
Davi mencoba berkeliling di dalam lingkup villa. Setelah suaminya tak memberikan larangan untuk keluar kamar. Davi dibebaskan untuk berkeliling hanya sekitar halaman villa. Namun tetap dibatasi tanpa boleh keluar dari villa tersebut. Kepala pelayan menemani sang nyonya melihat-lihat sekeliling tempat yang ada di villa tersebut tanpa ditemani rekan lainnya berdasarkan permintaan Davi sendiri. Karena bagaimanapun dia risih kalau harus beberapa pelayan mengikutinya.
Villa yang hampir setengah tahun ditinggalinya ternyata begitu luasa dan indah. Kebun bunga dan hamparan luas yang ada di belakang dan samping kanan villa membuat villa tersebut sangat indah. Dengan terdapat gazebo di samping kanan villa tersebut bisa untuk beristirahat dan memanjakan mata jika dirinya bosan.
Dia sedikit menyesal tidak dari dulu berkeliling melihat-lihat sekitar villa. Saat dia berniat kabur dulu, dia tak begitu memperhatikan sekitar karena harus berlari sekencang mungkin demi bisa lolos. Namun sejauh dan sekencang apapun dia lari. Sepertinya takdirnya memang tidak semudah itu terlepas dari seorang Davin. Pria yang masih merajai hatinya hingga saat ini.
Meski kekecewaan berulang kali diberikan Davin padanya. Tapi perasaan itu tak juga menghilang. Malah semakin besar saja.
"Aku ingin menemui kakak." Suara pria dengan wajah cantik dan putih itu.
"Maaf tuan. Siapa anda? Siapa kakak yang anda maksud?" Tanya seorang pengawal yang berjaga tepat di depan gerbang.
"Ya, kau mau mati. Aku tahu kakakku tinggal disini." Serunya lagi tak mau kalah. Dia terus memaksa masuk ke dalam villa meski para pengawal mencekal lengannya kanan dan kiri.
Para pengawal lain yang mendengar sedikit keributan di gerbang villa berlarian mendekati gerbang membantu rekannya menghadang orang asing berparas cantik itu.
"Aku akan menghubungi kakakku." Seru pria itu mengambil ponselnya yang tidak murah itu.
Namun hingga panggilan ketiga kalinya ponsel kakaknya tidak bisa dihubungi alias sibuk.
"****, siapa yang dihubunginya hingga tak kunjung selesai." Umpat pria cantik itu.
"Tuan, tolong kerja samanya. Saya hanya menjalankan tugas. Orang asing dilarang masuk." Jawab salah seorang pengawal yang sepertinya merupakan pimpinan dari para pengawal itu.
"Lagian kenapa kakak meminta banyak pengawal untuk menjaga villa ini. Apa yang disembunyikan di dalam?" Seru pria cantik itu masih tidak mau menyerah menunjuk-nunjuk ke arah bangunan villa.
***
"Sepertinya ada keributan di depan gerbang bi?" Tanya Davi mendengar suara-suara orang ribut. Apalagi logat bicaranya terlihat asing dan aneh baginya.
"Sepertinya begitu nyonya." Jawab kepala pelayan mendekati seorang pengawal yang baru muncul di dekat mereka.
__ADS_1
Saat itu Davi meminta untuk beristirahat duduk di gazebo samping villa. Dia bosan jika harus menghabiskan waktunya di dalam kamar.
"Ada apa? Apa yang terjadi di depan?" Tanya kepala pelayan pada salah seorang pengawal itu.
"Ada pria asing yang mencari kakaknya. Dia memaksa untuk masuk." Jawab pengawal itu.
"Siapa?" Tanya Davi menyela percakapan mereka.
"Saya tidak tahu nyonya." Jawab pengawal itu sambil menundukkan kepalanya memberi hormat pada Davi.
"Kita lihat bi." Ajak Davi.
"Jangan nyonya! Nanti tuan muda marah." Saran kepala pelayan namun Davi sudah melangkah ke depan menuju gerbang langsung diikuti kepala pelayan yang langsung juga menarik pengawal tadi yang ditanyainya.
"Ada apa?" Tanya Davi membuat semua orang menghentikan gerakannya melihat sang nyonya muncul. Semua pengawal serentak langsung menundukkan kepalanya memberi hormat pada Davi. Davi mengalihkan pandangannya pada pria asing cantik yang juga menatapnya intens.
Pria itu memperhatikan dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala terlihat dia yang mengernyit heran dan aneh. Davi merasa risih mendapat tatapan seintens itu dari pria cantik ini. Meski bukan tatapan mes** kepadanya namun tatapan pria cantik itu terlihat bingung dan menilainya buruk.
"Jangan berani mendekati nyonya tuan!" Cegah pimpinan pengawal itu menghadang pria cantik itu yang hendak mendekati Davi. Dengan berdiri di depan Davi agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.
Bagaimanapun juga mereka belum tahu siapa pria asing cantik ini.
"Tidak apa pak. Aku akan coba bicara baik-baik dengannya." Ucap Davi ramah dari belakang tubuh pimpinan pengawal itu.
"Tapi nyonya, tuan muda tidak akan suka hal ini." Jawab pimpinan pengawal itu.
"Keributan tak akan selesai jika aku tak coba bicara padanya. Sedangkan tuan muda kalian tak bisa dihubungi." Jawaban Davi membuat pimpinan pengawal tadi berpikir sejenak. Dan menyetujui apa pendapat Davi.
***
"Boleh aku tahu siapa nama anda?" Tanya Davi pada pria cantik itu.
__ADS_1
Kini keduanya sudah duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu villa tersebut. Pria cantik itu sempat mengumpat kesal karena dilarang berkeliling di dalam villa karena merasa masih dianggap orang asing.
"Kau sendiri siapa?" Bukannya menjawab pria cantik itu malah balik bertanya. Dia duduk dengan mengangkat kakinya di atas kakinya yang lain. Terlihat elegan dan tampan namun juga cantik. Entahlah.
Davi menatap pria itu intens, meneliti semua yang melekat di tubuh sempurna pria cantik itu. Terlihat seperti bukan pria sembarangan. Namun Davi sendiri tak tahu menahu tentang semua keluarga Davin. Yang dia tahu keluarganya sedang berada di luar negeri. Davin hanya tinggal sendiri di dalam mansion besarnya. Hanya beberapa paman dan bibinya yang juga tinggal di negeri ini.
"Saya bertanya, siapa anda?" Tanya Davi sekali lagi berusaha untuk tidak terbawa emosi dengan tenang.
"Bukannya sopan santunnya harusnya anda memperkenalkan diri dulu baru kemudian bertanya?" Jawab pria cantik itu tenang dengan senyuman mengejek.
"Aku... Davi." Jawab Davi akhirnya tanpa mengenalkan diri siapa dirinya. Sambil mengulurkan jemari tangannya untuk berjabat tangan.
Tampak senyum seringai di bibir pria cantik itu setelah tahu siapa nama wanita itu namun dia tampak berpikir. Entah kenapa dia pernah mendengar nama itu.
"Kau? Siapanya kakakku?" Bukannya memperkenalkan diri dan menerima uluran tangan Davi, pria cantik itu malah bertanya lagi.
"Sejak tadi kau banyak bertanya tanpa memperkenalkan diri." Jawab Davi dingin. Pria berpikir lagi seolah menilainya.
"Aku Dika." Jawab pria cantik itu singkat. Dia ganti mengulurkan jemari tangannya untuk berjabat tangan yang ganti diacuhkan Davi.
"Lalu? Siapa kakakmu?" Tanya Davi sambil menyeruput teh nya dengan anggun.
"Kau sendiri siapanya kakakku? Pacar? Istri atau... simpanan?" Ucapan Dika mampu membuat tubuh Davi membeku, simpanan? Davi sontak mendongak menatap Dika terkejut. Bukannya Davin seorang lajang? Atau duda? Atau pria beristri? Batin Davi menatap Dika lekat sarat akan tatapan kekecewaan.
"Ah, kakakku Matt masih lajang, jangan salah paham dengan kata simpanan. Karena kakakku hendak dijodohkan. Tapi aku tak tahu kalau dia mempunyai seorang wanita disini. Dan sepertinya para pelayan dan pengawal tadi memanggilmu nyonya. Jadi... aku hanya bisa menyimpulkan kalau kemungkinan besar kau adalah istrinya. Istri yang tidak dikenalkannya pada keluarganya." Jawab Dika dingin dan tajam. Namun dia tak menampik kalau Davi adalah gadis cantik, mungil dan terlihat polos meski dia bersikap elegan dan anggun.
Ucapan Dika terasa menohok ke dalam hati Davi. Benar, aku hanya budak **** saja olehnya. Bahkan dia tak memperkenalkan diriku pada keluarga besarnya. Jadi, aku hanya orang ketiga dari perjodohannya? Batin Davi mencelos mencerna ucapan Dika.
.
.
__ADS_1
TBC