
Hosh...hosh... hahah...
Seorang gadis berlari memasuki gedung perkantoran dengan langkah tergesa. Sambil melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima menit. Dia semakin mempererat larinya hingga sampai di depan lift yang kebetulan hampir saja tertutup.
"Tunggu ... tunggu...tolong hentikan liftnya." teriak gadis itu yang entah jari tangan siapa menghalangi pintu lift itu agar tetap terbuka.
"Terima kasih." ucap gadis itu sambil membungkukkan badan dengan nafas yang terengah.
Pria muda yang berdiri di samping gadis itu hanya terdiam dengan wajah datarnya. Fero sang asisten yang berdiri di belakang pria muda itu melirik tuannya yang tak terganggu dengan kedatangan orang lain di dalam lift yang sama dengan mereka hanya terdiam. Dia ingin bicara namun diurungkan. Toh, tuannya tak terganggu dan tuannya yang menghentikan pintu lift itu atas inisiatifnya sendiri.
Lift berhenti di lantai lima dan terbuka. Gadis itu pun keluar dari lift itu. Tak lupa dia berpamitan dan sekali lagi berterima kasih kembali yang tentu saja tak dijawab oleh pria muda itu. Hingga pintu lift tertutup, pandangan mata pria muda itu bertemu dengan tatapan mata gadis itu terlihat begitu cantik dan mempesona.
Pria itu sesaat terpesona, baru kali ini dia melihat senyum tulus yang begitu manis di wajah seorang gadis setelah ibunya. Namun pintu lift terbuka tertutup membuat pandangan mereka terputus. Pria itu langsung berdehem menetralkan degup jantungnya.
"Fero..." Fero yang sejak tadi fokus pada tabletnya tersentak mendengar panggilan tuannya.
"Ya tuan."
"Buatkan aku janji dengan dokter dalam minggu ini!" titah pria itu sambil memegang dadanya yang semakin berdetak kencang.
"Ya? Apa anda baik-baik saja tuan? Bagian mana yang sakit?" sontak Fero cemas dan panik spontan dia berdiri mensejajarkan pada tuannya menatap intens.
"Tidak sakit. Tapi entahlah. Bagian dadaku berdetak kencang." jawab pria itu entah kenapa dia malah tersenyum senang merasakan hal itu.
"Apa separah itu tuan? Apa sekarang saja kita ke dokter dan membatalkan meeting pagi ini?" tanya Fero semakin cemas.
"Tidak. Buatkan jadwalnya saja!" titah pria itu tegas. Dan bersamaan dengan itu pintu lift terbuka.
"Baik tuan." Fero menunduk mengikuti langkah tuannya yang menuju ke ruangannya.
**
"Febi, kau sudah menyiapkan bahan meeting pagi ini?" tanya Fero sekretaris tuannya.
"Sudah pak, ini. Silahkan!" Febi menyerahkan sebuah map merah pada Fero.
"Terima kasih." Fero tersenyum dan masuk ke dalam ruangannya.
**
__ADS_1
"Selamat pagi." sapa gadis tadi yang masuk ke dalam ruang HRD bagian personalia.
"Selamat pagi." jawab seorang wanita paruh baya menatap gadis yang baru masuk ruangannya.
"Saya Davina Mayang Sari. Saya kemarin mendapat panggilan diterima bekerja di perusahaan ini sebagai sekretaris." jelas gadis tadi membungkukkan badan memberi hormat.
"Oh... tentu. Masuklah! Silahkan duduk ... ehm...!" ucap wanita paruh baya itu mempersilakan Davina duduk.
"Panggil saja Davi." jawab Davi.
"Oh tentu. Selamat datang Davi. Saya Bu Ani kepala bagian HRD. Kau akan menjadi sekretaris direktur mengganti Febi yang akan mengundurkan diri karena hamil." jelas wanita yang dipanggil Bu Ani itu.
"Terima kasih Bu."
"Silahkan baca kontrak kerja kamu dan tanda tangan di tempat yang disediakan. Kalau ada yang tidak mengerti silahkan ditanyakan." jelas Bu Ani.
Davi meraih berkas kontrak itu dan membacanya dengan teliti setiap detailnya. Tak ada sesuatu yang memberatkannya bahkan sangat mensejahterakan karyawan pada surat kontrak itu. Davi langsung menandatangani kontrak itu dan menyerahkan pada Bu Ani. Dan dia menerangkan segalanya tentang kontrak dan sistem kerja di perusahaan tempatnya kerja pertama kali itu.
Davi sangat senang sekali. Ini adalah pengalaman pertama kerjanya setelah lulus kuliah. Dulu dia pernah magang menjadi asisten sekretaris juga di kantor dekat kampusnya dan mendapat nilai yang memuaskan.
Kini Davi pergi ke ruangan sekretaris yang akan digantikannya. Dengan diantar oleh sekretaris Bu Ani.
"Permisi mbk Febi." sapa Ina sekretaris Bu Ani.
"Dia..." Febi menatap Ina.
"Dia sekretaris baru yang akan menggantikan anda mbak." jelas Ina yang diangguki Febi.
"Oh, terima kasih Ina." Ina pun pamit meninggalkan Febi dan Davi.
Davi diberikan kursi di dekat Febi agar bisa mempelajari apa saja yang harus dikerjakan oleh Davi. Setelah basa-basi perkenalan. Febi menyambut Davi dengan baik. Febi dengan sabar menjelaskan segala pekerjaan Davi sebagai sekretaris direktur.
Febi juga mengatakan semua kepribadian sang direktur yang harus diketahui Davi agar tidak terjadi kesalahan dan membuat direktur marah dan berakhir tidak puas sampai memecatnya nanti suatu hari. Namun setahu Febi, direkturnya bukan pria muda yang rewel seperti kebanyakan direktur kaya. Malah terkesan sangat sederhana meski kekayaannya melebihi orang terkaya di kota ini.
"Kau sudah mengerti?" tanya Febi yang diangguki Davi.
Davi termasuk anak yang cerdas. Dia langsung mengerti apa saja yang dijelaskan oleh Febi, meski sesekali dia bertanya karena masih ragu dengan pekerjaannya. Selama satu minggu ke depan Febi akan membimbingnya sebelum mengundurkan diri karena melahirkan. Dan suaminya sudah tak mengizinkan lagu untuk bekerja.
"Sekarang mari ku perkenalkan dengan pak direktur!" ajak Febi masuk kedalam ruangan direktur sambil memberikan jadwal kegiatannya hari ini.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk!" seru suara berat yang terdengar dari dalam. Febi membuka pintu ruangan direktur.
"Selamat pagi pak. Saya ingin menunjukkan jadwal anda hari ini." jelas Febi.
"Hmm." jawab pria muda itu tanpa menatap Febi masih sibuk dengan keyboard laptopnya.
Febi mulai menjelaskan satu persatu jadwal direkturnya. Hanya deheman yang dijawab oleh direktur itu dan Febi sudah terbiasa dengan kelakuan direkturnya. Davi melirik pria muda yang tak menatapnya sama sekali itu. Dan dirinya pun terkejut melihat siapa pria yang dimaksud direkturnya itu.
Sontak Davi menutup mulutnya karena hampir saja keceplosan saat mengingat kejadian di dalam lift tadi. Davi melirik meja kerja pria itu, tertera pada papan nama Davino Mattew Aftano,CEO.
Sekali lagi Davi menutup mulutnya setelah membaca nama papan nama itu yang nama depannya hampir mirip dengan namanya. Daebak, batin Davi terkejut namun hanya dalam hati.
"Pak..." panggil Febi.
"Kalau sudah silahkan keluar!" bukannya menjawab panggilan Febi, direktur malah mengusir Febi dari ruangannya.
"Saya ingin memperkenalkan seseorang yang akan menggantikan saya setelah mengundurkan diri pak." tegas Febi yang langsung mendapat tatapan datar dari atasannya ini.
Davin melirik Febi dan seseorang yang ada di sampingnya yang tengah menatap sekeliling ruangannya. Sontak Davin memegang dadanya yang kembali berdegup kencang. Namun Davin langsung mengendalikan debaran di dadanya.
"Siapa?" tanya Davin berdehem meredakan degup di dadanya.
"Silahkan Davi!" bisik Febi.
"Perkenalkan pak. Nama saya ... ehm...Davina panggilan saya Davi. Saya yang akan menggantikan mbak Febi menjadi sekretaris bapak." ucap Davi dengan lancar meski agak kaku saat menyebut namanya yang hampir sama dengan nama CEO nya itu.
Davin tertegun. Entah kebetulan atau apa nama panggilan mereka hanya beda bagian belakang saja. Davin tersenyum tipis namun segera beralih wajah datarnya. Febi sempat melihat senyum tipis itu karena paham arti dari senyuman itu.
"Baiklah pak, saya akan membimbingnya selama seminggu kedepan. Kami undur diri." ucap Febi yang diangguki Davin tanpa menjawab apapun.
TBC
Hai...hai... pembaca..
Up season 2.
jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏