Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 18


__ADS_3

Ji An tiba di cafe tempat dia janjian dengan seseorang yang menghubunginya lewat ponsel tadi. Tak sampai sepuluh menit dia menunggu di cafe, muncullah sosok yang ditunggunya.


"Nona..." sapa pria itu membungkukkan badan memberi hormat pada nona muda yang sudah dilayaninya dari kecil itu.


"Paman, duduklah! Jangan bersikap seformal itu padaku." ucap Ji An menyentuh tangan pria paruh baya yang sudah semakin berumur itu.


Meski masih terlihat tegas. Pria yang dipanggil paman itu duduk, dia adalah Choi Sung Hun sekretaris pribadi papanya yang tak mungkin mengkhianati keluarganya itu. Dia sudah dipecat oleh Jung Hyung Jae karena tuduhan palsu telah berkhianat pada papanya sebulan yang lalu.


Itulah sebabnya Ji An sudah putus kontak sebulan ini karena pria yang dipanggilnya paman ini dipecat, dia adalah sahabat papa saat di sekolah dan kemudian diangkat menjadi sekretaris kepercayaan papa untuk mengurus segala bisnisnya jika sang papa sedang tidak bisa menanganinya. Ji An menatap sedih pada pria paruh baya kepercayaan papanya itu.


"Bagaimana kabar paman?" tanya Ji An basa-basi.


"Saya baik-baik saja nona, bagaimana kabar nona muda dan tuan muda kecil?" jawab Sung Hun balik bertanya.


"Kami baik-baik saja. Dan aku... aku sudah bertemu dengan ayah putraku." Sung Hun terlihat terkejut namun sesaat dia merasakan kebahagiaan yang tulus terpancar dari wajahnya.


"Syukurlah nona menemukan kebahagiaan nona." ucap Sung Hun tersenyum tulus.


"Semoga saja paman. Oh ya, Kudengar papa koma, benarkah itu paman?" tanya Ji An meremas jemari tangannya berharap kabar itu bohong.


Tapi melihat paman Sung Hun sudah dipecat itu bukanlah kebohongan, karena jika papanya tak koma, tak mungkin papanya memecat Sung Hun yang sudah menjadi kepercayaannya ini sedari dia kecil.


"Nona... nona mendengar kabar itu dari mana?" tanya Sung Hun terkejut, pasalnya dia tak pernah mengabarinya sesuai pesan sang tuan besar.


"Jadi... itu benar paman? Penyakitnya sudah sampai stadium akhir?" tanya Ji An sendu, di wajahnya terpancar kesedihan dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.


"Sepertinya ada yang sengaja membuat tuan besar koma nona, namun saya masih belum yakin karena tak punya cukup bukti untuk menuduhnya." jawab Sung Hun menundukkan wajahnya merasa bersalah.


"Apa maksudmu paman?" tanya Ji An emosi.


"Ada seseorang yang memanfaatkan penyakit tuan besar sampai dia koma. Dan seseorang itu mengincar harta tuan besar." jelas Sung Hun ragu.


"Apakah Jung Hyung Jae maksud paman?" tanya Ji An langsung.


Sung Hun tersentak dan sontak menatap wajah nona mudanya yang semakin hari semakin bertambah dewasa.


"Bagaimana... nona tahu?"


"Aku sudah menduganya paman, dia meminta perjodohan itu bukan hanya karena pernikahan itu. Pasti dia menginginkan harta papa." tebak Ji An mengepalkan jemari tangannya.


"Tapi kita tak punya cukup bukti untuk menuduhnya nona, bahkan sekarang dialah yang menguasai perusahaan tuan besar. Meski dia tidak bisa mengambil alih perusahaan itu sebelum menikah dengan nona."

__ADS_1


"Tidak, aku tak mau menikahinya. Benar keputusanku dulu pergi saat perjodohan itu." ucap Ji An menghela nafas panjang.


"Apa tuan muda kecil baik-baik saja nona?" tanya pria itu penuh harap.


"Iya, dia baik-baik saja, dia... lebih baik setelah bertemu ayah kandungnya." jelas Ji An meski dirinya sedikit kecewa tapi dia tak bisa memungkiri bahwa putranya terlihat berbeda setelah bertemu ayahnya, lebih... bahagia... itulah yang dirasakan Ji An terhadap putranya akhir-akhir ini.


"Syukurlah jika tuan muda kecil baik-baik saja. Semoga dia tak memanfaatkan tuan muda kecil." ucap Sung Hun penuh harap.


"Apa maksud paman si br*ngse*k itu?" tanya Ji An.


Sung Hun hanya mengangguk, dia pernah mendengar jika pria itu akan melakukan apapun untuk melancarkan perjodohan itu demi harta keluarga Kim. Tapi mendengar tuan muda kecilnya baik-baik saja dan apalagi sekarang bersama dengan ayah kandungnya, Sung Hun sedikit merasa lega.


Dia berharap dia ayah yang menyayangi anaknya dan akan melindungi anaknya apapun yang terjadi dan juga semoga dia juga melindungi nona muda juga. Harap Sung Hun sambil melirik di samping dua mejanya yang melihat tiga pria yang mencurigakan yang diyakininya itu adalah orang-orang kepercayaan ayah tuan muda kecilnya.


Dan Sung Hun sedikit tenang dan merasa lega, pria yang menjadi kekasih nonanya pasti sangat mencintai nona mudanya ini. batin Sung Hun tersenyum senang sambil menyeruput kopinya.


"Bagaimana aku bisa bertemu ayahku paman?" tanya Ji An yang sejak tadi ingin diketahuinya.


"Nona, penjagaan tuan muda Jung sangat ketat. Saya takut nona akan disekap mereka demi dapat menikahi nona secara paksa." jelas Sung Hun membuat Ji An gelisah, dia benar-benar mencemaskan ayahnya sekarang, dia ingin segera menolong ayahnya apalagi keadaannya harus segera dioperasi.


Ji An menggigit jarinya gelisah, itulah yang dilakukannya jika dia sedang dalam masalah.


"Nona..."


"Kalau boleh saya sarankan, bagaimana kalau anda minta tolong pada ayah tuan muda kecil, kurasa..."


"Itu tak mungkin paman, dia tak tahu siapa aku sebenarnya." potong Ji An kembali gelisah. Sung Hun terlihat menghela nafas berat.


"Kurasa tak ada salahnya minta tolong. Dan kurasa dia bukan orang sembarangan." jelas Sung Hun lagi penuh harap.


"Tapi paman, itu artinya aku harus mengatakan yang sebenarnya diriku padanya...?"


"Mungkin saja dia sudah tahu?" sela Sung Hun yakin.


Ji An terdiam, Benar, mungkinkah dia sudah mencari tahu siapa aku, apalagi melihat kekuasaannya sebagai pemilik hotel itu, dia punya segalanya untuk mencari tahu siap aku sebenarnya. batin Ji An dalam pikirannya berkecamuk memikirkan kembali apa ucapan pamannya.


"Aku hanya memberi saran nona, maaf... aku saja tak diizinkan walau hanya menjenguk tuan besar. Mereka melarangku dan tak mengizinkan aku masuk meski memohon sekalipun." jelas Sung Hun. Ji An hanya terdiam berpikir.


"Kita harus sedikit menurunkan ego kita demi orang yang kita sayangi. Saya minta maaf dan menyesal tak bisa memberikan solusi yang terbaik." sesal Sung Hun tertunduk tak berdaya.


**

__ADS_1


Dalam percakapan ponsel :


Arthur : "Bagaimana?"


Pengawal yang membuntuti Ji An : "Dia bertemu dengan seorang pria paruh baya, tuan."


Arthur : "Siapa? Kau cari tahu."


Pengawal : "Nona memanggilnya paman dan sepertinya mereka sangat akrab."


Arthur : "Cari tahu terus dan ikuti kemanapun dia pergi!"


Arthur segera menutup ponselnya melihat kiriman gambar foto seseorang yang dikenalnya tapi Arthur tak ingat pernah bertemu dimana pria paruh baya ini. Choi Sung Hun, dulu mungkin, entahlah apa mungkin, pria itu yang....


"Papa..." Arthur terkejut sontak menatap sang putra yang bangun dari tidurnya.


"Ya boy .." Arthur meletakkan ponselnya dan menghampiri putranya yang bangun dari tidurnya di ruangan pribadinya yang berada di belakang meja kebesarannya.


"Aku lapar." Arthur tersenyum berdiri dari jongkoknya tadi menyamai tinggi badan putranya.


Cklek


Pintu ruangan terbuka...


"Mama..." seru Matty menghambur memeluk sang mama yang muncul di ruang itu.


Arthur menatap Ji An penuh tanda tanya begitu juga Ji An juga menatapnya dengan pandangan penuh arti.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri like, rate dan vote nya


Beri dukungannya

__ADS_1


__ADS_2