Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 44


__ADS_3

"Selamat datang tuan." Sapa sopir pribadi Davin saat melihat Davin dan seorang wanita berjalan keluar dari bandara tempat mengambil barang-barangnya.


"Hmm." Davin hanya menjawab dengan deheman.


"Selamat siang." Sapa Su Jin sambil mengangguk kepalanya sopan pada pria paruh baya sopir pribadi Davin.


"Selamat siang nona." Sapanya balik.


Sopir itu mengambil semua koper bawaan kedua majikannya dan memberi jalan menuju mobilnya diparkir.


Davin masuk ke dalam mobil setelah dibukakan sopirnya begitu juga Su Jin ikut masuk ke dalam mobil duduk di sebelah Davin duduk yang tentu saja dibukakan pintunya juga oleh sopir itu.


"Sopir akan mengantarmu ke apartemenku nanti. Setelah mengantarkan ku ke kantor. Kau istirahatlah, besok kau bisa mulai bekerja di kantorku." Ucap Davin saat dalam perjalanan menuju gedung perusahaan miliknya.


"Iya baiklah." Jawab Su Jin menurut karena dia memang benar-benar lelah setelah menempuh penerbangan hampir tujuh jam.


***


Kiriman hadiah dan makanan bergizi untuk ibu hamil terus berdatangan setiap harinya dengan menu yang berbeda dan menu-menu itu memang baik dan dikhususkan untuk ibu hamil agar tidak mual karena morning sickness. Dan anehnya Davi benar-benar bisa memakannya sampai habis tanpa ada penolakan sedikit pun dari perutnya. Dan alhasil kini berat badan Davi mulai tambah berisi lumayan berat dengan perut yang mulai terlihat sedikit membuncit.


Pengacara sudah hampir lima kali datang pasca dia meninggalkan rumah sakit. Sudah sebulan lebih sejak itu. Namun Davi masih tetap keukeuh untuk tidak akan menanda tangani berkas perceraian itu sebelum bertemu dengan Davin. Davi memang keras kepala jika pada orang lain namun saat berhadapan dengan Davin dia seperti istri penurut meski suaminya itu memperlakukannya kurang baik.


Namun entah kenapa dia merasa rindu pada sosok yang memaksakan segala kehendaknya padanya itu. Dulu dia tidak menyukai setiap paksaan Davin padanya meski dia tak bisa membantahnya saat itu. Namun sekarang dia ingin kembali dipaksa oleh suaminya hingga tanpa sadar air matanya meleleh mengalir di pipinya.


"Hiks... hiks... kamu kemana Davin. Aku merindukanmu." Bisik Davi lirih di dalam kamarnya.


Prang


Davin tidak sengaja menyenggol gelas yang ada di meja kerjanya. Entah kenapa dia merasa perasaan tak enak di dadanya. Fero segera menghampirinya karena dia memang berniat masuk ke dalam ruang kerja Davin untuk melaporkan sesuatu pada tuannya.


"Anda baik-baik saja tuan?" Tanya Fero mencegah Davin yang hendak memunguti pecahan gelas itu dengan linglung.


Davin tersentak mendengar ucapan Fero dan kembali beranjak duduk di kursi kerjanya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarnya?" Tanya Davin tanpa sadar.


"Ah bukan... itu.." Davin menjambak rambutnya kasar merasa dirinya tidak baik-baik saja. Dia..


sangat merindukan istrinya itu.


"Anda yakin baik-baik saja tuan?" Tanya Fero memastikan Davin.


"Aku mau istirahat satu jam sebentar. Setelah itu bangunkan aku! Hubungi Arman untuk menemuiku setelah itu." Titah Davin masuk ke dalam kamar pribadinya yang ada di belakang meja kerjanya di ruang kantornya.


"Baik tuan." Jawab Fero tak melanjutkan pertanyaannya. Dia segera menghubungi OB untuk membersihkan pecahan gelas itu.


***


Arman duduk di sofa ruang kerja Davin menunggu Davin keluar dari dalam kamar pribadinya di kantor itu. Arman duduk gelisah di sofa karena dengan tujuan apa dia diminta untuk datang kemari setelah beberapa hari Davin pulang ke negara ibunya.


Cklek


"Iya tuan." Jawab Arman ragu. Davin duduk di depan Arman duduk menunggu informasi yang diinginkan.


Tanpa Davin bertanya Arman sudah tahu tentang apa yang ingin dibahas tuannya itu.


"Nona masih belum bersedia menanda tangani berkas itu tuan." Sesal Arman menundukkan kepalanya merasa bersalah dan siap dimarahi.


"Huff... apa masih dengan alasan yang sama?" Tanya Davin saling menyedekapkan kedua tangannya di dadanya.


"Kau bisa bilang untuk menghubungi ponselku." Ucap Davin.


"Nona mengatakan tak menggunakan ponselnya lagi." Jawab Arman menatap wajah kesal Davin yang ditahan. Selain kesal, Arman tahu kalau tuannya itu juga merindukan istrinya yang hendak diceraikannya.


Kalau kalian masih saling mencintai kenapa harus bercerai. Dan kenapa aku yang harus repot. Batin pengacara itu.


"Kau bujuk terus. Nanti aku kabari lagi." Jawab Davin setelah lama terdiam mencerna ucapan Arman.

__ADS_1


"Saya permisi tuan." Davin hanya mengangguk.


***


Davi duduk di ranjang kamarnya menatap luar jendela setelah mandi. Ketukan pintu bi Sum membuyarkan lamunan Davi.


"Masuk bi!" Ucap bi Sum.


Cklek


"Ada apa bi?" Davi belum menyelesaikan pertanyaannya, namun melihat paper bag yang tidak asing di tangan bi Sum dia jadi bisa menebak ada keperluan apa asisten rumah tangganya itu.


"Makan malam sudah datang non." Jawab bi Sum masuk ke dalam, meletakkan paper bag berisi makanan yang masih hangat dan tentu saja baru saja dimasak di meja seperti titah Davi.


"Makasih bi." Jawab Davi lemah tidak bersemangat.


"Jaga kesehatan non dan calon bayi non!" Saran bi Sum membuat Davi tersentak dan akhirnya tersenyum paksa sambil menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan bi Sum.


"Makasih bi."


Setelah bi Sum keluar kamarnya, Davi mendekati paper bag itu dan membuka isinya. Entah kenapa makanan yang tidak membuatnya bersemangat itu malah membuat perutnya seketika merasa lapar dan menginginkan makanan itu.


"Apa perasaanmu sudah menghilang dengan begitu mudahnya, setelah hatiku siap untuk menerimamu? Hiks...hiks..." Lirih Davi tanpa sadar air matanya menetes.


"Aku rela kau mengurungku asal selalu bersamamu. Aku mencintaimu Davin. Aku merindukanmu." Bisik Davi terisak di dalam kamarnya sendiri sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2