Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 54


__ADS_3

Davin bergerak gelisah di ruang kerjanya. Dia terlihat tidak bisa konsentrasi mengurus pekerjaannya. Suara amarah mamanya selalu terngiang di telinganya.


Jangan pulang sebelum membawa menantu dan calon cucuku!


Davin mengusap wajahnya kasar. Dia bingung harus melakukan apa. Meski dia berusaha menolak mati-matian untuk tidak menuruti kemauan mamanya namun entah kenapa di dalam sudut hati kecil Davin merasa bahagia. Entah karena apa. Namun dia harus memulai dari mana untuk merayu istrinya pulang ke rumah untuk dikenalkan secara resmi pada keluarga besar juga rekan bisnisnya.


Bagaimana pun juga restu orang tuanya sudah di tangan. Sekarang yang jadi permasalahannya apa istrinya mau kembali kepadanya mengingat perlakuannya terhadapnya setelah dipulangkan ke rumah orang tuanya. Dan apa orang tua istrinya akan menerimanya sebagai menantu mengingat perlakuannya pada istrinya. Dan tentu saja istrinya pasti telah menceritakan semuanya tentang perlakuannya selama putrinya 'disekap' olehnya.


Tok tok tok


Suara pintu ruang kerja Davin diketuk dari luar.


"Masuk!" Titah Davin mencoba untuk tenang.


Cklek


"Selamat siang tuan muda. Waktunya makan siang, anda mau makan siang di restoran atau mau saya pesankan saja." Ucap Fero berdiri tegak dengan sopannya.


"Fero."


"Ya tuan muda?" Jawab Fero mengernyitkan dahi melihat tatapan mata serius Davin.


"Apa yang harus kulakukan?" Tanya Davin menatap Fero intens. Kening Fero semakin berkerut tak mengerti dengan arti tatapan Davin. Dia belum paham apa yang dimaksud tuan mudanya ini.


"Maaf tuan muda, hal mana maksud pertanyaan tuan muda?" Tanya Fero hati-hati. Dia sedikit bergidik dengan pertanyaan yang diajukannya. Dia takut salah menangkap maksud tuan mudanya.


"Istriku." Jawab Davin mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat frustasi karena tak menemukan jalan keluar.


"Oh..." Sejenak Fero berpikir, dia memang sudah mendengar kalau nyonya besar tahu tentang istri tuan mudanya yang sedang hamil. Dan kemurkaan nyonya besar pada tuan mudanya itu. Dan dia bisa menebak kalau Davin sekarang sedang gelisah memikirkan apa yang dikatakan nyonya besar.


"Bagaimana kalau tuan muda mengunjungi rumah nona Davi?" Saran Fero.


"Apa itu harus?" Jawab Davin dengan bodohnya.


Fero tampak menghela nafas panjang. Davin seorang jenius pengusaha sukses yang sudah terkenal di dalam negeri maupun di luar negeri. Dan disegani oleh para rekan dan lawan. Namun mengenai cinta, dia nol besar. Bahkan dia tak tahu bagaimana merayu dan menunjukkan perasaan kasih sayangnya pada orang yang dicintainya. Hanya dengan dingin dan kasar yang bisa ditunjukkannya.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya tuan muda mengunjungi kediaman mertua anda secara resmi?" Davin terdiam mencerna ucapan Fero.


"Awal kebersamaan anda dan istri anda termasuk buruk...maaf," Fero menunduk saat Davin memelototinya tentang ucapan kata buruk nya, "anda harus membawakan hadiah, bunga atau apapun untuk merayu istri dan keluarganya terutama orang tuanya." Saran Fero menatap Davin yang terlihat kebingungan.


"Aku tak pernah melakukannya, kau yang selalu melakukan semua untukku. Kenapa tidak kau saja?" Jawab Davin membuat Fero harus melapangkan stok kesabarannya.


"Saya sudah pernah menemui ke rumah nona Davi...." Fero menjeda ucapannya saat melihat Davin melotot lagi padanya.


"Kau?" Davin ingin marah tapi tak bisa.


"Teruskan!"


"Non Davi tidak mau menemui saya." Kalimat Fero yang terakhir membuat Davin terdiam.


Dia sudah bisa menebaknya, istrinya pasti marah padanya. Apalagi akhir-akhir ini perlakuannya seperti menghindarinya.


"Tapi, mungkin berbeda jika yang menemui anda sendiri tuan. Tapi..."


"Tapi apa?" Davin menatap Fero menunggu kalimat selanjutnya.


"Huff... " Davin semakin frustasi mendengarnya. Dia bisa menebak kalau usahanya kali ini harus lebih keras lagi untuk mendapat hari istrinya tanpa pemaksaan.


"Bukannya tuan muda mencintainya?"


"Sangat. Aku sangat mencintainya Fero. Tapi aku tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Kau tahu sendiri aku...." Davin terdiam menatap Fero, tanpa sadar dia mengungkapkan perasaannya selama ini.


"Kalau begitu ungkapkan perasaan anda itu. Saya percaya non Davi juga memiliki perasaan yang sama seperti yang anda rasakan."


"Benarkah?" Davin menatap Fero penuh harap.


"Mungkin anda harus sedikit berjuang untuk kebahagiaan anda. Jangan sampai orang lain datang lagi untuk membahagiakan istri anda." Saran Fero membuat Davin terdiam.


Dulu karena ada yang melamar hingga hampir menikahi kekasihnya Davin harus melakukan hal ekstrim menculik istrinya hingga berujung memperkosa dan membuat mereka harus kehilangan calon anak pertama mereka. Dan sekarang bayangan masa lalu terlintas kembali saat seorang pria yang sama hidup bahagia bersama istri dan anaknya.


"Tidak. Tidak boleh. Dia anakku, dia istriku. Mereka adalah milikku." Tegas Davin tiba-tiba berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Tuan muda, anda mau kemana?" Tanya Fero keheranan tiba-tiba melihat Davin berdiri dari duduknya sambil mengenakan jas kerjanya yang tadi disampirkan di sandaran kursi kerjanya.


"Aku mau mengunjungi istriku." Fero hanya tersenyum senang.


"Semoga berhasil tuan muda."


***


Disinilah Davin sekarang, di dalam mobil yang diparkir di depan gerbang rumah istrinya. Rumah tempat istrinya tinggal sejak kecil. Davin menoleh ke kursi penumpang di sisinya. Terdapat buket bunga mawar dengan sembilan puluh sembilan tangkai sebagai lambang perasaan cintanya. Begitulah yang dikatakan penjual bunga tadi.


Sesuai saran asistennya Fero, Davin meyakinkan dirinya untuk memperjuangkan istrinya kembali apapun yang terjadi dia akan memperjuangkan cintanya untuk istri dan anaknya. Davin seperti kembali ke masa lalu saat jatuh cinta pada istrinya yang dulu menjadi sekretarisnya. Dia tersenyum-senyum sendiri di dalam mobil mengingat dulu dia sangat tergila-gila pada istrinya meski sekarang pun masih sama bahkan semakin besar perasaan cintanya hingga berujung obsesi.


Davin meraih buket bunga itu hendak keluar dari dalam mobil. Namun gerakannya terhenti saat melihat istrinya yang sedang kesulitan berjalan sambil memegangi perutnya mengantar seseorang keluar dari dalam rumah. Hal itu sontak membuat dada Davin bergemuruh menahan amarahnya melihat siapa pria yang diantar keluar dari rumah itu.


Pria yang sama, pria yang melamar kekasihnya. Pria yang hendak menikahi istrinya dulu hingga dia nekat menculik istrinya dan disekap olehnya beberapa waktu hingga mereka menikah dan hamil anaknya.


Dengan membawa amarahnya dan rahang yang mengeras. Jemari tangan yang mengepal ingin segera memberikan bogem mentah pada pria itu. Davin langsung keluar dari dalam mobil langsung menarik kerah pria itu dan...


Bagh bugh bagh bugh


"Kyaaa..." Davi menjerit melihat perkelahian itu dan tampaknya hal itu akan terus berlanjut hingga pria itu tergolek lemah. Dan Davi segera menyuruh sekuriti yang berjaga untuk melerai mereka.


"Davin... cukup! Kau bisa membunuhnya! Davin... hentikan!" Teriak Davi sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba kram.


"Aduh." Keluh Davi yang langsung membuat Davin menghentikan pukulannya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Cemas dan panik Davin menangkap tubuh istrinya. Sekuriti yang sejak tadi memegangi Davin melerai perkelahian tak mampu menghentikan Davin yang sedang dilanda kemarahan namun begitu melihat Davi kesakitan memegangi perutnya hingga nyaris pingsan meski langsung ditangkap Davi.


"Kau tak apa-apa?" Cemas Davin menatap istrinya yang tiba-tiba pingsan.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2