
"Selamat malam bibi." Sapa Su Jin saat dia masuk ke dalam mansion utama keluarga Aftano.
"Kau sudah datang nak." Jawab Ji An cipika cipiki dengan Su Jin.
"Kita makan malam bersama." Ajak Ji An.
"Dimana paman dan Matty bi?" Tanya Su Jin tak melihat kedua pria beda usia dengan wajah yang hampir sama.
"Mereka sedang berbincang di ruang kerja sebentar lagi pasti keluar."
Cklek
"Ah, itu mereka." Ucap Ji An lagi melihat suaminya muncul dari ruang kerja diikuti Davin dengan wajah ditekuk tidak suka.
"Silahkan duduk sayang!" Persilahkan Ji An pada suaminya sambil menarik keluar kursi tempat suaminya duduk.
"Terima kasih sayang." Jawab Arthur tersenyum manis menatap istrinya penuh cinta.
Su Jin dibuat tersipu malu melihat kemesraan dua insan itu yang meski sudah berumur masih terlihat mesra. Dan Su Jin pun sontak menatap ke arah Davin yang hanya cuek dengan wajah murung.
***
"Matt, Sepertinya papamu sudah menyampaikannya padamu." Ucap Ji An memulai pembicaraan. Setelah mereka selesai makan malam, Ji An meminta semuanya untuk duduk di sofa ruang keluarga karena ada hal yang ingin dibahasnya.
"Ma." Jawab Davin cepat.
"Kurasa dua minggu cukup untuk menyiapkan pertunangan kalian." Ucap Ji An lagi membuat Davin berdecak kesal, protesannya tidak didengar.
"Tapi bibi..."
"Tidak ada tapi-tapian... kami sudah memutuskannya. Orang tuamu akan datang seminggu lagi Su jin." Ucap Ji An lagi. Su Jin meneguk ludahnya kasar. Entah kenapa dia jadi ragu untuk melanjutkan kepura-puraan hubungan mereka yang menerima perjodohan itu.
"Ma, bisa beri aku waktu lagi?" Pinta Davin memelas.
"Beri mama alasan yang jelas!" Sela Ji An cepat menatap Davin tajam. Davin terdiam, dia juga belum resmi bercerai dengan istrinya. Entah kenapa Arman seolah memperlambat perceraiannya namun hal itu justru membuat Davin senang.
***
__ADS_1
Su Jin memilih untuk pulang ke apartemen Davin dengan diantar Davin, tentu saja hal itu dengan paksaan orang tuanya. Kini Davin sudah memarkir mobilnya di basemen apartemennya.
"Terima kasih."
"Hmm."
Su Jin langsung keluar dari mobil dan Davin langsung tancap gas meninggalkan basemen apartemen itu untuk menuju unit yang ditempatinya.
"Ada apa?" Tanya Su Jin melihat Fero tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu apartemen.
"Kau yakin akan melanjutkan pertunangan ini?" Tanya Fero menatap tak suka pada wanita di hadapannya ini.
"Bukan urusanmu." Su Jin membuka password pintu apartemen Davin namun langsung dicegah oleh Fero dengan mencekal pergelangan tangan Su Jin.
"Apa maumu?" Seru Su Jin tidak suka menatap tajam wajah Fero.
"Kalau kau berpikir kejadian itu adalah kesalahan kau salah. Jangan kau anggap aku akan menuruti apa maumu untuk melupakan semuanya!" Ucap Fero tajam menarik pinggang Su Jin mendekat ke arahnya tanpa jarak.
"Le..lepas!" Berontak Su Jin namun cekalan pinggang tangan Fero lebih kencang.
"Itu tidak mungkin. Aku... tidak terjadi apa-apa padaku." Ucap Su Jin gugup.
"Oh ya, ini memang baru dua minggu, bagaimana kalau setelah itu pertunangan kau hamil?" Sekali lagi Su Jin mendongak menatap wajah Fero.
"Lupakan apa yang terjadi pada kita, toh saat itu aku mabuk tidak ingat apapun!" Elak Su Jin sekali lagi. Membuat Fero marah dan memaksa membuka password pintu apartemen dan menarik Su Jin masuk.
"A..apa yang akan kau lakukan?" Tanya Su Jin ketakutan tapi entah kenapa dia tidak bisa menolak. Fero merasa harus bertanggung jawab karena dirinya sudah berani merenggut keperawanan gadis yang sudah menjadi wanita itu. Dan dia tidak menyesalinya meski belakangan tahu kalau Su Jin akan bertunangan dengan tuan muda yang sangat dihormatinya itu.
"Kita akan melakukannya lagi dengan sadar, agar kau bisa ingat. Kita lihat apa kau masih mengelak akan tetap melanjutkan pertunangan itu." Ucap Fero marah mulai memagut bibir Su Jin dengan paksa.
Su Jin yang berusaha menolak tak mampu karena tenaganya tak mampu melawan tubuh kekar Fero. Hingga akhirnya dia pun ikut membalas pagutan itu dan memutuskan untuk menerima kenikmatan itu.
De-sa-han pun terdengar di dalam kamar apartemen itu untuk kedua kalinya. Keduanya begitu menikmati malam yang membuat sepasang insan itu bergelung nikmat di ranjang dengan keduanya saling memacu mencari kenikmatan hingga lenguhan panjang pun terdengar membuat keduanya ambruk lemas di ranjang mengakhiri perjuangan mencapai kenikmatan itu.
Fero mendekap tubuh Su Jin masuk ke dalam pelukan hangatnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang keduanya.
"Aku mencintaimu." Bisik Fero diantara ceruk leher Su Jin, yang tidak dijawab namun Su Jin semakin mengeratkan pelukannya sambil menyerukkan wajahnya di dada bidang telanjang milik Fero.
__ADS_1
"Menikahlah denganku!" Ucap Fero lagi masih didiamkan oleh Su Jin.
"Hmm." Ucap Fero lagi sambil menarik dagu Su Jin agar menatapnya. Su Jin menatap dalam manik mata Fero yang menatapnya penuh ketulusan tanpa ada kebohongan sedikit pun.
"Aku... aku hanya membantu Matty." Jawab Su Jin akhirnya mengeluarkan suaranya sambil masih saling menatap.
"Apa maksudmu?" Tanya Fero masih belum mengerti maksud ucapan Su Jin.
"Kami... hanya berpura-pura untuk mengetahui perasaan istri Matty." Fero terdiam.
"Apa harus mengumumkan pertunangan?" Tanya Fero tak setuju dengan rencana itu.
"Kenapa?" Tanya Su Jin menggoda Fero ingin tahu sebesar apa perasaan pria di hadapannya ini.
"Jika diumumkan, semua orang akan tahu kaulah tunangan tuan muda sementara tuan muda belum bercerai. Saat kita menikah aku tak mau semua orang menilaimu buruk." Jelas Fero mengungkapkan perasaannya. Su Jin terdiam, dia tidak memikirkan hal itu sejauh ini. Dia hanya berpikir ingin membantu teman kecilnya itu tanpa berpikir panjang karena perasaannya yang bertepuk sebelah tangan pada Davin.
"Aku tak peduli jika semua orang berpikir aku buruk. Tapi aku lebih peduli saat semua orang berpikir buruk tentangmu. Dan saat batalnya pertunangan kalian, kau pasti akan mendapat kecaman entah dengan panggilan buruk apa dari orang-orang." Jelas Fero lagi melihat Su Jin terdiam.
"Lalu? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Su Jin.
"Temui istri tuan muda untuk meyakinkan bahwa mereka saling mencintai hanya karena tak ada komunikasi diantara mereka terjadi salah paham." Saran Fero membuat Su Jin merenung.
"Jadi? Sebenarnya keduanya saling mencintai?"
"Hmm. Keduanya hanya kurang komunikasi. Tuan muda terlalu tertutup tak bisa menyampaikan perasaannya selain dengan cara kasar. Sedang nona muda terlalu benci tanpa mau menyadari perasaannya sangat dalam pada tuan muda. Mungkin karena perlakuan buruk tuan muda padanya dulu." Su Jin tampak mengernyit.
"Tuan muda merenggut keperawanan milik nona muda dengan memperkosanya karena kecemburuannya pada mantan calon suami nona muda." Su Jin terdiam mengerti penjelasan Fero. Dia mencerna ucapan Fero sekali lagi.
Pantas saja Davin terlihat frustasi. Batin Su Jin membuat Fero gemas dan mulai menyerang Su Jin lagi yang tentu saja diterima dengan senang hati oleh Su Jin.
Dan pergulatan panas pun terjadi lagi di kamar utama apartemen itu.
.
.
TBC
__ADS_1