Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 24


__ADS_3

Davi masuk ke dalam kamarnya tak selera lagi untuk makan sarapannya setelah mendengar kalimat Davin tadi. Cepat atau lambat dia harus siap untuk melayani suaminya. Bagaimana pun Davin bukan orang yang munafik yang juga menginginkan kehangatan tubuh seorang wanita. Apalagi pengalaman Davin sebelum mengenal Davi selalu berpetualang dengan berganti-ganti wanita.


Namun sejak memperk**a istrinya yang belum menjadi istrinya saat itu. Davin kehilangan semangat bercintanya dengan wanita lain. Dia selalu terbayang-bayang wajah Davi setiap hendak memuaskan hasratnya saat Davi membencinya. Hingga akhirnya keguguran yang dialami Davi membuatnya bertekad untuk meresmikan hubungannya dalam pernikahan.


"Berapa jauh lagi?" Tanya Davin terlihat bosan di dalam mobil karena tak kunjung sampai.


Perasaannya terlihat kacau tak bisa konsentrasi saat meninggalkan istrinya di villa. Dia ingin sekali menerkam istrinya saat itu juga. Bagaimana pun istrinya terlihat mempesona membuat dirinya tak tahan di bawah tubuhnya.


"Masih dua puluh menit lagi tuan." Jawab Fero.


***


"Ada yang anda butuhkan nyonya?" Tanya kepala pelayan saat dia sudah tiba di dalam kamar Davi.


"Aku...aku..." Davi kembali terdiam ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Entah kenapa wajahnya seketika memerah malu padahal belum mengatakan maksud keinginannya.


"Apa nyonya ada yang diinginkan?" Tanya Kepala pelayan menahan senyumannya melihat tingkah sang nyonya yang terlihat menggemaskan dan lucu. Apalagi semburat merah terlihat jelas di pipi putihnya.


"Boleh aku pinjam ponsel?" Ucap Davi menemukan solusi lebih mudah untuk menutupi rasa malunya.


Namun kepala pelayan itu terdiam seketika bingung menjawab ucapan Davi. Tuan mudanya mewanti-wantinya untuk tidak memberikan barang-barang elektronik yang bisa menimbulkan untuk dapat menghubungkannya dengan dunia luar terutama orang tua sang nyonya.


"Maaf nyonya. Tuan muda melarang semua orang menggunakan ponsel di villa ini terutama saat bekerja. Dan semua orang baik pelayan maupun pengawal tak diizinkan." Jelas Kepala pelayan menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Apa maksudmu? Seketat itu dia mengawasi ku?" Jawab Davi seketika merasa marah dan terkekang.


"Maaf nyonya." Jawab kepala pelayan itu merasa bersalah.

__ADS_1


"Huh... aku benar-benar seorang tahanan ya? Haha..." Ucap Davi tertawa getir dan geli meski akhirnya terdiam tak bicara lagi. Dia memilih membuang pandangannya ke luar jendela melalui harinya seperti hari-hari sebelumnya.


"Maaf nyonya. Bukan seperti itu maksud tuan, dia terlalu mencintai anda hingga..."


"Mencintai? Kau bilang ini yang namanya mencintai? Mengurungku, mengekang ku, tak mengizinkan aku keluar rumah seperti seorang tahanan?" Teriak Davi kesal. Dia segera mengendalikan kewarasannya saat menyadari siapa yang ada di hadapannya ini.


Percuma jika dirinya harus berteriak pada orang yang tidak bersalah seperti kepala pelayan. Bagaimana pun mereka memang dibayar untuk menuruti apa yang dikatakan tuannya.


"Pergilah bi! Aku tak mau meneriakimu lagi. Jangan sampai aku merasa bersalah padamu!' Ucap Davi merendahkan nada suaranya.


"Saya permisi nyonya." Pamit kepala pelayan undur diri meninggalkan kamar Davi.


Davi kembali duduk di sofa yang menghadap jendela kaca di dalam kamarnya yang langsung ke arah pemandangan di taman samping villa itu.


"Ayah...hiks...hiks...ibu...hiks...aku merindukan.


***


"Apa masih belum juga?" Tanya Davin merasa gelisah saat menunggu Fero mengutak-atik laptopnya sedangkan dirinya menanda tangani berkas laporan yang sudah ditelitinya.


"Ini lebih lama tuan. Karena ternyata begitu banyak yang sudah tidak sesuai dengan laporan." Jawab Fero terlihat semakin cemas saat kembali meneliti laporan yang terdapat banyak sekali kecurangan.


"Apa yang dilakukan Niko hingga terjadi banyak kecurangan seperti itu?" Seru Davin semakin kesal dan marah.


"Dan ini, apa-apaan laporan yang terlihat aneh ini. Sekilas terlihat kalau laporan yang mereka buat tidak sesuai dengan hasilnya. Apa mereka mau membohongiku. Berani sekali mereka!' Seru Davin menatap horor pada laporan itu. Kalau saja mata Davin mengeluarkan api pasti laporan berkas itu sudah hangus terbakar.


"Sepertinya kita akan menginap tuan." Ucap Fero membuat Davin seketika langsung melotot tak suka pada Fero.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Seru Davin menatap Fero nyalang. Fero yang tak mau disalahkan langsung menggeser laptopnya hingga berada di depan Davin agar tuannya tahu sendiri apa yang ditemukannya.


"Brengsek mereka semua. Titah anak buah kita untuk menangkap mereka semua. Sepertinya aku harus memberi pelajaran pada mereka semua. Brengsek!" Umpat Davin kesal. Lebih kesal lagi bahwa dirinya tidak bisa pulang malam ini, padahal malam ini dia akan nekat menyerang istrinya meski ditolak. Mengingat hal itu, tubuh bawahnya langsung berkedut di bawah sana.


***


"Waktunya makan malam nyonya." Ucap kepala pelayan saat pintu kamar dibuka Davi.


Davi terdiam menatap Kepala pelayan intens. Dia ingin bertanya tapi gengsinya terlalu besar.


"Nyonya ingin makan di kamar atau di meja makan?" Tanya Kepala pelayan menyarankan.


"Aku..."


"Tuan tidak bisa pulang hari ini. Pekerjaan di luar kota sepertinya serius hingga tuan harus menginap entah berapa hari." Jelas kepala pelayan yang seolah tahu maksud Davi yang mengurungkan ucapannya. Davi mengangguk mengiyakan meski sebenarnya tak terlalu penasaran dengan kabar suaminya. Namun entah kenapa dia sedikit kecewa dan sedih mendengar suaminya tak pulang malam ini.


"Bukankah tak ada ponsel yang digunakan di villa ini?" Pertanyaan Davi sontak membuat Kepala pelayan terdiam, dia ragu untuk menjelaskan pada sang nyonya sesuai perintah tuannya.


"Biar tuan sendiri yang menjelaskan pada nyonya. Saya tidak punya kuasa untuk menjelaskan pada nyonya." Jawab kepala pelayan menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Huff.. Aku akan makan di meja makan." Ucap Davi mendengar penjelasan Kepala pelayan yang terlihat aneh dan sedikit menjengkelkan dirinya.


.


.


TBC

__ADS_1


Maafkan typo


__ADS_2