
"Jadi?" Tanya Davin kini hanya berhadapan dengan Su Jin teman kecilnya. Mereka memutuskan untuk bicara empat mata berdua saja di meja terpisah dengan para orang tua.
"Maaf." Jawab Su Jin merasa bersalah membohongi Davin yang sudah menganggapnya seperti adiknya.
Davin terlihat menghela nafas panjang.
"Aku yang mengajukan diri." Jawab Su Jin lagi membuat Davin mengernyit.
"Kau tahu benar aku hanya menganggapmu seperti adikku sendiri seperti si kembar dan Ji Won." Ucap Davin sambil menyeruput kopinya.
Su Jin terdiam. Dia menunggu Davin menyelesaikan kalimatnya.
"Maaf, aku tak bisa melanjutkan perjodohan ini." Sambung Davin.
"Kenapa? Kau beberapa hari ini murung, bahkan kau yang selalu menceritakan apapun pada teman kecilmu ini, kau enggan."
"Bukannya aku tak mau cerita. Aku belum siap." Jawab Davin menatap Su Jin datar.
"Aku mendengar tentang perjodohan itu dari bibi. Setiap hari bibi mengeluh pada ibuku kapan putraku akan menikah. Saat aku berpikir salah satu si kembar itu tidak mungkin karena mereka masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Dan aku langsung terpikirkan kamu." Su Jin menjeda ucapannya. Davin terdiam.
"Aku pun mengajukan diri untuk dijodohkan denganmu dan melihat reaksi mu. Dan bibi menyetujuinya. Dia berpikir kita sudah saling mengenal sejak kecil, dan bibi berpikir kita adalah pasangan yang cocok dan mungkin bisa langsung saling menerima." Su Jin menjeda lagi kalimatnya menunggu reaksi Davin yang masih tetap sama. Su Jin menghela nafas panjang, dia memang memiliki perasaan lebih pada teman masa kecilnya ini. Namun dia tak mau pertemanan mereka menjadi canggung jika dia menyatakan perasaannya.
"Sebelumnya, bolehkah aku tahu alasanmu menolak perjodohan orang tuamu?" Tanya Su Jin penuh harap.
"Aku sudah menikah."
"Oh...apa?" Seru Su Jin menatap Davin terkejut.
"Kau bilang apa tadi?" Tanya Su Jin sekali lagi memastikan pendengarannya tidak salah.
"Aku sudah menikah dengan wanita yang kucintai. Dan sekarang dia sedang hamil anak kedua kami." Jawaban Davin membuat dada Su Jin sesak namun dia mencoba untuk mengendalikan perasaannya kecewanya.
"Lalu? Kenapa kau tak mengatakan pada orang tuamu?" Tanya Su Jin menyeruput kopinya yang mulai dingin dengan tak bersemangat.
"Kami sedang dalam proses perceraian."
__ADS_1
"Apa?" Lagi-lagi Su Jin dibuat terkejut dua kali oleh pria di depannya ini. Dia tak habis pikir.
*Bukankah tadi dia mencintai istrinya?
Dan juga, bukankah istrinya sedang hamil juga?
Tapi dia bilang sedang proses perceraian*?
Batin Su Jin bertanya-tanya seolah perasaan sakit sesak di dadanya langsung hilang dan lega entah karena apa? Karena Davin bercerai atau karena.... entahlah...
"Aku hampir saja kehilangan anak kami yang kedua karena kebodohanku." Su Jin menatap lekat Davin menunggunya melanjutkan kalimatnya lagi.
"Untuk itu aku melepaskannya demi anak kami." Lanjut Davin, Su Jin masih terdiam.
"Bukannya kalian menikah karena saling mencintai?"
"Awalnya iya, tapi entah kenapa menjadi sebuah paksaan. Bahkan aku menculiknya saat di hari pernikahannya." Davin tertawa getir saat mengucapkannya. Su Jin menatap Davin yang terlihat sendu.
"Bahkan dengan tega aku memperkosanya." Su Jin melotot mendengar kalimat Davin yang terakhir.
"Kau pasti sangat mencintainya." Ucap Su Jin menatap Davin sendu.
"Kau benar, aku sangat mencintainya hingga aku tak ingin melihatnya keluar dari dalam kamar sedikitpun hingga membuatnya stres dan frustasi sampai kami kehilangan calon anak kami yang pertama." Su Jin terdiam menatap kasihan pada teman kecilnya itu.
"Hingga aku pun tak membiarkan dokter membawa istriku ke rumah sakit untuk mendapat perawatan disaat kritis calon anak kami. Hingga akhirnya calon anak kami meninggal bahkan sebelum lahir ke dunia ini."
"Aku turut berdukacita mendengarnya."
"Hingga kehamilan keduanya ini, dia bahkan belum mencintaiku. Dan demi calon anak kami. Aku terpaksa melepaskannya demi dia."
Keduanya pun terdiam merenung sendiri-sendiri. Davin dengan pikiran dan rasa bersalahnya. Su Jin dengan perasaan bertepuk sebelah tangannya. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaan sebenarnya pada teman kecilnya ini. Mungkin memang takdirnya hanya untuk menjadi teman masa kecil saja.
"Kau yakin dia tidak mencintaimu?" Tanya Su Jin setelah lama dalam diamnya masing-masing.
"Dia hampir menikah dengan kekasihnya. Dan aku menculiknya dengan cantik." Jawab Davin setelah menghela nafas berat.
__ADS_1
"Bahkan dia juga berusaha kabur dariku berulangkali dan gagal hingga aku kehilangan kesabaran karena menolak menikah denganku. Hingga terjadilah pemerkosaan itu." Jawab Davin dengan penuh penyesalan terlihat jelas di wajahnya.
"Lalu? Apa rencanamu sekarang?"
"Entahlah, aku berencana hanya akan mengawasinya dari jauh. Sambil melihat perkembangan dia dan calon anak kami."
"Kau tak berniat mendapatkan hatinya lagi?" Davin langsung menoleh menatap Su Jin sejenak.
"Entahlah, sudah lebih dari tujuh bulan aku berusaha mengambil hatinya kembali. Namun bukan perasaan cinta darinya namun hanya kebencian yang tersirat darinya."
"Butuh bantuan?" Tawar Su Jin dengan senyum misterius.
"A..apa maksudmu?" Tanya Davin tidak mengerti.
"Dia belum menandatangani berkas perceraian bukan?" Davin mengangguk masih belum mengerti.
"Bagaimana kalau dia ternyata sangat mencintaimu?" Su Jin masih menampilkan senyum misteriusnya.
"Tidak mungkin?"
"Bagaimana kalau kita coba?" Davin tampak mengernyit.
"Caranya?"
"Kau percaya padaku kan?"
"Apa yang kau rencanakan?" Su Jin hanya tersenyum.
"Percayalah padaku. Kau hanya turuti instuksiku."
Davin hanya mendesah masih tak mengerti maksud ucapan temannya itu.
.
.
__ADS_1
TBC