Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 49


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Davin sore itu di ruang kerjanya. Dewi masuk dengan ragu untuk mengatakannya.


"Tuan Arman ingin bertemu tuan?" Jawab Dewi.


"Masuk!" Titah Davin setelah merenung, ada apa tiba-tiba Arman muncul. Dia mengatakan dengan tegas beberapa waktu lalu, jika dia jangan pernah kembali sebelum mendapatkan apa yang dimintanya.


"Selamat sore tuan." Sapa Arman sedikit ragu menatap Davin yang menatapnya tajam. Dewi segera meninggalkan ruangan Davin kembali ke mejanya.


"Ada apa?" Tanya Davin masih menunggu kata-kata Arman yang membuatnya penasaran.


"Saya sudah mendapatkan apa yang anda inginkan." Jawab Arman yakin sambil merogoh tas kerjanya dan menyerahkan berkas perceraian milik Davin.


Davin menatap tajam dan dingin pada berkas yang dihapali adalah gugatan perceraian dari istrinya. Padahal beberapa waktu lalu istrinya masih keukeuh tak mau menanda tanganinya dengan alasan ingin bertemu dengannya entah untuk apa. Tapi sekarang, kemarin bukannya mereka seharusnya bertemu dan gagal.


Apa dengan begitu mudahnya dia berubah pikiran?


Entah kenapa dia merasa janggal di sini namun apa itu membuat Davin terdiam lama menatap tanda tangan istrinya terbubuh di tempat tanda tangan yang seharusnya. Dan itu membuat Davin kecewa dalam hati kecilnya.


Bukankah ini yang kau inginkan? Kenapa sekarang kau seperti menyesal? Batin Davin.


"Setelah makan siang, nona menghubungi saya untuk segera datang ke rumahnya. Dia meminta berkas itu dan langsung menanda tanganinya tanpa bicara apapun. Beliau hanya berpesan untuk menghentikan pengiriman makanan dan camilan. Dia berjanji akan makan makanan yang bergizi untuknya dan calon anaknya. Itulah yang dikatakan nona tadi." Tanpa Davin bertanya Arman langsung menjelaskan segalanya yang mendapat tatapan mata sendu sekilas dari manik mata tuan mudanya itu.


"Kau boleh pergi, kau urus sisanya." Titah Davin melemparkan berkas itu ke depan tepat di depan meja Arman duduk di depan meja kerjanya. Davin langsung mengalihkan pandangannya ke arah berkas-berkasnya di meja yang menggunung.


"Apa ada yang ingin anda katakan lagi tuan?" Tanya Arman ragu, dia merasa kalau tuan mudanya terlihat menyesali semuanya.


"Tidak." Jawab Davin singkat pura-pura sibuk membaca berkas-berkas pekerjaannya.


"Kalau begitu saya permisi tuan." Davin tak menjawab, Arman langsung pergi meninggalkan ruang kerja tuan mudanya.


Tanpa sadar berkas-berkas yang pura-pura dibaca Davin basah oleh tetesan air yang turun entah dari mana hingga isakan kecilpun terdengar lirih dari ruangan itu.


***

__ADS_1


"Apa Fero ada di ruangannya?" Tanya Arman pada Dewi saat dia sudah keluar dari ruang kerja Davin.


"Ada pak." Jawab Dewi singkat.


"Hmm." Jawab Arman tersenyum getir dan langsung menuju ruang kerja Fero.


"Kau sibuk?" Tanya Arman langsung menyelonong masuk ke dalam ruang kerja Fero tanpa persetujuan pemilik ruangan. Meski dia tahu Fero sibuk dengan beberapa berkas juga. Arman tak peduli dan langsung duduk di sofa ruang kerja Fero. Arman adalah pamannya namun Fero yang bertampang dingin tak pernah bisa basa-basi atau bercanda dengan siapapun.


"Ada apa? Paman sepertinya punya banyak waktu senggang." Sindir Fero sibuk lagi dengan pekerjaannya. Bagaimana pun juga Fero lah yang menunjuk pamannya untuk menjadi pengacara kepercayaan perusahaan Davin karena dia sangat mengenal baik dengan karakter pamannya yang membela kebenaran dan keadilan.


"Huff... sepertinya aku akan menunda mengurus perceraian tuan muda." Ucap Arman menghela nafas panjang.


"Apa maksud paman?" Tanya Fero mengehentikan pekerjaannya.


"Aku sudah mendapatkan tanda tangan dari nona."


"Lalu?"


"Lalu?"


"Bagaimana menurutmu? Apa aku yang salah lihat, tuan muda terlihat menyesal telah mengajukan gugatan cerai ini." Arman menatap Fero meminta pendapatnya.


"Tuan muda memang masih mencintainya." Jawab Fero akhirnya.


"Kalau masih mencintainya kenapa dia ingin bercerai?"


"Entahlah, dia tak mau menyakiti istrinya."


"Bukannya mereka saling mencintai, kenapa tidak mencoba untuk saling menerima, apalagi sudah ada anak diantara mereka." Saran Arman.


"Entahlah."


"Sementara aku mau menundanya dulu. Sampai tuan muda mendesaknya, aku akan mengurusnya. Aku tak mau mereka menyesal kemudian." Arman berdiri dari duduknya meninggalkan ruang kerja Fero.

__ADS_1


Fero terdiam mencerna ucapan pamannya. Mereka memang saling mencintai tapi kenapa tuan muda bersikeras kalau nyonya tidak pernah mencintainya? Bahkan dia akan bertunangan dengan gadis itu. Fero menggeleng-gelengkan kepalanya membuang pikiran yang tidak seharusnya dia pikirkan. Dia memilih fokus pada pekerjaannya.


***


Su Jin membuka matanya perlahan menatap kamar apartemen tempatnya tinggal di tanah air saat ini. Tadi saat hendak makan siang entah kenapa nyeri perutnya kembali datang hingga terpaksa makan siang mereka batal. Dan entah siapa yang ingin ditemui oleh Davin dengannya.


Kini perutnya sudah lebih baik mungkin cuaca disini yang berbeda dengan negara asalnya sehingga efeknya berbeda seperti biasanya sesuai dengan ucapan dokter tadi. Saat Davin membawanya ke rumah sakit, Su Jin menolak keras karena dia yang akan malu jika dokter memeriksanya karena hanya sakit datang bulan saja. Hingga akhirnya Davin membawanya pulang ke apartemennya dan meminta dokter untuk datang memeriksanya.


Su Jin bangun dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sekaligus mengganti pembalutnya yang mungkin sudah penuh.


'Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?' Isi pesan yang dikirim Davin pada ponsel Su Jin.


'Iya, aku baik-baik saja." Jawab Su Jin dalam pesannya.


'Kau istirahatlah dulu, besok kalau belum sembuh tidak usah kerja dulu.' Balas pesan dari Davin.


'Iya, terima kasih.'


Su Jin tersenyum membaca pesan dari Davin. Entah kenapa dia bahagia mendengar perhatian Davin tanpa diketahui di tempat lain.


"Apa tuan sudah menanyakan keadaan nona Su Jin?" Tanya Fero saat menunggu Davin di ruangannya karena sudah waktunya kerja.


"Oh iya, coba kau kirim pesan padanya." Titah Davin menyodorkan ponselnya, dia pun masuk ke dalam kamar mandi. Fero sedikit ragu mengetikkan pesan itu. Dan akhirnya mengetiknya seolah tuan mudanya yang mengirimkan pesan padanya.


"Nona Su Jin sepertinya sudah lebih baik tuan." Beri tahu Fero setelah meletakkan ponsel tuannya bertepatan dengan Davin yang keluar dari dalam kamar mandi.


"Hmm. Selama dia disini, kau urus dia dengan baik." Titah Davin membuat Fero melongo dan langsung mengendalikan dirinya. Setelah kejadian pertemuan mereka yang pertama kali membuat Fero sedikit canggung bertemu dengan wanita itu.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2