
"Sung Hun..." panggil Ji Sung menatap wajah sahabat sekaligus asisten pribadinya itu lekat.
Terpancar raut wajah kesedihan, kerinduan dan penyesalan dari mata tua itu. Kini Ji Sung sudah sadar dan duduk sambil menyandar di kepala ranjang. Keadaannya masih terlihat lemah. Sung Hun hanya menatap tuannya dalam diam.
Keadaan tuannya masih belum sepenuhnya stabil, dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya padanya. Dokter mengatakan untuk menjaga perasaannya dulu jangan sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Saat aku masih dalam keadaan tidak sadar, aku seperti mendengar suara putriku. Aku sangat merindukannya." ungkap Ji Sung dengan lelehan air mata yang sejak tadi sudah menggenang di matanya.
"Tuan..."
"Aku merasa bersalah karena telah mengusirnya dulu. Aku juga sangat merasa bersalah karena memaksakan kehendak untuk menjodohkannya dengan pria itu. Yang ternyata hanyalah bajingan tengik yang memanfaatkan hartanya." ungkap Ji Sung masih dengan mata berkaca-kaca menatap langit-langit kamar perawatannya mengungkapkan segala isi hatinya yang terpendam selama ini.
Setelah tragedi pengusiran putrinya yang hamil tanpa tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya, Ji Sung berkali-kali drop, kesehatannya menurun, ditambah lagi dengan penyakit ginjalnya yang semakin parah membuatnya semakin terpuruk. Dia telah menyesali ucapan spontannya pada putrinya itu.
__ADS_1
Meski sebenarnya setelah itu dia juga menyesalinya. Tiap pulang kerja dia selalu mengurung diri di ruang kerjanya menyesali perbuatannya. Namun dirinya merasa gengsi untuk meminta putrinya itu kembali ke rumah. Dia berharap putrinya itu sadar bahwa dirinya salah dan akan minta maaf padanya seperti dulu saat dirinya mengungkapkan perjodohan pada putrinya dengan tuan muda Jung demi menyatukan bisnis mereka.
Ji Sung yang tak mengira terhadap penolakan putrinya hingga putrinya kabur meninggalkan rumah entah kemana, hingga satu tahun berikutnya anak buah Hyung Jae menemukannya di NYC. Saat itu putrinya pulang dan meminta maaf padanya dan menyesali perbuatannya. Ji Sung sangat bahagia karena akhirnya putrinya tidak menolak lagi untuk melanjutkan perjodohan itu.
Namun sebulan sebelum pernikahan putrinya digelar. Ji Sung mengetahui kehamilannya yang sudah berusia tujuh bulanan dan tak diketahui siapa ayah bayi yang dikandungnya membuat Ji Sung murka. Ji An yang tak menuruti kemauan ayahnya untuk menggugurkan kandungannya spontan mengusir putrinya dengan dalih akan mencoretnya dari kartu keluarga jika dia tetap mempertahankan bayi itu.
Dan hal itu membuat putrinya memilih untuk meninggalkan rumah dari pada menggugurkan kandungannya. Ji Sung langsung menyesali kenekatan putrinya yang kabur. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meminta Sung Hun sang asisten kepercayaannya sekaligus sahabatnya di sekolah dulu untuk mengawasi dan menjaga putrinya tanpa mengatakan kalau itu adalah perintahnya.
Padahal dia akan mencari siapapun ayah kandung dari bayi yang dikandung putrinya itu jika dia mengatakan yang sebenarnya. Namun sampai akhir putrinya tak mengaku siapa pria itu. Bahkan putrinya memilih hidup menderita demi cucunya itu.
"Tuan... anda harus banyak istirahat!" jawab Sung Hun memilih untuk tak mengatakan yang sebenarnya.
Ji Sung langsung tersadar dari lamunannya saat dirinya mengusir putrinya itu dulu.
__ADS_1
"Apa dia telah memaafkanku?" ucap Ji Sung menatap Sung Hun seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Sung Hun terlihat cemas menatap tuannya itu.
"Tuan, sejak dulu nona muda tak pernah marah pada tuan besar. Nona selalu menanyakan kabar anda setiap saya menemuinya. Pasti dalam lubuk hatinya dia juga sangat merindukan tuan." hibur Sung Hun membuat Ji Sung tersenyum dan sedikit terlihat lega.
Raut wajahnya sudah berubah sedikit bersinar seperti mendapatkan energi positif.
"Cucuku, bagaimana dengan cucuku?" tanya Ji Sung antusias.
Selama ini dia tak menemuinya secara langsung, hanya sesekali melihatnya dari jauh. Juga Sung Hun selalu mengirimkan foto pertumbuhan cucunya saat perkembangan cucunya. Dan hatinya selalu menghangat saat melihat foto cucunya yang sudah mulai masuk sekolah taman kanak-kanak.
"Tuan muda kecil sangat sehat dan baik-baik saja tuan. Tuan, anda harus istirahat!" pinta Sung Hun.
"Aku tak sabar untuk menemui cucuku secara langsung." Sung Hun terlihat menghela nafas berat.
__ADS_1