Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 38


__ADS_3

"Apa yang kau sembunyikan dengan ayah?" tanya Ji An yang saat ini keduanya sedang tidur di kamar hotel setelah percintaan panas mereka.


Kini Ji An sedang tidur di dada bidang suaminya dengan Arthur mendekap erat tubuh istrinya posesif.


"Tidak ada." jawab Arthur mengecupi puncak kepala istrinya lembut.


Dan tangannya sudah sibuk untuk mencari tempat favoritnya dan meremasnya disana, membuat Ji An meringis nikmat.


"Ceritakan padaku! Kapan kau bertemu dengan pertama kali dengan ayah?" desak Ji An tak sabaran, sungguh dirinya tak menyangka kalau ayah dan suaminya pernah bertemu bahkan akan menjodohkan mereka jika Arthur tak menolaknya.


"Untuk apa? Toh kita akhirnya menikah." jawab Arthur masih setia tangannya di tempat itu.


"Akhhh.... sayang..." desah Ji An merasakan kenikmatan di tempat yang diremas suaminya.


Arthur mencium bibir istrinya yang dibalas dengan sama antusiasnya. Kini keduanya sudah larut kembali dalam gairah yang panas. Arthur mulai menelusuri seluruh tubuh istrinya tanpa terlewat satu inchi pun. Desahan demi desahan terdengar di seluruh kamar hotel itu.


Pasangan panas itu kini akan mulai kembali penyatuan yang sudah entah berapa kali mereka mendapatkan pelepasannya. Arthur begitu memperlakukan istrinya sangat lembut bagai kaca porselen yang sangat rentan. Hingga Ji An tak henti-hentinya meneriakkan nama suaminya disela-sela desahan dan pelepasannya yang entah sudah berapa kali didapatkannya.


Sungguh suaminya sangat lihai memperlakukan dirinya hingga terbang ke awang-awang, membuatnya terpesona dan takhluk di hadapan kelembutan dan perlakuan lembut sang suami yang sangat dicintainya.


"Aku mencintaimu baby..." bisik Arthur lirih di sela pelepasannya.


"Aku juga... sayang ..." jawab Ji An yang sudah terkulai lemas tak bertenaga dengan mata terpejam rapat karena kelelahan.


Sungguh tenaganya sudah benar-benar habis karena suaminya sudah meluluh lantakkan dirinya tanpa istirahat sama sekali. Kini terdengar nafas beraturan pada keduanya setelah terdengar nafas memburu karena pelepasan masing-masing.


***


"Ayah..." Ji An menyapa ayahnya yang baru saja membuka matanya saat matahari mulai menyinari ranjang tempatnya dirawat di rumah sakit.


"Putriku..." jawab Ji Sung mencoba bangun dari tidurnya dibantu Ji An yang sudah datang pagi sekali karena ingin merawat ayahnya.

__ADS_1


"Ayah mau ke toilet?" tawar Ji An menatap ayahnya.


Ji Sung mengangguk, dibantu Ji An untuk duduk di kursi roda. Ji An menyuapi ayahnya sarapan sambil berbincang-bincang hal-hal yang tidak penting namun tampak membuat mereka bahagia sekaligus pengganti perpisahan mereka yang sudah beberapa tahun lalu telah lewat.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Ji Sung begitu dia selesai minum obat dan Ji An sudah membereskan tempat makan itu.


Ji An menoleh menatap ayahnya yang juga menatapnya menunggu jawaban dari putrinya.


"Kami... sudah menikah siri." jawab Ji An singkat.


"Apa maksudmu siri? Kenapa kalian tak meresmikan segera hubungan kalian, putra kalian sudah sebesar itu." ucap Ji Sung. Ji An duduk di kursi dekat ranjang.


"Ayah harus sembuh dulu. Aku ingin ayah mengantarku menuju altar pernikahan." ucap Ji An membuat Ji Sung terharu dan tanpa sadar air matanya sudah menetes.


"Apa kau mengizinkan ayahmu ini?" Ji An tersentak.


"Apa maksudmu ayah, kau adalah ayahku satu-satunya tentu saja hanya ayah yang berhak untuk melakukannya." ucap Ji An sambil mengusap air mata ayahnya.


"Setelah ayah mertua sembuh, saya akan memberi kabar pada keluargaku untuk berkunjung kemari melamar putrimu ayah." sela Arthur yang baru muncul di ambang pintu.


Melihat Ji An bingung menjawab apa, Arthur berinisiatif untuk menjawab pertanyaan ayah mertuanya meski harus menyela percakapan kedua ayah dan putrinya itu. Arthur mendekati ranjang ayah mertuanya.


"Art..." keduanya menoleh bersamaan menatap Arthur.


"Bagaimana keadaan ayah mertua hari ini?" tanya Arthur setelah meletakkan parcel buah yang dibawanya untuk ayah mertuanya.


"Sudah lebih baik, tapi..." Ji Sung tak melanjutkan ucapannya, dia mengelus kakinya seolah memberi jawaban atas pertanyaan Arthur.


"Dokter mengatakan itu hanya lumpuh sementara, dengan terapi yang sedikit lebih sering, kaki ayah akan segera sembuh." jelas Arthur, sebelum dirinya ke ruang perawatan ayah mertuanya, dia menghampiri ruangan dokter yang menangani ayahnya meminta penjelasan tentang keadaan kakinya.


"Benarkah?" Ji An yang menyela ucapan Arthur.

__ADS_1


"Hmmm..... kita akan terus membantu dan mendukungnya." jawab Arthur menatap Ji An tersenyum penuh cinta dan mengecup bibir istrinya sekilas, tak peduli di situ ada ayah mertuanya.


Ji Sung hanya tersenyum simpul, bahagia sekali melihat putrinya begitu dicintai oleh orang yang tepat.


"Baiklah ayah... satu jam lagi kita akan ke ruang terapi. Lebih baik kita bersiap-siap." ucap Ji An memecah keheningan setelah rasa canggung karena perlakuan Arthur yang tak tahu tempat.


Aku kan malu, kenapa kau melakukan hal itu di depan ayah. batin Ji An dengan wajah memerah merona berdiri mempersiapkan kursi roda ayahnya.


"Aku yang akan mengantarkan ayah terapi." sela Arthur mengambil alih Ji An saat ingin memapah ayahnya.


"Art..."


"Kau harus menuruti apa kata suami." potong Arthur membuat Ji An terdiam, selalu kata-kata itu yang membuat Ji An tidak bisa membantah ucapan Arthur.


***


Zein sudah berhenti mencari keberadaan Hyung Jae atas perintah tuannya. Namun dia tetap memperketat keamanan dan pengawasan di sekitar hotel dan rumah besar tuan muda Kim.


Bisa saja pria brengsek itu akan mendatangi salah satu tempat tersebut untuk melancarkan aksinya berikutnya. Kondisi hotel perlahan sudah berjalan dengan stabil dan lancar. Pendapatan pun meningkat drastis saat dikelola Arthur.


Arthur mendatangi tuan besar Jung setelah kejadian penculikan dan korupsi yang terbukti dilakukan putranya. Dia hanya menunduk minta maaf tanpa mampu berbuat apa-apa. Dia juga tak tahu dimana kini tempat pelarian putra sulungnya itu. Korupsi yang dilakukan putranya hanya bisa digantikan dengan beberapa saham yang dimilikinya untuk menebusnya.


Untuk kasus penculikan Arthur tak menyalahkan tuan besar Jung karena dia sudah menyelidikinya bahwa tuan besar Jung tak tahu menahu tentang rencana putranya itu. Hingga Arthur hanya mengajukan syarat untuk jangan menyembunyikan keberadaan putranya itu jika dia mengetahuinya.


Akan lebih baik jika dia menyerahkan kepada pihak berwajib dengan sukarela jika tak mau Arthur akan menuntut dan membawanya ke meja hijau. Apalagi itu berhubungan dengan anak dibawah umur yang tak tahu apapun.


Untung saja putranya masih sempat diselamatkan, bagaimana kalau terjadi hal yang fatal pada putranya. Mungkin Arthur sudah menghancurkan milik pria tua itu yang sudah terkenal sebagai konglomerat pertama di negaranya.


Untungnya putranya secepatnya terselamatkan sehingga Arthur memberi sedikit kelonggaran dengan syarat jika mengetahui keberadaan Hyung Jae segera melaporkannya ke pihak berwajib. Dan tuan besar Jung menyanggupi hal itu.


TBC

__ADS_1


Maaf tak pandai basa-basi, semoga kalian suka dengan karya saya... kasih saran dan kritiknya ya... Makasih sudah membaca 🙏


__ADS_2