
Ji An hanya menunduk dengan wajah memerah saat makan siang. Kini keluarga kecil itu sedang makan siang di salah satu cafe yang ditunjuk putranya saat dia jalan-jalan pagi tadi bersama pengawal. Katanya ada menu spesial dengan bonus es krim.
Itulah sebabnya, Matty memaksa kedua orang tuanya untuk makan siang disana. Kini sekarang ketiganya sedang makan siang menikmati makanan mereka. Namun Ji An hanya menunduk seperti menikmati makanannya. Namun nyatanya dirinya sangat tersipu malu.
Setelah tadi pagi Arthur tak melepaskan pagi tadi bahkan sampai melakukannya lagi di dalam kamar mandi saat Ji An memutuskan untuk mandi. Namun dengan cepat Arthur ikut mandi bersamanya ke dalam dan terjadilah kembali kenikmatan itu.
Padahal bagian inti tubuh Ji An masih sangat sakit dan perih, tapi Arthur seolah tulis mendengar rintihan dari wanitanya itu. Malah hal itu semakin membuat Arthur gencar menyerangnya tanpa belas kasihan karena kerinduannya pada wanitanya ini.
"Ma.." panggil Matty.
"Hmm..." jawab Ji An sambil menatap putranya lembut.
"Kenapa leher mama merah-merah?" tanya Matty polos membuat Ji An dan Arthur tersedak makanannya dan keduanya sama-sama terbatuk-batuk dan mencari air minum.
Matty menatap bergantian orang tuanya. Ji An sontak menutupi lehernya dan beralih melotot Arthur yang hanya dijawab dengan anggukan kedua bahunya.
"Se... sepertinya digigit... serangga." jawab Ji An masih melirik pada Arthur yang pura-pura sibuk makan.
"Apakah serangganya banyak sehingga merah-merahnya banyak?" tanya Matty lagi sambil makan es krimnya setelah makan nasinya.
"Matt, makan dulu es krimnya. Nanti meleleh." ucap bariton Arthur membuat Matty terdiam.
"Ya pa." jawabnya lemah dan melanjutkan makan es krimnya.
**
"Art, boleh aku bicara?" pinta Ji An menatap Arthur penuh harap saat mereka kembali ke hotel setelah makan siang karena Arthur tertidur pulas saat perjalanan kembali ke hotel. Arthur menatap wanitanya itu lekat penuh tanda tanya.
"Katakan!" jawab Arthur menatap Ji An intens.
"Boleh aku minta tolong?" Arthur tampak mengernyitkan dahi keheranan, baru kali ini Ji An memberanikan diri untuk meminta bantuan padanya.
"Hmmm." jawab Arthur masih menunggu permintaan Ji An.
"Tolong bantu aku bertemu dengan tuan Kim!" ucap Ji An ragu. Arthur lagi-lagi mengernyitkan dahinya masih bingung.
"Siapa tuan Kim?" tanya Arthur penasaran.
"Tuan Kim, pemilik KimJi grup." ucap Ji An sambil meremas jemari tangannya yang berkeringat dingin.
__ADS_1
Dia sungguh belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya pada pria yang dicintainya ini.
Tok tok tok
Tok tok tok tok
Suara ketukan pintu yang tidak sabaran membuat Arthur merasa terganggu dengan pembicaraannya dengan Ji An, sehingga mau tidak mau dia meninggalkannya untuk membukakan pintu kamar.
"Ada apa Zein?" tanya Arthur tak suka.
"Maaf tuan, tapi ini darurat?" jawab Zein yang terlihat panik.
"Ada apa?" tanya Arthur yang kini dalam mode dingin dan tajam melihat kepanikan Zein, asisten pribadinya. Kalau bukan sesuatu yang penting asistennya ini tak akan sepanik ini.
"Tuan muda Jung membuat ulah lagi?" ucap Zein.
"Jung Hyung Jae?" tanya Arthur dengan dahi berkerut sebal.
"Iya tuan." jawab Zein sambil menyerahkan tabletnya pada Arthur agar tuannya ini menilai sendiri dengan yang dilihatnya pada tabletnya itu.
"Kita bahas di ruanganku!" titah Arthur kembali ke dalam sebentar.
Tak lupa dia mengecup kening Ji An layaknya suami yang pamit pada istrinya. Hati Ji An menghangat mendapat perlakuan romantis dari Arthur, untuk sejenak dia bisa melupakan masalahnya. Namun dia ingin segera menemui ayahnya yang sedang terbaring koma karena penyakitnya yang harus segera dioperasi.
Namun melihat ketergesaan Arthur tadi pasti ada sesuatu yang penting terjadi. Ji An membaringkan tubuhnya sejenak karena merasakan kelelahan karena perlakuan brutal Arthur pagi tadi. Dia memeluk tubuh putranya dalam pelukannya dan dia pun ikut tertidur pulas.
**
"Apa yang diinginkan pria itu?" tanya Arthur saat mereka berada di ruangan kerja Arthur.
"Sepertinya dia menginginkan nona Ji An." jawab Zein hati-hati dan tentu saja hal itu sontak membuat Arthur menatapnya tajam.
"Apa maksudmu Zein?" teriak Arthur tak suka.
"Nona Ji An adalah putra tunggal dari tuan Kim Ji Sung. Pemilik KimJi grup, perusahaan yang bergerak dalam bidang properti. Dia yang menguasai properti di Asia. Kedua orang tua nona Ji An dan tuan Jung adalah teman lama. Dan itu membuat kedua keluarga itu merencanakan perjodohan pada keduanya tujuh tahun lalu." Zein menjeda penjelasannya menunggu reaksi tuannya yang semakin mengetatkan rahangnya emosi.
"Tapi nona Ji An menolak dan melarikan diri dari rumah dan pergi ke NYC dan bertemu dengan tuan muda." Arthur langsung menoleh menatap Zein tak percaya.
Flashback on
__ADS_1
Saat itu setelah Ji An menghabiskan malam panas dengan Arthur, Ji An terpaksa meninggalkan Arthur di kamar club malam itu. Dia harus bekerja karena masuk pagi. Dan sekarang dia sudah hampir telat. Namun...
"Nona, mari kita pulang!" ucap salah seorang pria berbadan kekar yang sepertinya pimpinan dari para pengawal itu.
Ji An bisa menebak siapa mereka karena dirinya mengenali tanda di saku jas pimpinan itu adalah lambang keluarga Jung, konglomerat Seoul yang mempunyai bisnis hotel terbesar di Korea. Dan tentu saja pengawal itu sudah mendapat izin dari ayahnya atas desakan tuan muda Jung.
Ji An yang saat itu baru mulai bekerja setengah jam yang lalu tentu sudah tak bisa melarikan diri lagi.
"Biarkan aku pamit dengan bosku!" jawab Ji An yang ditatap pimpinan pengawal itu.
"Tapi nona..."
"Kalian sudah menemukanku. Aku akan menurut, tapi biarkan aku pamit dengan baik-baik." seru Ji An menatap tajam.
"Baiklah." pengawal itu membungkukkan badannya memberi kesempatan pada sang nona.
Sebenarnya sudah berkali-kali dia menemukan sang nona namun selalu bisa melarikan diri, untuk itulah dirinya sedikit tak percaya pada Ji An.
Tampak Ji An pamit pada teman karyawan lainnya. Dia sudah berganti pakaian dari seragam cafe dengan pakaiannya sendiri.
Ji An tampak menurut perlakuan para pengawal itu. Dia pun juga sudah lelah melarikan diri, apalagi dia sudah memberikan miliknya yang berharga pada pria yang dicintainya, dia tak menyesal.
"Maafkan aku Arthur, selamat tinggal." bisik Ji An lirih.
Bahkan dia tak diizinkan untuk mengambil barang-barangnya di kost atau sekedar pamitan.
Flashback off
TBC
.
.
.
Maafkan typo
Beri dukungannya
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya