akhirnya menyetujuinya asal semua baik-baik saja.
Arthur tersenyum, mengecup puncak kepala Ji An dengan penuh cinta. Sung Hun tersenyum bahagia melihat keintiman dua manusia itu.
"Art, bolehkah aku tetap disini menemani ayahku? Dan Matty aku titipkan padamu."
"Apa yang kau katakan, tentu saja kau bisa menemani ayah mertua sepuasmu. Dan Matty, aku akan menjaganya, dia adalah putra kita." ucap Arthur tersenyum senang.
Ji An juga ikut tersenyum. Dia pun beranjak menuju kamar dan ayah yang sedang koma dan entah kapan akan membuka matanya.
"Hamba memberi hormat pada tuan muda." lirih Sung Hun begitu mereka hanya berdua saja. Arthur berbalik menatap Sung Hun lama.
"Apa kabar paman?" sapa Arthur yang dibalas senyuman dari Sung Hun.
TBC
.
.
.
Maafkan typo
Beri dukungannya
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya