Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 40


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk!" Titah suara dari dalam kamar.


Pelayan mansion ibunya membuka, wanita paruh baya itu langsung menunduk memberi hormat.


"Makan malam sudah siap tuan muda, semua orang sudah menunggu anda." Ucap wanita paruh baya itu. Dia adalah istri kepala pelayan yang bertanggung jawab untuk urusan dapur.


"Aku akan segera turun." Jawab Davin merapikan kemejanya.


Setelah ibunya membatalkan pertemuan makan malam dengan keluarga yang dijodohkan dengannya, Davin mengganti pakaiannya dengan pakaian casual rumahan. Dia memang tak berencana untuk pergi kemanapun.


***


"Kau sudah datang Matt?" Sapa sang ibu tersenyum senang melihat putranya muncul.


Di meja makan hanya ada kedua orang tuanya. Adik kembarnya katanya ada urusan. Adiknya masih di asrama sampai wisuda.


"Selamat malam ibu." Davin mengecup kening ibunya lembut dan hanya menatap papanya datar. Begitu juga Arthur menatap Davin. Setelah Davin memutuskan untuk mengurus perusahaan keluarganya, hubungan Arthur dengan putra sulungnya itu sedikit jauh.


"Maaf tuan besar, nyonya besar." Interupsi wanita paruh baya yang memanggil Davin tadi. Davin sendiri nampak acuh memilih untuk mengambil makanannya meski orang tuanya belum memulainya.


"Ya bi!" Jawab Ji An ramah menatap wanita paruh baya itu.


"Ada tamu tuan muda Matty di depan?" Sontak kedua orang tua Davin langsung menoleh serempak ke arah Davin yang hanya mendongak mendengar nama depannya disebut.


Ya, Davin dalam keluarganya di Kore* terkenal dengan nama depannya berbeda jika dia pulang ke tanah air kakeknya.


"Siapa?" Tanya Arthur mewakili semua orang disitu.


"Selamat malam bibi, selamat malam paman." Sapa seorang gadis yang tiba-tiba muncul dengan bahasa Kore* yang khas.


"Su Jin?" Ucap Ji An melihat seorang gadis yang sudah biasa datang ke mansion mereka.


Setelah dulu kecil banyak membantu Ji An dan Matty kecil. Ji An memberikan pekerjaan yang lebih baik pada keluarga Su Jin, karena bagaimanapun juga Ji An sangat terbantu saat mereka kesulitan dulu. Hingga akhirnya Ji An menganggap Su Jin seperti keluarganya sendiri dan dia bebas datang ke mansionnya kapanpun.

__ADS_1


Bahkan kadang keluarganya sering ikut makan malam bersama atas ajakan Ji An. Jadi kedua keluarga tersebut seperti keluarga meski keluarga Su Jin sedikit menjaga jarak.


"Ayo ikut makan malam bersama kami!" Ajak Ji An diikuti wanita paruh baya tadi menunjukkan tempat duduk di kursi meja makan.


Ji An memang sengaja mengundang Su Jin untuk menghibur putranya yang terlihat tidak bersemangat. Karena Su Jin satu-satunya teman Davin saat masih kecil dulu. Dan Davin entah menganggap Su Jin apa, tapi perlakuan Davin pada Su Jin tidak pernah mengecewakan.


"Baik bibi." Su Jin duduk di kursi meja makan di depan Davin. Su Jin mencuri-curi pandang pada pria teman sekelasnya dulu sampai mereka sekolah menengah, namun setelah masa kuliah Davin memilih untuk melanjutkan ke negara asal papanya. Dan mereka pun berpisah, hanya sesekali bertemu jika Davin berkunjung ke mansion ibunya di Kore*.


"Hai Matt!" Sapa Su Jin tersenyum ramah saat Davin menatapnya. Namun tampaknya Davin sedang badmood dan tidak menjawab sapaan Su Jin.


Su Jin hanya tersenyum, dia hapal betul watak Davin. Kalau dia tak menjawab sapaannya, itu artinya dia memang sedang tidak ingin diajak bicara. Dan satu-satunya cara Su Jin akan terus diam dan menunggu sampai Davin mengajaknya bicara.


Mereka pun akhirnya melanjutkan makan malam bersama. Su Jin berkali-kali mencuri pandang pada Davin yang tidak begitu bernafsu makan. Terlihat di piringnya masih banyak makanan dan dia hanya mengaduk-aduknya. Kedua orang tuanya sudah pamit meninggalkan Davin dan Su Jin berdua.


"Apa kabar Matt?" Sapa Su Jin menatap Davin dengan senyumnya. Davin juga menatap Su Jin yang menatapnya dengan pipi bersemu merah.


"Baik." Jawab Davin singkat meletakkan sumpitnya dan beranjak meninggalkan meja makan.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Ajak Su Jin sebelum Davin melangkah. Davin hanya mengangguk.


***


"Oh ya, kemarin lusa aku ikut kencan buta. Dan ternyata dia teman SMU kita. Namanya Do Jo. Kau masih ingat?" Tanya Su Jin basa-basi memecah keheningan diantara keduanya. Davin hanya terdiam.


"Dan kau tahu apa yang dikatakannya padaku?" Su Jin tertawa menoleh menatap Davin yang hanya tetap terdiam, namun Su Jin tahu Davin mendengarkannya.


"Apa Matt sudah menceraikanmu sehingga kau kencan buta? Aku sungguh tak habis pikir mendengarnya. Mereka ternyata mengira kita adalah pasangan dan telah bercerai... haha..." Ucap Su Jin sambil tertawa menatap ke depan. Davin langsung bereaksi menoleh menatap Su Jin mendengar namanya disebut.


"Bohong." Ucapan Davin membuat Su Jin terdiam.


"Akhirnya kau bicara. Kau selalu tahu kalau aku berbohong." Jawab Su Jin santai. Senyumannya tadi perlahan menghilang.


"Ada sesuatu yang tak bisa kukatakan." Jawab Davin.


"Tak apa. Asal jangan murung terus. Itu membuatku bodoh sebagai seorang teman." Jawab Su Jin menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Terima kasih." Su Jin mengangguk.


"Oh ya, kau tahu... orang tuaku ingin menjodohkanku." Ucap Su Jin yang pandangannya masih ke arah depan.


"Oh ya?"


"Awalnya aku menolak, aku bukan anak kecil yang mau dijodoh-jodohkan. Namun karena mereka masih melihatku melajang di usia matang membuat mereka cemas."


Davin masih diam belum merespon.


"Kau tahu dengan siapa aku dijodohkan?" Su Jin menoleh menatap Davin yang juga menatapnya.


Davin memang sangat menghargai teman kecilnya itu. Sejak kecil hanya Su Jin yang selalu ada untuknya. Maka dari itu sampai sekarang Davin sangat menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri.


"Pria itu..." Su Jin tidak melanjutkan ucapannya karena bersamaan ponsel Davin berdering. Davin langsung bergegas meninggalkan Su Jin untuk menerima panggilan dari Fero, asistennya.


"Ya?"


"Tuan muda, pengacara memberi kabar kalau nona Davi masih belum menanda tangani berkas perceraian kalian."


"Lakukan bagaimana pun caranya!" Titah Davin meski sebenarnya hatinya ragu.


"Dan ayah nona Davi datang ke perusahaan untuk bertemu dengan anda."


"Kau tahu aku sedang tidak di tempat."


"Saya sudah mengatakannya, tapi beliau datang setiap hari."


"Huff... biarkan saja!"


Davin menghela nafas panjang menatap ponselnya yang sudah ditutup. Davin menimbang-nimbang apa yang diinginkan ayah mertuanya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan mertuanya. Tidak, bahkan dia belum meminta restu atas pernikahan paksanya terhadap putri mereka.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2