Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 26


__ADS_3

Ji An berdiri gelisah di depan ruang operasi, sudah hampir lima jam, lampu operasi itu menyala. Dan belum ada tanda-tanda akan dimatikan. Dan itu artinya operasi masih terus berjalan. Sung Hun mencoba menenangkan nona mudanya untuk tetap tenang dan duduk dengan nyaman agar istirahat.


Tapi, sepertinya hal itu tidak digubris sama sekali oleh Ji An. Hatinya tetap tak tenang untuk duduk diam. Arthur harus mengurus beberapa pekerjaannya, sehingga dia tidak bisa ikut menunggui operasi ayah mertuanya. Jika bukan kepentingan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan, Arthur pasti akan memilih untuk menemani calon istrinya daripada mengurus pekerjaannya.


Itulah sebabnya dia meminta paman Sung Hun untuk menemani calon istrinya. Tanpa diminta Arthur, Sung Hun pun memang berniat menunggui operasi tuan besarnya sekaligus sahabatnya itu.


"Nona, duduklah, tenangkan diri anda!" bujuk Sung Hun untuk kesekian kalinya dan untuk kesekian kalinya ditolak dengan halus oleh Ji An.


Dia masih tetap berjalan mondar-mandir kesana-kemari. Gelisah resah menyelimuti dirinya, mulutnya tak henti-hentinya komat-kamit mendoakan sang ayah agar operasinya lancar.


"Sayang .." panggil Arthur yang datang ke rumah sakit saat jam makan siang.


Ji An dan Sung Hun sontak menoleh bersamaan melihat suara Arthur yang baru tiba.


"Sayang..." Ji An menghambur memeluk Arthur, mencoba mencari ketenangan dengan berada dalam pelukannya.


"Kau harus tenang baby!" hibur Arthur mengajak duduk di bangku depan ruang operasi.


Ji An menurut masih dalam pelukan Arthur, terdiam agak lebih tenang karena kehadiran calon suaminya.


Setelah satu jam kedatangan Arthur, lampu operasi padam. Ji An segera berlari menghampiri dokter yang sudah muncul dari dalam ruangan. Arthur mengikuti di belakangnya begitu juga Sung Hun.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Ji An antusias.


Dokter menatap ketiganya bergantian setelah itu dia menghela nafas panjang. Ketiganya terlihat tegang dengan penjelasan yang akan dokter berikan.


"Syukurlah, operasi berjalan lancar." ucap dokter itu membuat ketiganya bernafas lega.

__ADS_1


Tampak senyum mengembang di bibir ketiganya mengucapkan syukur berkali-kali.


"Saya akan memindahkan di ruang perawatan. Anda bisa menemuinya nanti." jelas dokter itu lagi tersenyum ramah.


"Terima kasih dok." jawab Ji An antusias. Dokter meninggalkan ketiganya. Ji An langsung memeluk tubuh Arthur erat.


"Terima kasih sayang, terima kasih. Semua ini karenamu." ucap Arthur dalam pelukan itu.


"Apapun untukmu baby..." bisik Arthur lembut membuat Ji An tersipu mendengar kata-kata manis Arthur.


"Syukurlah nona, terima kasih tuan muda." ucap Sung Hun.


Arthur hanya tersenyum, pamannya itu tetap memaksa untuk memanggilnya tuan muda padahal dia adalah kakak sepupu mamanya. Namun dia tetap memanggil begitu karena bagaimanapun juga, Arthur adalah calon suami nona muda yang dilayaninya. Arthur tak bisa menyangkal lagi. Dia tahu pamannya itu keras kepala seperti sang mama.


**


Kedua orang tuanya melarangnya untuk ikut ke rumah sakit karena lingkungan di rumah sakit terus-terusan itu tidak baik untuk putra mereka dan disinilah sekarang Matty, di dalam kamar hotel sendiri meski banyak pengawal yang menemani.


"Maaf tuan muda kecil, tuan muda tidak mengizinkan anda untuk berada di rumah sakit. Mereka meminta anda menunggunya di sini dan akan segera kembali jika urusan di rumah sakit selesai." jelas salah seorang pengawal yang memimpin.


"Aku bosan." keluh Matty menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa kamar melemahkan tubuhnya tanpa semangat sama sekali.


Pasalnya dia terkurung sejak pagi tadi di dalam kamar. Meski banyak mainan dan makanan serta camilan yang tersedia, dia benar-benar bosan kali ini. Bahkan dia sudah sempat tertidur di tengah-tengah permainannya.


"Maaf tuan muda kecil." jawab pemimpin pengawal itu menunduk menyesal.


"Aku mau jalan-jalan ke luar!" seru Matty lagi.

__ADS_1


Pemimpin pengawal itu tampak berpikir, tapi dia tidak berani membuat keputusan.


"Saya akan meminta izin pada tuan muda." jawabnya akhirnya.


Dia menghubungi Arthur berharap bisa memberikan izin untuk membawa tuan muda kecil namun ponsel Arthur tak bisa dihubungi. Berkali-kali pemimpin itu menghubungi namun belum juga tersambung.


"Paman-paman, ayolah! Sebentar saja. Kita akan kembali sebelum papa datang. Ayolah, aku bosan paman!" seru Matty bergelayut sambil menggoyang-goyangkan tak sabaran di jemari tangan pemimpin pengawal itu.


Pemimpin pengawal itu tampak berpikir, melirik teman-teman pengawalnya untuk meminta pendapat. Namun hanya kedikan kedua bahu mereka sebagai tanda tak bisa memberikan pendapat karena mereka tak berwenang.


"Baiklah, tuan muda tapi hanya sampai papa anda kembali?" ucap pemimpin pengawal itu yang diangguki Matty dengan sangat antusias. Senyum mengembang di wajah tampannya.


"Ayo paman!" Matty menarik jemari tangan pemimpin pengawal itu yang digelayutinya tadi berjalan ke luar kamar mengikuti tuan muda kecilnya.


Semua pengawal hanya menurut dan menjaga sang tuan muda kecil kemanapun langkahnya meski masih berada di sekitaran hotel.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri like, rate dan vote nya

__ADS_1


Beri dukungannya


__ADS_2