Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 43


__ADS_3

"Maaf non permisi!" Ucap bi Sum masuk ke dalam saat ada tamu.


"Ada apa bi?" Tanya Davi melihat asisten rumah tangga orang tuanya muncul ke kamarnya.


"Ada kiriman dari seseorang non." Bi Sum mengulurkan sebuah bingkisan yang ditebaknya adalah makanan karena baunya yang sedap menguar dari bingkisan itu.


Davi menerima bingkisan itu dan melongok ke dalamnya memang makanan. Tapi dari siapa? Makanannya terlihat lezat dan bergizi. Menggugah selera Davi yang memang sejak pagi tak bernafsu makan namun dia tidak merasakan mual.


"Dari sisa bi?" Tanya Davi menatap asisten rumah tangganya.


"Gak tahu non. Katanya untuk non Davi dan diharapkan makan demi kesehatan keduanya. Gak tahu maksudnya gimana?" Jawab bi Sum yang juga terlihat kebingungan.


Ini sudah makanan hari ketiga setelah dia kembali ke rumahnya. Dan tidak hanya makanan yang datang. Banyak perlengkapan untuknya dan juga calon bayinya. Padahal masih berusia tujuh minggu. Dan semua kiriman itu tidak bisa dibatalkan alias Davi mau tak mau harus menerimanya. Meski Davi sudah mengancam akan membuangnya namun tetap tak membuat pengirim yang hanya seorang jasa pengiriman itu jera.


Tak hanya itu, notifikasi pengiriman uang di rekening banknya tiba-tiba juga bertambah dengan nominal yang drastis amat sangat besar. Davi dibuat melongo dengan nominal nol yang lebih dari dua belas digit.


Dan Davi pun sudah bisa menebak dari semua kiriman-kiriman barang itu termasuk uang yang ada di banknya. Dan entah kenapa dia tak bisa mengirim kembali uang-uang itu. Davi pernah menghubungi pihak bank, namun jawaban mereka tak bisa memberikan informasi apapun tentang nasabah mereka.


"Jadi, kau benar-benar membuangku? Dengan memberikan uang sebagai kompensasi untuk anak kita?" Guman Davi menggigit bibirnya merasakan perhatian dengan uang dan kiriman-kiriman barang dari Davin tentunya.


Saat pengiriman pertama, ayahnya bertanya-tanya dari siapa dan untuk apa semua itu. Davi seketika gugup. Dia yang awalnya ingin menyembunyikan tentang kehamilannya akhirnya mengatakan yang sebenarnya pada ayahnya. Dan tentu saja ayahnya langsung murka mendengar putrinya diceraikan saat sedang hamil. Dan mau tak mau Davi menceritakan semuanya tentang Davin dan keadaan selama pergi dari rumah.


Namun Davi masih merahasiakan beberapa hal, termasuk pemerkosaan, penculikan, dan perlakuan Davin yang mengurungkan di istana megahnya dan lagi tentang keguguran calon anak pertama mereka. Sehingga kemarahan ayah Davi tak terlalu dan memilih untuk memaafkan dan melupakan kesalahan menantunya yang sebentar lagi akan menjadi mantan menantunya.


Namun ternyata ayah Davi tak semudah itu memaafkan pria yang menjadi menantunya itu. Diam-diam ayah Davi menemui Davin ke kantor tempatnya bekerja namun selalu tidak ada di tempat dengan alasan sedang melakukan perjalanan bisnis. Dan selama dua hari ini dia datang ke kantor Davin namun Davin masih tetap tak ada di tempat.

__ADS_1


Ayah Davi memutuskan menyerah terlebih dahulu. Dia memilih untuk membawa istrinya dirawat di rumah sakit tentu saja dengan uang dari Davin yang ditawarkan Davi untuknya. Ayah Davi tak peduli asal uang itu asal bisa mengobati istrinya dia akan menggunakan uang itu untuk pengobatan istrinya yang tidak sedikit.


Sekarang ayah Davi masih setia menunggui istrinya di rumah sakit. Dia mempercayakan putrinya pada bi Sum di rumah untuk menjaganya.


***


"Kami memutuskan untuk menerima perjodohan ini." Ucap Su Jin setelah berbincang sebentar dengan Davin berdua. Davin hanya terdiam tak mengatakan apapun. Dia memutuskan untuk percaya pada temannya.


"Benarkah?" Tanya Ji An tak percaya menatap keduanya bergantian. Meski raut wajah Davin tak menampakkan kebahagiaan tapi dia juga tak terlihat sedih atau menolak.


"Tapi?" Su Jin menggantung kalimatnya melirik ke arah Davin yang tetap terdiam.


"Iya?" Ji An kembali menatap wajah Su Jin.


Ini bukan seperti kesepakatan kita. Batin Davin menatap Su Jin tajam.


Su Jin meraih jemari Davin yang ada di bawah meja untuk menenangkannya. Berusaha memberikan penjelasan lewat genggaman tangannya.


"Benar itu Matt?" Tanya Ji An beralih menatap putranya. Davin beralih menatap ke arah mamanya.


"Bukankah itu yang selama ini mama inginkan?" Bukan menjawab, Davin malah balik bertanya pada mamanya. Ji An beralih menatap suaminya yang hanya diangguki saja oleh Arthur.


"Baiklah. Sudah diputuskan. Jika keduanya cocok kita akan melakukan pertunangan untuk mereka dan mungkin selanjutnya menikah." Ucap Arthur akhirnya membuat mereka semua lega.


"Saya masih ada satu hal yang ingin dikatakan." Ucap Su Jin menyela orang-orang itu.

__ADS_1


Mereka semua kompak menatap Su Jin bersamaan menunggu ucapan Su Jin.


"Saya akan ikut Matt ke tanah air agar kami bisa lebih dekat." Ibu Su Jin sontak menggelengkan kepalanya tidak setuju.


Davin juga tersentak kaget menoleh menatap Su Jin yang tersenyum misterius menatapnya. Ji An dan Arthur hanya saling berpandangan dan Arthur mengedikkan kedua bahunya acuh. Ayah Su Jin hanya terdiam, dia hanya angka ikut keputusan istri dan anaknya selama itu untuk kebaikan.


"Bagaimana mungkin kau bisa disana meninggalkan kami nak?" Ucap ibu Su Jin menunjukkan keberatannya.


"Ibu, aku disana akan bekerja membantu Matt mengurus pekerjaannya selain untuk hubungan kami. Dan aku yakin, Matt pasti akan setuju denganku. Benarkan Matt?" Tanya Su Jin menatap Davin dengan senyum terbaiknya.


"Tentu saja." Jawab Davin akhirnya.


"Tapi?"


"Percayakan pada mereka ibu Su Jin. Kita akan nikahkan mereka langsung jika Matt berani macam-macam pada menantuku." Ji An berusaha membujuk ibu Su Jin sambil menatap tajam pada putranya yang hanya memutar bola matanya malas dengan sikap mamanya.


"Baiklah kalau itu yang dikatakan ibu Matt."


"Toh mereka sudah sama-sama dewasa. Mereka bisa mandiri." Lanjut Ji An lagi.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2