
Setelah satu jam berbincang, Gio akhirnya pamit pulang karena sudah malam. Davi mengantarnya sampai mobil.
"Aku pulang dulu." pamit Gio. Davi hanya mengangguk tampak tak bersemangat, Gio mengira mungkin Davi capek dan mengantuk karena baru pulang dari pulau B. Terlihat dia menguap beberapa kali.
"Hati-hati!" jawab Davi tersenyum getir.
Setelah mobil Gio pergi meninggalkan rumah Davi, Davi masuk ke dalam rumahnya. Dan orang tuanya sudah masih duduk di sofa ruang tamu. Davi tersentak tak mengira kalau orang tuanya masih di ruang tamu.
"Duduk Davi!" titah ayahnya.
Davi menurut, dia sudah menebak apa yang akan dibicarakan orang tuanya.
"Sudah malam ayah, bagaimana jika besok saja." elak Davi masih belum siap untuk membicarakannya.
"Tidak usah ditunda-tunda, takutnya nanti lupa. Kamu kan ceroboh." ujar ayahnya.
"Ayah ingin tahu apa?" akhirnya Davi menyerah.
"Jelaskan tentang Gio!" titah ayahnya lagi tegas menatap Davi.
"Apa yang harus dijelaskan? Gio tadi melamar, ya udah." jawab Davi santai mengelak tentang hatinya yang gelisah.
"Tapi kau tak terlihat senang?" tanya ayahnya tepat sasaran membuat Davi tertohok.
Bukan tidak senang, tapi Davi tak yakin dengan perasaannya setelah beberapa hari bersama Davin. Entah kenapa hatinya teralih pada bosnya itu. Apalagi hubungan mereka sudah seintim itu meski belum sampai berhubungan intim. Selama menjadi kekasih Gio, Davi bahkan belum sejauh.
Bukan tak pernah, tapi Davi menolaknya. Dan Gio menghormati keputusan Davi dengan prinsipnya no sex before married. Dan sekarang setelah Gio menepati janjinya akan melamarnya saat sudah siap dan pulang ke tanah air hati Davi menjadi tak yakin, apa dia mencintai Gio atau mencintai Davin.
Namun dengan Davin, Davi sangat nyaman dan sepenuh hati percaya tapi dengan Gio, Davi terlihat ragu. Mungkin karena Davi baru berpacaran sekali setelah lulus kuliah hanya dengan Gio, dia hanya pernah merasakan pacaran dengan Gio belum pernah yang lain. Jadi dia belum bisa membandingkan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya orang pacaran itu.
"Entahlah ayah!" Davi menunduk tak berani menatap ayahnya yang mungkin saja dia terlihat plin plan.
Ayahnya terlihat menghela nafas kurang puas dengan jawaban putrinya.
"Kau tak mencintainya?" tanya ayahnya.
__ADS_1
"A...aku... menyukainya, aku menyayanginya...Kami sudah lama bersama sejak lulus kuliah." jawab Davi gugup.
"Kau mencintai pria lain?" tebak ayahnya tepat sasaran.
"Bagaimana ayah tahu?" Davi langsung menutup mulut cerobohnya. " Entahlah ayah." Davi mengedikkan kedua bahunya menunduk lesu.
"Davi..." panggil ibunya lembut.
"Iya ibu." Davi menatap ibunya.
"Suka dengan cinta itu berbeda. Akan lebih baik kau memikirkan dulu bagaimana perasaanmu pada mereka. Siapa yang lebih membuatmu nyaman dan tenang. Apalagi saat kau bersamanya, kau seolah tak bisa mengendalikan dirimu jika berjauhan dengannya." saran ibunya lembut. Davi menatap ibunya lekat.
"Aku... aku..." ibunya mendekati putrinya dan duduk bersebelahan di sofa yang sama. Davi mendekap ibunya dan menangis.
"Aku mencintainya ibu, aku ... aku ingin selalu bersamanya." bisik Davi lirih menahan tangisannya. Ayahnya hanya menghela nafas.
"Sebelum ayah melanjutkan lamaran Gio, bawa pria itu menemui ayah." putus ayahnya langsung pergi ke kamarnya karena hari sudah mulai larut malam.
***
Seperti tidak ada istirahat sama sekali. Untuk itulah akhir pekan ini dia ingin bermalas-malasan di tempat tidur. Ucapan ayahnya kemarin seolah lupa.
"Davi...Davi..." panggil ibunya menepuk pundak putrinya lembut.
"Hmm." Davi hanya berdehem tanpa membuka matanya masih terpejam.
"Bangun sayang, sudah siang. Meskipun libur, jangan biasakan bangun siang!" pinta ibunya lembut.
"Masih ngantuk bu." bisik Davi lirih menahan kantuknya.
"Kau lupa apa kata ayahmu semalam?" tanya ibunya yang membuat Davi berpikir mencerna ucapan ayahnya semalam.
"Ah..." Davi sontak terbangun dan membuka matanya. Ibunya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya.
"Aku mandi dulu bu." Davi langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dan ibunya memilih untuk ke bawah.
__ADS_1
***
Disinilah Davi sekarang, berdiri di rumah megah dan mewah. Bukan rumah, mirip seperti istana seperti di tv juga buku yang pernah dibacanya.
"Wah..." ujar Davi berdecak kagum menatap di sekitar rumah itu.
Melirik ke arah dua satpam yang berjaga di dalam gerbang. Setelah mandi dan sarapan, Davi beranjak menghubungi ponsel Davin, tapi tidak aktif. Mungkin sedang ada keperluan. Dan dia pun menghubungi Fero asisten bosnya itu yang masih di pulau B untuk mengurus pekerjaan yang membuat Davin mengajaknya kemarin.
Dan Fero memberikan alamat rumah bosnya itu. Dan tak dikira Davi kalau alamat rumah yang diberikan Fero adalah istana mewah dan megah.
"Permisi pak!" sapa Davi mendekati pos penjaga rumah itu.
"Iya ... ada apa mbak?" sapa balik satpam itu.
"Benar ini rumahnya Davin maksud saya, CEO Aftano corporation Davino?"
"Iya mbak, mbak siapa? cari siapa ya mbak?" tanya satpam itu ramah.
"Saya sekretaris pak Davin, apa pak Davin ada?" tanya Davi gugup.
"Ah, sayang sekali tuan muda gak ada mbak, semalam dia berangkat ke luar negeri. Benerkan Pri?" jawab satpam itu sambil menoleh pada teman satpam lainnya yang dipanggil Pri. Temannya itu menoleh mengganguk mengiyakan. Tuan muda? batin Davi.
"Oh begitu ya?" jawab Davi kecewa. Kemana ya perginya, kok ponselnya gak bisa dihubungi. batin Davi sedikit kecewa.
"Mbak pasti punya nomer tuan muda kalau memang sekretarisnya." ucap satpam yang dipanggil Pri tadi curiga.
"Ah, saya sudah coba menghubungi ponselnya dari pagi tadi, tidak ada jawaban. Jaringan sibuk, juga tidak aktif." jelas Davi.
"Wah, kami orang kecil gak tau apa-apa mbak. Maaf." ucap satpam bernama Pri tadi.
"Ya sudah pak, saya permisi. Akan saya hubungi lagi nanti saja." pamit Davi meninggalkan rumah besar itu masuk ke dalam mobilnya yang diparkir agak jauh dari gerbang depan rumah Davi.
"Kamu kemana Vin?" bisik Davi lirih. Apa aku harus menerima lamaran Gio? batin Davi menghela nafas dan pergi meninggalkan tempat itu.
TBC
__ADS_1