
"Tuan." Panggil Fero masuk ke dalam ruang kerja Davin dengan tergesa.
"Ada apa?" Tanya Davin yang masih tetap tenang meski Fero terlihat panik.
"Tuan besar memanggil anda." Davin mengernyit heran mendengar ucapan Fero.
"Maksudmu? Papa?" Tanya Davin memastikan. Fero mengangguk cepat tapi tidak membuat Fero tenang.
"Apa maksudmu?" Davin langsung berdiri dari duduknya mengambil jasnya yang disimpan di sandaran kursinya.
"Nyonya besar juga ikut, sekarang mungkin mereka sudah tiba di mansion utama." Beri tahu Fero. Davin langsung panik. Dia pun meninggalkan ruangannya padahal masih jam tiga sore. Dia pun bergegas meninggalkan ruangannya yang ditatap heran oleh Su Jin yang sedang mengerjakan pekerjaannya melihat Davin pergi tanpa pamit padanya.
"Batalkan janji tuan muda hari ini!" Bukan Davin yang memberi perintah tapi Fero yang lebih tahu apa mau tuan mudanya yang tak bicara apapun.
"Ada apa?" Bukannya menjawab Su Jin malah bertanya.
"Tuan besar dan nyonya pulang." Jawaban singkat Fero membuat Su Jin memilih melanjutkan pekerjaannya dulu sebelum ikut pulang menemui orang tua Davin yang sudah seperti paman dan bibi baginya.
"Kita pulang!" Titah Davin saat Fero sudah ikut masuk ke dalam mobil duduk di sebelah sopir dan Davin duduk di belakang.
"Baik tuan." Jawab sopir Davin melajukan mobilnya.
Sudah hampir sebulan dia tidak menghubungi keluarganya setelah memboyong serta Su Jin ke tanah air. Memang niat hati mereka berpura-pura mengikuti perjodohan antar keluarga mereka. Itupun atas permintaan Su Jin. Dan Davin tenang tak didesak lagi oleh sang mama dan juga tak menanyakan tentang hubungannya dengan istrinya, tidak mantan istrinya lebih tepatnya. Karena istrinya sudah menandatangani berkas perceraian dan dia pun sama.
Entah kenapa hal itu membuat Davin gelisah. Dia sedikit tenang karena pengacara yang mengurus perceraiannya belum memberinya kabar persidangan mereka. Namun di sisi lain dia juga tak rela perceraiannya di sah kan oleh pengadilan.
"Kau dengar sesuatu sebelumnya?" Tanya Davin pada Fero saat dalam perjalanan.
"Tidak tuan." Jawab Fero merasa bersalah karena tak tahu apapun.
"Huff.. Semoga saja apa yang aku pikirkan tidak benar." Guman Davin membuat Fero melirik Davin dari kaca spion tengah mobil.
***
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
"Selamat datang tuan besar. Selamat datang nyonya besar." Sapa kepala pelayan mansion keluarga Aftano menunduk hormat pada kedua majikan besarnya. Diikuti para pelayan yang juga berjajar rapi di sebelah kepala pelayan yang lebih dari sepuluh orang.
"Apa kabar pak?" Sapa balik Ji An pada kepala pelayan mansion itu yang sudah lama tidak ditemuinya setelah kembali pulang ke negara asalnya.
"Baik nyonya besar. Saya harap nyonya besar juga selalu sehat." Jawab kepala pelayan itu menunduk hormat. Ji An hanya tersenyum.
"Dimana Davin?" Tanya Arthur tanpa basa-basi.
"Tuan muda belum pulang tuan besar." Jawab kepala pelayan yang sudah setia melayani mansion besar itu bersama dengan putra dan menantunya juga. Tak ketinggalan cucunya ikut mengabdi sebagai asisten pribadi tuan mudanya.
"Kita istirahat dulu sayang, kau pasti lelah." Ajak Ji An menarik lengan suaminya mesra masuk ke dalam kamar lama mereka jika berkunjung ke tanah air.
"Baiklah sayang." Pasrah Arthur mengikuti langkah istrinya.
"Baik tuan besar dan nyonya besar. Selamat istirahat." Jawab kepala pelayan sopan.
****
Drap
Drap
Drap
Suara langkah tergesa-gesa dari luar mansion membuat kepala pelayan mengernyit heran siapa gerangan yang tergesa-gesa masuk ke dalam mansion. Wajahnya seketika kembali menunduk diikuti para pelayan yang masih ada disana.
"Dimana papa dan mama?" Tanya Davin segera tanpa menjawab salam dari kepala pelayannya.
__ADS_1
Davin sendiri belum sebulan pulang ke mansion setelah sebelumnya tinggal di villa yang didengarnya tinggal bersama istrinya. Namun saat melihat tuan mudanya pulang kembali ke mansion membuat kepala pelayan bertanya-tanya dimana istri tuan mudanya. Namun kepala pelayan tampak menepis pikiran buruknya tentang tuan mudanya itu.
"Mereka sedang istirahat tuan muda. Dan akan keluar saat jam makan malam." Jawab kepala pelayan sopan.
"Huff... Baiklah. Fero!" Panggil Davin yang sejak tadi Fero ada di belakangnya mengikutinya.
"Ya tuan muda."
"Kau urus sisa pekerjaanku hari ini. Dan jemput Su Jin kemari pukul tujuh nanti!" Titah Davin langsung menuju kamar pribadinya.
"Baik tuan muda." Jawab Fero yang mengernyit heran tentang titah Davin mengenai Su Jin. Sampai saat ini dia belum tahu hubungan mereka. Setahunya Su Jin hanyalah teman masa kecil tuan mudanya saat di negara asal nyonya besar.
Fero menoleh pada kakeknya yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya memberi kode untuk tidak terlalu berpikir tentang urusan majikannya tanpa perintah mereka.
Fero pun memilih pergi meninggalkan mansion kembali ke kantor mengurus pekerjaan tuan mudanya.
***
Davi jalan-jalan di taman sore itu. Kehamilannya sudah memasuki usia lima bulan. Dan harus banyak bergerak beraktivitas. Davi tak mau malas-malasan dan memilih jalan-jalan sore di taman. Dengan ditemani bi Sum yang selalu mengikutinya sesuai perintah kurir pengantar makanan yang diketahui belakangan adalah suruhan dari suami nonanya.
Davi sebenarnya menolak selalu diikuti kemanapun oleh bi Sum. Dia ingin jalan-jalan sendiri. Namun bi Sum sedikit memaksa dengan alasan khawatir padanya meski dia tahu sebenarnya bi Sum melakukannya karena atas permintaan suaminya. Bukan mantan suaminya. Dan ibu Davi masih dalam keadaan yang sama, koma. Dan ayahnya masih sibuk mengurus ibunya. Davi tidak bisa setiap hari mengunjungi ibunya karena alasan kehamilannya juga.
Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk ibu hamil. Dan Davi pun memilih untuk tinggal di rumah dan hanya sesekali mengunjungi ibunya. Meski rasa bersalahnya besar terhadap ibunya namun karena kehamilannya juga mencoba tenang karena tidak berakibat baik untuk kandungannya.
"Sudah terlalu sore nona. Sebaiknya kita pulang." Saran bi Sum melihat Davi melamun duduk di kursi taman.
"Sebentar bi." Jawab Davi memejamkan mata menikmati udara segar sore hari.
Di tempat lain, Davin menatap foto yang dikirim kurir pengantar makanan istrinya. Membuatnya menatap lama wajah yang dirindukannya. Bibirnya sedikit terangkat ke atas membentuk senyuman yang tak didapatkannya akhir-akhir ini setelah perpisahan dengan istrinya.
"Kenapa kau semakin kurus? Apa hamil membuatmu kesulitan?" Guman Davin mengusap wajah istrinya penuh cinta.
.
__ADS_1
.
TBC