Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 28


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kau melihat hal yang mencurigakan?" Tanya ayah Davi menghampiri Gio, calon menantunya yang ditinggalkan putrinya saat mereka hendak melangsungkan pernikahan mereka.


Setelah batalnya pernikahan Gio dan Davi, Gio masih belum menyerah juga untuk mencari keberadaan Davi. Hal itu juga disambut baik oleh orang tua Davi. Meski orang tua Gio menyarankan melakukan pembatalan lamaran karena menuduh calon mempelai perempuan yang kabur. Saat itu keluarga besar Gio sangat marah dan malu mendengar mempelai perempuan kabur dari acara pernikahan dan memutuskan hubungan begitu saja dengan keluarga Davi.


Setelah beberapa waktu berlalu, Gio menemukan kejanggalan tentang kepergian Davi yang tiba-tiba seolah seperti penculikan. Hingga akhirnya dia sadar, bahwa calon mempelai istrinya diculik oleh seseorang.


Setelah sebulan berlalu merenungkan segalanya. Gio mendatangi rumah Davi membuat ayah Davi kaget dan menyambutnya dengan suka cita seolah ada sedikit harapan dengan bantuan Gio, mungkin.


Hingga kecurigaannya ayah Davi diceritakan semuanya pada Gio tentang atasan Davi tempat terakhir kali bekerja. Bahkan dia sudah nekat menemui dengan sedikit memaksa dan mengasari sang pimpinan perusahaan tempat Davi dulu bekerja. Namun malah dirinya yang merasa disalahkan. Ayah Davi yakin, pimpinan Davi tahu sesuatu hal tentang Davi, bisa jadi dia lah dalang dibalik penculikan putrinya.


Namun dia tidak memiliki bukti cukup untuk membuktikan hal itu. Dan dia juga harus mengurus istrinya yang tiap hari semakin sakit-sakitan karena memikirkan dan mengeluhkan keberadaan putrinya yang tak tahu keadaannya.


"Apa paman sudah mengutus seorang detektif?" Tanya Gio hari itu setelah tiga bulan pencarian Davi yang selalu berujung nihil.


Seolah Gio mulai putus asa. Semua penyelidikannya juga mengarah pada mantan atasan Davi pimpinan perusahaan tempat Davi bekerja sebelumnya. Namun buktinya tidak cukup untuk menuduhnya. Selain berhubungan dengan pimpinan perusahaan, tidak ada orang lain lagi yang yang ditemui Davi selain dirinya dan orang tuanya.


"Semua nihil, ada yang menyerah karena tak mau berurusan dengan pria penguasa itu." Jawab ayah Davi putus asa.


Gio menghela nafas panjang dan berat, orang-orang suruhannya pun banyak yang menyerah juga, begitu tahu semua terhubung pada pria penguasa itu.


Suara ponsel Gio berdering tanda panggilan masuk. Gio pamit menjauh untuk mengangkat panggilan itu yang ternyata adalah papanya.


"Ya pa."


"Kamu dimana?"


"Aku..." Gio menoleh sebentar ke arah ayah Davi yang menunduk di sofa ruang tamu dengan putus asa. "Di rumah Davi." Jawab Gio.

__ADS_1


"Sudah papa katakan, jangan buang waktumu untuk mengurusnya. Dia sudah meninggalkanmu." Marah papa Gio.


"Tapi pa itu..."


"Cepat kembali ke perusahaan! Ada masalah, kuharap itu bukan ulahmu!" Seru papa Gio menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban putranya.


Gio memandangi ponselnya penuh dilema, tadi dia memang membatalkan meeting nya demi menemui calon mertuanya yang entah jadi atau tidak nantinya. Dia pun juga ragu. Namun rasa cintanya pada Davi sungguh merajai hatinya. Bahkan mamanya memaksanya mengikuti perjodohan demi melupakan Davi setelah meninggalkannya di pelaminan.


Namun Gio ingin menyelidiki sebentar lagi dan ingin tahu apa alasan Davi meninggalkannya di pelaminan. Apa hal itu disengaja atau tidak. Kalau disengaja, Gio ingin tahu alasannya. Kalau karena Davi diculik oleh seseorang, Gio akan memperjuangkan cintanya. Namun sang mama hanya memberikan waktu enam bulan untuk mencari Davi setelah itu mau tak mau dia harus setuju mengikuti perjodohan yang diatur orang tuanya.


Dan hari ini terhitung sudah empat bulan memasuki lima bulan pencarian Davi. Namun hasilnya tetap nihil. Sepertinya dirinya harus siap dan rela merelakan perasaan cintanya dan menerima perjodohan keluarganya.


"Maaf paman. Aku harus kembali ke perusahaan karena sedang ada masalah." Pamit Gio yang sebenarnya tak tega melihat wajah keputus asaan ayah Davi.


Ayah Davi menatap Gio, seolah ingin mencegahnya, dia butuh seseorang untuk curhat. Namun dia tak mungkin egois, karena Gio punya hal penting lain yang harus diurus selain mencari putrinya yang entah sekarang ada dimana dan bagaimana keadaannya.


"Baik paman. Pasti!" Jawab Gio yakin.


Dia pun meninggalkan orang tua itu sendiri menuju perusahaannya.


***


"Ada apa pa?" Tanya Gio begitu sampai di ruang kerja papanya yang ada di ruangannya sekarang. Karena Gio sudah mulai menggantikan posisi papanya yang sudah mulai berumur.


"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Tanya papa Gio menyerahkan suatu berkas.


Gio menerimanya dan membacanya dengan teliti. Dia tampak mengernyit heran membaca berkas tersebut.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini? Bukannya tak ada kesalahan yang kita lakukan?" Tanya Gio yang juga terkejut dengan berkas tersebut.


"Itulah yang ingin papa tanyakan padamu?" Jawab papa Gio tak kalah marahnya.


"Beberapa waktu lalu baik-baik saja saat aku bertemu dengan pihaknya. Kenapa sekarang jadi seperti ini?" Ucap Gio seperti tak seperti pertanyaan bahkan lebih ke pernyataan.


"Kalau baik-baik saja. Tak mungkin sampai seperti ini." Tuding papa Gio mengusap wajahnya kasar.


"Aku akan menghubungi pihak sana." Gio meraih gagang telepon kantor yang ada di mejanya.


Namun meski tersambung hanya operator yang menjawab. Gio ganti mencoba dengan ponselnya dan menghubungi nomer pribadi orang yang selalu bertemu dengannya saat membahas berkas tadi.


"Ya, halo." Sapa Gio saat ponsel yang dihubungi menjawab panggilannya.


"Apa maksud dari semua ini?" Seru Gio langsung ke inti permasalahan.


"Maaf tuan. Pimpinan kami menolak kerja sama dengan perusahaan anda." Jawab yang di seberang dengan tenang meski Gio terlihat mulai emosi.


"Bukannya beberapa waktu lalu baik-baik saja. Kenapa mendadak membatalkan secara sepihak." Jawab Gio sedikit menaikkan nada bicaranya meski dia sangat kesal dan marah.


"Saya tak bisa menjelaskan secara detail di telepon. Silahkan datang ke kantor mendengar penjelasan pimpinan kami!" Panggilan diputuskan sepihak di seberang membuat Gio meremas ponselnya emosi.


"Apa yang dikatakannya?" Tanya papa Gio tak sabar, meski firasatnya mengatakan hal buruk telah terjadi.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2