Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 11


__ADS_3

"Matty..." panggil Ji An melihat putranya masih belum tidur di rumah temannya Su jin padahal ini sudah pukul sebelas malam.


"Mama..." sapa Matty memeluk sang mama yang sudah muncul di depan rumah temannya.


"Kau belum tidur boy?" tanya Ji An basa-basi.


"Aku menunggumu ma." jawab Matty tersenyum polos.


"Oh, my boy ..." ucap Ji An terharu membalas erat pelukan putranya.


"Kenapa kau tiba-tiba lembur?" tanya mama Su Jin yang sejak tadi hanya melihat interaksi ibu dan anak tersebut.


"Temanku ada yang tidak masuk, jadi aku menggantikannya." jelas Ji An tersenyum sungkan.


"Tak masalah, tapi kau harus tetap menjaga kesehatanmu." saran mama Su Jin.


"Terima kasih mama Su Jin, kami pamit dulu."


"Baiklah, hati-hati di jalan. Terima kasih oleh-olehnya." ucap mama Su Jin tersenyum manis.


"Tidak... akulah yang harus berterima kasih pada mama Su Jin sudah repot-repot menjaga putraku karena harus bekerja." ucap Ji An tak enak hati.


****


"Kau sudah menemukannya Zein?" tanya Arthur yang sudah duduk di sofa hotel kamar khusus pemilik, presiden suite dengan fasilitas lengkap.


"Sudah tuan, dia adalah kepala bagian keuangan, sekaligus dia adik dari penanggung jawab hotel milik kita ini." jelas Zein menunjukkan fotonya dan bukti-bukti yang sudah dikumpulkan oleh orang kepercayaan Arthur yang ditempatkan di hotel itu.


Arji's hotel memang hasil kerja sama dengan salah satu konglomerat di Korea namun tetap Arthur lah sang pemegang saham terbesar hotel itu. Dan konglomerat Korea tuan Jung Kyung Soon mempercayakan kepala penanggung jawab bagian keuangan pada putranya Jung Hyun Jae.


Dan alhasil sekarang Arthur menemukan banyak kejanggalan pada laporan keuangan tiga bulan terakhir dengan nominal yang sangat fantastis.


"Kau sudah menyelidikinya tanpa terlewatkan satu pun?" tanya Arthur masih meneliti dengan cermat laporan dari orang kepercayaan Zein.


"Tinggal menemukan orang yang mau menjadi saksi tentang kejahatannya ini tuan. Orang kita sedang membujuk orang-orang tersebut. Kalau berhasil dibujuk dua hari lagi kita bisa membuka semua kejahatan putra pimpinan Jung." jelas Zein. Arthur mengangguk paham.


"Baiklah. Istirahatlah, besok pagi kita adakan meeting dadakan investigasi tentang laporan keuangan." ucap Arthur.


"Baik tuan. Saya undur diri." ucap Zein meninggalkan kamar tuannya menuju kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar tuannya.

__ADS_1


**


Pagi hari, semua karyawan yang biasanya ikut meeting bulanan sudah siap di ruang meeting. Desas-desus terdengar pemilik saham terbesar di hotel itu sekaligus pemilik akan mengadakan sidak kunjungan dadakan untuk menilai kinerja para karyawan di hotel itu.


Apalagi sempat terdengar isu bahwa terjadi korupsi besar-besaran padahal hotel baru diresmikan enam bulan yang lalu.


Arthur memasuki ruang meeting dengan langkah tegap, pandangan mata tajam dan dingin. Auranya menakutkan membuat semua orang bergidik ngeri dan tiba-tiba merinding padahal mereka tak bersalah. Terlihat tuan besar Jung dan juga putranya sudah duduk di kursi yang biasa mereka duduki, sedang di sebelah tuan besar Jung terdapat kursi kosong khusus untuk disediakan pemilik utama hotel jikalau sewaktu-waktu dia hadir pada meeting pemegang saham itu.


Juga terdapat sekitar dua puluh orang para pemegang saham yang terlihat tak senang karena pendapatan mereka menurun dan terdapat laporan kalau hotel mulai sepi pengunjung. Para karyawan yang ditunjuk dalam setiap bagian juga turut hadir demi memberikan laporan bulanan pada bagian departemen mereka.


Arthur duduk dengan tenang, tatapan matanya tajam bagai elang menatap satu persatu yang hadir di ruangan itu. Seolah sedang mengabsen setiap orang yang sudah dipelajarinya sebelum masuk ke ruang meeting.


Berakhir pada putra sulung tuan besar Jung yang dengan tingkah laku sombongnya merasa percaya diri bahwa dirinya tidak bersalah. Terlihat duduk dengan menyilangkan kakinya menatap ke semua orang dengan mengusap dagunya.


Meeting dimulai dengan perkenalan pada Arthur dan basa-basi tentang laporan setiap departemen.


Keributan pun terjadi, para pemegang saham menuntut kejelasan tentang perkembangan hotel. Pimpinan Jung kuwalahan menjelaskan, untung saja masih bisa dibujuk dengan berbagai cara. Apalagi dia mengatakan kalau hotel baru berdiri enam bulan lalu.


Tentu saja tidak akan langsung sukses, pasti akan mengalami jatuh bangun mengingat persaingan yang tidak sedikit. Arthur hanya diam menyimak orang-orang bicara, belum waktunya dia bicara, Zein sang asisten yang mewakilinya bicara. Arthur akan menunggu sampai besok, sampai bukti-bukti ada dan jelas.


Meeting akhirnya berakhir meski akan dilanjutkan besok. Karena tidak akan ada adanya keputusan pasti. Pimpinan Jung meyakinkan para pemegang saham untuk datang lagi besok sesuai instruksi Zein yang sudah terencana oleh Arthur untuk mengungkapkan korupsi putra pimpinan Jung.


"Anda ingin makan siang apa tuan?" tanya Zein masih setia mengikuti di belakang Arthur.


"Dimana restoran paling enak, aku ingin makan makanan Indonesia." ucap Arthur masuk ke dalam mobil yang sudah siap di lobi kantor.


"Mari tuan, sopir akan mengantar kita." ucap Zein ikut masuk duduk di sisi sopir.


Arthur menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil, memejamkan mata, menikmati istirahatnya yang membuatnya benar-benar lelah dan menguras emosi.


Tak sampai satu jam, mobil diparkir di halaman restoran.


"Tuan, kita sudah sampai." ucap Zein membuat Arthur tersentak. Dia membuka matanya melihat sekeliling, ah, aku tertidur? batin Arthur keluar dari mobil membenahi jasnya yang baik-baik saja.


Arthur dan Zein masuk ke dalam menuju ruangan pribadi yang sudah dipesan oleh Zein. Setelah pesanan dicatat, Zein undur diri untuk ke toilet entah apa yang dilakukan, Zein belum juga kembali saat makanan disajikan.


Arthur yang tak begitu memperhatikan dan memperdulikan beberapa pelayan yang menyajikan makanan terlalu enggan untuk membuka matanya, lengannya menutupi setengah wajahnya yang masih setia memejamkan matanya.


"Silahkan dinikmati tuan, kami permisi." suara pelayan membuat Arthur spontan membuka matanya menatap pelayan itu.

__ADS_1


Grep...


Arthur dapat menangkap pergelangan tangan pelayan itu yang hendak meninggalkan ruangan pribadi restoran itu.


"Ji An..." bisik Arthur lirih.


Pelayan itu membalikkan tubuhnya dengan tubuhnya yang menegang mendengar bisikan pria itu menyebutkan namanya. Suara yang sangat dikenalnya, meski sudah lama tak bertemu.


Pelayan itu menatap pria yang juga terkejut melihatnya itu. Keduanya saling menatap dalam diam. Arthur menemukannya, menemukan wanitanya yang selama ini dicarinya. Reflek Arthur memeluk tubuh wanita itu.


"Ji An, aku merindukanmu." bisik Arthur memeluk tubuh Ji An erat tak akan melepaskannya lagi.


Ji An hanya terdiam, dia tak percaya pria yang telah merenggut harta berharganya kini mengatakan merindukannya. Ji An berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak terlalu terbang tinggi karena perasaan kini sangatlah bahagia.


Ya, dia juga merindukan pria ini, pria yang ditinggalkannya tanpa pamit karena sesuatu hal yang tak diinginkannya kala itu.


"Aku merindukanmu, aku masih mencintaimu." bisik Arthur lagi yang tanpa sadar air matanya mengalir deras ke pipinya meski tak mengeluarkan suara.


Terpancar kesedihan juga kebahagiaan di dalam matanya. Teman Ji An hanya diam tak tahu harus mengatakan apa saat melihat kedua insan itu saling melepas rindu. Dia juga bertanya-tanya apa hubungan keduanya.


Dilihat keduanya bukan dari negara asal yang sama. Setahunya Ji An tak pernah menggandeng pasangan apa karena pria ini. Begitulah kira-kira pemikiran teman Pelayan Ji An.


"Tu...an..." ucap Zein yang baru tiba dari toilet. Pelayan teman Ji An tadi menunduk memberi hormat. Arthur melepas pelukannya menatap Zein tersenyum senang.


"Zein, aku menemukannya..." ucap Arthur tersenyum bahagia memamerkannya pada Zein dengan mendekap erat pinggang Ji An agar tidak bisa melarikan diri lagi.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya


Beri like, rate dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2