Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 14


__ADS_3

Tit tit tit tit tit tit, suara pintu hotel dibuka dengan password. Ji An langsung beranjak ke arah pintu. Dia akan memohon pada Arthur untuk diizinkan pulang. Dia ingin menemui putranya. Bagaimana pun juga dia sudah meninggalkannya dua hari satu malam.


Meski putranya terlihat dewasa daripada usianya tetap saja dia masih kecil. Masih membutuhkan dirinya sebagai wali atau sebagai ibunya. Dia tak mungkin terus-terusan menitipkan putranya pada mama Su Jin karena tidak mau merepotkannya.


Cklek


Suara handel pintu dibuka, muncul Arthur dengan wajah terlihat lelah dan dingin. Tatapan langsung bersirobok dengan tatapan mata Ji An yang sudah berdiri di balik pintu seolah sedang menunggu kedatangannya.


Mereka saling menatap lama, Arthur tak bicara apapun, dia langsung melepas jasnya terus membuka kemejanya untuk masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.


"Art..." panggil Ji An yang tak dihiraukan Arthur.


Arthur mendiamkannya, bersikap dingin padanya, entah apa kesalahannya. Padahal saat baru bertemu dia sangat lembut kemarin. Batin Ji An bertanya-tanya. Ji An duduk di tepi ranjang menunggunya.


Tak sampai lima belas menit Arthur keluar kamar mandi hanya dengan berbalut selembar handuk di tubuhnya. Dia menatap Ji An yang juga menatapnya, wajah Ji An memerah menatap tubuh Arthur yang bertelanjang dada. Ji An meneguk ludahnya kasar, namun segera dikendalikannya.


"Art, izinkan aku pulang. Kumohon!" ucap Ji An membuang rasa malunya menatap Arthur lekat dengan tatapan penuh permohonan.


"Ada apa?" tanya Arthur santai sambil memakai pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Ji An.


"Aku harus pulang. Please.." mohon Ji An.


"Kau.... ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Arthur memancing. Ji An langsung gelagapan dan gugup.


"I...itu ... A... aku..."


"Aku tak akan memaafkanmu jika kau berani menyembunyikan sesuatu dariku. Kau tahu aku benci kebohongan." telak Arthur membuat Ji An diam tak bisa berkata-kata.


Tubuh Ji An menegang, mengurungkan niatnya untuk izin pulang menemui putranya.


"Kau sudah makan malam?" tanya Arthur lagi melihat Ji An terdiam.


"Ji An..." Arthur memanggil lagi kali ini sambil menyentuh pundak Ji An yang membuatnya tersentak terkejut dan langsung menatap Arthur yang menatapnya lekat seolah mengetahui kebohongannya.


Seharusnya aku tahu, tak ada yang bisa kusembunyikan darimu. Kau memang harus tahu yang sebenarnya. Bagaimana pun juga kau adalah ayah kandung putraku, suatu saat putraku pasti akan menanyakanmu. batin Ji An menatap Arthur mencari celah agar Arthur tak marah padanya hingga mengambil putranya dan memisahkan kami.


"A... aku...." belum selesai Ji An bicara, pintu diketuk. Arthur langsung menuju pintu.


"Ya, Zein..." Arthur menatap Zein yang terlihat cemas.


"Tuan muda memaksa untuk pulang karena tak mendapati mamanya ada di kamar tuan."jelas Zein menundukkan kepalanya.


"Aku akan kesana." jawab Arthur, Zein mengangguk dan pergi. Arthur masuk menatap Ji An yang masih merasa bersalah.


"Aku pergi dulu." pamit Arthur.

__ADS_1


"Tunggu! Bagaimana dengan permintaanku?" tanya Ji An menahan lengan Arthur dengan wajah penuh harap.


"Tidak." jawab Arthur tegas meninggalkan Ji An sendiri.


Arthur pergi dengan membawa ponselnya. Ji An terduduk lemas di tepi ranjang. Mengusap wajahnya kasar, meraih ponselnya dan mencoba menghubungi putranya, namun ponselnya tidak aktif. Ji An semakin cemas dan panik. Dia mondar-mandir kesana-kemari di kamar dengan wajah penuh kecemasan.


Ingin dia melarikan diri dari kamar itu namun pengawal masih tetap berjaga di luar pintu kamar hotel. Dan Arthur entah kemana tak segera kembali. Ji An semakin frustasi saja. Ji An mencoba menghubungi putranya lagi namun lagi-lagi ponselnya tak aktif. Dia beralih menghubungi mama Su Jin, berharap putranya bersama keluarga itu.


Dalam percakapan ponsel :


Mama Su Jin : "Ji An ah..."


Ji An : "Mama Su Jin, halo... apa Matty bersamamu?"


Mama Su Jin : "Tidak, dia pulang tak kemari. Kukira karena kau sudah pulang. Dia bahkan tak mampir saat pulang dari sekolah."


Ji An : "Apa?"


Mama Su Jin : "Apa terjadi sesuatu?"


Ji An : "Sebenarnya.....bla bla bla dan bla bla..."Ji An menceritakan semuanya pada mama Su Jin tentang pertemuannya dengan papa Matty sampai hari ini dia terpaksa menghubungi mama Su Jin.


Mama Su Jin : "Akan kutanyakan pada Su Jin sebentar...


"Dia pergi dengan seorang pria dewasa, entahlah!" jawab Su Jin masa bodoh, apalagi sekarang dia sedang bermain dengan Barbie kesayangannya.


"Kau yakin?"


"Ya eomma..."


Mama Su Jin : "Kau dengar kan jawaban Su Jin?"


Ji An menutup panggilannya. Dia semakin cemas saja. Dia membuka pintu kamar hendak keluar tapi ditahan oleh para pengawal.


"Aku mau pergi!" teriak Ji An berontak karena kedua tangannya dicekal para pengawal.


"Nona, mohon tetap di dalam."


"Lepaskan aku!" Ji An tetap berontak meski percuma, dia tak mungkin bisa melepas cekalan tangan para pengawal yang berbadan besar dan kekar itu.


"Ada apa ini?" suara bariton Arthur membuat para pengawal menundukkan kepalanya memberi hormat pada tuannya.


"Tuan..." sahut mereka bersamaan.


Ji An sontak menghentakkan cekalan tangan para pengawal mendekati Arthur, menangkupkan kedua tangannya di dada memohon pada Arthur.

__ADS_1


"Art, please, izinkan aku pulang. Aku akan kembali setelah pulang dan memastikan hal yang kucemaskan baik-baik. Kumohon!" pinta Ji An memelas.


"Semua pergi!"


"Baik tuan." para pengawal meninggalkan mereka berdua termasuk Zein yang tadi mengikuti tuannya.


"Art, please." Ji An mulai menangis berharap Arthur mendengar permohonannya.


"Siapa yang ingin kau temui?" tanya Arthur setelah keduanya masuk ke dalam kamar.


"Kumohon, dia sangat penting untukku. Izinkan aku sebentaaarr... saja." pinta Ji An.


'Kau bahkan tak mengatakan dengan jelas alasanmu. Sampai kapan kau akan menyembunyikannya Ji An.'batin Arthur.


"Apa jaminannya kau tak akan kabur lagi?" tantang Arthur, dia sedikit marah pada Ji An karena membohonginya tentang putra mereka padahal dia sangat bahagia benih yang ditanamnya telah menghadirkan malaikat kecil yang selalu muncul dalam mimpinya itu.


"Apapun, apapun yang kau inginkan. Akan kulakukan." jawab Ji An putus asa.


"Ikut aku!" titah Arthur keluar kamar diikuti Ji An, dia mengusap air matanya yang menetes di pipinya.


Arthur membuka pintu kamar hotel yang ada di sebelah kamarnya. Ji An hanya mengikuti langkah Arthur yang entah membawanya kemana. Mata Ji An membelalak melihat ke arah tempat tidur, terdapat pria kecil yang tertidur pulas di ranjang dengan wajah polosnya.


"Matty..." lirih Ji An mendekati ranjang namun Arthur menahannya dan menarik pergelangan tangan Ji An keluar kamar kembali ke kamar mereka.


"A...aku ingin menemuinya. Please. Dan kenapa dia ada disini?" tanya Ji An kebingungan.


"Sampai kapan kau akan menyembunyikannya Ji An? Sampai kapan kau akan jujur padaku?" tanya Arthur mengintimidasi.


"I...itu...A...aku... Bukannya aku... Biarkan aku menyapanya Art, please..." Ji An memohon lagi.


Arthur melengos membelakangi Ji An, dia marah ya dia marah karena Ji An menyembunyikan putra mereka. Ji An langsung berlutut memohon dengan mendekap kaki Arthur.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2