
Davi terdiam setelah mengamuk membanting semua barang-barang yang ada di kamar itu. Bahkan dia juga membuang makanan yang disiapkan pelayan dan membantingnya hingga berserakan di lantai.
"Keluar! Pergi kalian! Keluar!" Teriak Davi bagai orang kesetanan.
Dia melempari para pelayan yang ada di kamarnya.
"Nona makanlah dulu! Anda belum makan apapun sama sekali selama tiga hari ini." Bujuk Kepala pelayan, dia sudah melakukan berbagai cara untuk membujuk Davi makan namun selalu ditolak.
Dia harus melakukan apa yang diperintahkan tuan mudanya mengurus baik-baik Davi namun sepertinya dia masih sangat marah dan dendam pada tuan mudanya.
Bahkan dia sudah berusaha kabur dari kamar entah sudah berapa kali dan berakhir pingsan belum sampai gerbang. Selain karena para pengawal yang sudah diperketat juga karena tubuh lemah Davi karena kurang asupan makanan.
Para pelayan terpaksa menuruti keinginan Davi meninggalkan kamar karena Davi terus mengamuk. Kepala pelayan tak mau terjadi sesuatu dengan Davi.
"Hiks ..hiks...hiks... ayah ibu, tolong Davi! Hiks... hiks..." Tangis Davi terkulai lemas di lantai setelah mengamuk dengan begitu hebatnya.
Entah sudah berapa lama dia dikurung di dalam kamar tanpa diperbolehkan pergi. Keluar dari kamar saja tidak diizinkan apalagi keluar dari rumah. Setiap hari Davi hanya terkurung dalam kamar tanpa melakukan apapun selain tidur makan dan mengamuk. Hari ini sudah kesekian kalinya Davi mengamuk dan berusaha melarikan diri namun gagal.
Davin sendiri setelah meeting hari itu, dia langsung pergi perjalanan bisnis karena ada yang mendesak di luar kota. Hingga sudah hampir seminggu ini belum pulang. Namun kepala pelayan selalu memberikan kabar setiap hari tentang Davi.
Kini dia sedang duduk di kursi kebesarannya di cabang perusahaannya yang sedang mengalami masalah. Apalagi, lagi-lagi korupsi yang merajalela di perusahaan. Walaupun dia sudah menangkap semuanya yang berkaitan, Davin masih harus menyelesaikan masalah ini dengan pihak berwajib.
Jadi Davin harus ada di sana untuk membuat pernyataan. Dia hanya bisa memijit pelipisnya yang terlihat tidak baik-baik saja karena baru saja mendapat kabar kalau Davi mengamuk dan tidak mau makan serta berusaha melarikan diri lagi dan berakhir dengan pingsan sebelum mencapai gerbang.
'Kalau kau sampai berhasil kabur, aku akan mengikatmu di ranjang. Kalau perlu aku akan memasungmu sampai kau tidak bisa melarikan diri dariku lagi Davi, kau hanya milikku selamanya. You are mine.' Batin Davin mengep kuat.
Sudah berulang kali penolakan dan pemberontakan yang dilakukan Davi. Namun semua berujung dengan pingsan dan terkulai lemas dan jarum infus mau tak mau kembali menancap di pergelangan tangannya.
***
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Kepala pelayan setelah dokter perempuan itu memeriksa Davi.
Apalagi kali ini Davi mencoba mengiris pergelangan nadinya hingga lemas dan pingsan tergeletak di kamar mandi.
__ADS_1
"Sekarang dia baik-baik saja. Saya sudah memberikan suntikan obat dan menjahit lukanya. Akan sembuh dalam beberapa hari ke depan. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam jadi dia bisa segera diselamatkan." Jelas dokter itu.
"Terima kasih dokter." Jawab kepala pelayan itu lega.
Sebenarnya dia kasihan melihat keadaan Davi namun dia hanyalah seorang pelayan. Dia sudah membujuk dan bicara baik-baik pada Davi agar menurut saja. Namun sepertinya Davi tidak mengindahkannya.
"Apa tuan muda belum pulang?" Tanya dokter itu lagi sebelum berpamitan.
"Tuan muda masih perjalanan bisnis ke luar kota. Katanya besok baru pulang." Jawab kepala pelayan itu.
"Huff... Aku harap setelah ini berhati-hati karena nona sedang dalam keadaan hamil dan janinnya sangat lemah, usianya baru memasuki dua minggu. Jadi bujuklah untuk tetap makan sehat demi janinnya." Jelas dokter itu lagi.
Sebenarnya dia ingin menyampaikan langsung pada tuan muda namun karena dia tidak ada. Dokter itu terpaksa mengatakannya pada kepala pelayan demi mencegah Davi melakukan hal fatal lebih buruk lagi.
"Dia hamil dok?" Tanya kepala pelayan itu tak percaya.
"Iya. Saya akan meresepkan obat yang baik untuk ibu hamil sekalian vitamin untuk menjaga kondisi tubuhnya." Ucap dokter itu sambil menyerahkan selembar kertas pada kepala pelayan itu.
***
Davi lagi-lagi membuka matanya setelah sore hari, dia tertidur hampir setengah hari. Dia menatap pergelangan tangannya yang diperban karena aksi nekatnya untuk mengakhiri hidupnya. Lagi-lagi dia gagal.
"Hiks ..hiks..." Davi lagi-lagi menangis.
Dia meratapi hidupnya kenapa menjadi seperti ini. Dia berbaring miring sambil menangis sesenggukan. Bahkan dia tak habis pikir akan sampai kapan dia harus ada di sini. Dikurung di dalam kamar.
Hingga entah sudah berapa lama dia menangis dan akhirnya tertidur pulas mungkin karena kecapekan.
***
Entah karena apa, Davi merasakan elusan hangat di dahinya. Dia merasakan nyaman dalam tidurnya. Bahkan elusan itu lebih membuatnya sedikit tenang. Namun saat mengingat dimana dia berada saat ini Davi langsung membuka matanya terkejut. Wajah Davin kini ada di depan matanya tersenyum lembut sambil mengelus-elus rambut Davi penuh cinta.
"Kau sudah bangun?" Ucapan Davin membuat lamunan Davi buyar.
__ADS_1
Dia langsung tersentak kaget dan terduduk dengan refleks mendorong tubuh Davin yang tak bergeming sedikitpun.
"Untuk apa kau disini. Pergi!" Teriak Davi sambil memundurkan tubuhnya hingga mentok di ujung ranjang dengan selimut ditarik sampai batas leher dan infus masih menancap di pergelangan tangannya.
Bahkan dia merasakan kepalanya berdenyut karena bangun dengan spontan dalam tidur lelapnya.
"Hati-hati sayang! Kau akan jatuh jika terus mundur." Tegur Davin lembut, dia sudah mendapat kabar dari kepala pelayan begitu dia sampai kalau kekasihnya yang 'dikurung' sedang hamil anaknya.
Davin sangat bau sekali mendengar kabar itu. Inilah yang ditunggunya saat ini. Dengan begitu dia bisa mengikat Davi lebih erat dengan anak diantara mereka.
"Keluar! Pergi! Aku tak mau melihatmu! Pergi!" Teriak Davi tak peduli.
"Aww..." Davi merintih sambil memegangi perutnya yang terasa sakit dan kram.
"Aduh .." Davi semakin memegangi perutnya dengan erat karena sakit yang begitu sangat di perut bawahnya.
Davin terlihat cemas dan langsung mendekati Davi yang terlihat meringkuk kesakitan di ranjang.
"Sayang, kau kenapa? Apanya yang sakit? Sayang..." Tanya Davin semakin cemas dan panik melihat darah mengalir di sela-sela paha Davi.
"Tidak sayang, bertahanlah!" Ucap Davin meraih ponselnya untuk menghubungi dokter Davi.
"Dokter cepat datang dalam waktu sepuluh menit. Atau kau akan menjadi mayat!" Titah Davin dengan nada penuh ancaman.
Dokter perempuan kemarin bergidik ngeri mendengar ancaman tuan muda yang sudah menjadi dokter pribadi kekasih, entahlah!
Dia bergegas menuju villa yang didatangi kemarin yang lumayan jauh dari lokasinya, namun dia tetap segera harus datang karena takut dengan ancaman tuan muda yang tidak main-main itu.
.
.
TBC
__ADS_1