
Persiapan pernikahan telah sembilan puluh persen hingga menunggu hari H besok. Arthur masih tampak sibuk mengurus beberapa pekerjaannya di kantor. Dia ingin menyelesaikan semuanya hari ini juga. Meski sang papa menyuruhnya untuk pulang namun tak dihiraukan olehnya.
Arthur tahu sang papa akan menggantikan tugasnya di perusahaan jika dia meninggalkan pekerjaannya itu. Itu artinya waktu sang papa menemani mamanya akan lebih berkurang. Setelah menikah, Arthur kini lebih memahami kenapa dulu papanya sangat posesif dan overprotektif.
Semua karena kita ingin sedikit egois bersama dengan orang yang kita cintai. Penyakit sang mama Karina semakin parah. Dokter tak bisa berbuat banyak. Selain karena faktor umur, penyakit yang diderita oleh Karina efek dari penyakit yang pernah diderita Karina saat masih muda dulu.
Operasi hati yang dilakukan dulu kini perlahan merenggut kesehatannya. Hingga dokter pun menyerah. Umurnya tinggal menghitung bulan mungkin bisa jadi hari. Operasi bisa berakibat fatal pada hatinya yang pernah dioperasi dulu.
Arthur menghela nafas panjang dan berat. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Isakan pun terdengar di ruangan kerja itu. aku belum siap Tuhan, masih belum banyak aku membahagiakannya. batin Arthur sesak. Arthur hanya bisa menangis terdiam. Dia berusaha tegar di depan Karina agar wanita yang dikaguminya itu bahagia di akhir-akhir hidupnya.
Melihat anak-anaknya bahagia. Kini kedua orang tuanya telah meninggalkan rumah untuk beristirahat di villa pribadi mereka. Yang dulu pernah dijadikan tempat istirahat saat sang mama ingin istirahat. Mereka berjanji akan datang saat besok hari H pernikahan.
Ji An memasuki ruang kerja suaminya, melihat suaminya yang sedang menelungkupkan kepalanya di meja beralaskan lengannya tampak punggungnya gemetar menahan tangisan. Tadi Ji An diberitahu Zein untuk datang ke kantor Arthur karena menurutnya tuannya membutuhkan seseorang untuk menguatkan hatinya.
Bagaimana pun juga Karina adalah penguat hatinya selama ini. Bahkan saat dibully waktu sekolah dulu. Zein pun tak mampu mengurangi kesedihan tuan sekaligus sahabatnya itu. Hingga Karina datang, kesedihan langsung lenyap pada diri Arthur.
Mungkin saja sekarang nama Karina sudah digeser sedikit demi sedikit oleh istri yang dicintainya itu. Apalagi Karina lah yang membuatnya memendam kesedihan sekarang ini.
Ji An mendekati suaminya perlahan. Mengelus pundak suaminya mencoba memberi kekuatan.
"Honey..." bisik Ji An membuat Arthur langsung meraih tubuh istrinya masih dengan posisi duduk dengan Ji An berdiri di depannya.
Arthur mendekap erat pinggang istrinya untuk meredam tangisannya. Dia sedikit malu dan tak kuat untuk menunjukkan sisi terburuknya pada siapapun termasuk istrinya. Ji An hanya menepuk-nepuk punggung suaminya sambil mengelus punggung itu menghibur.
"Tak apa, aku yang akan menggantikan posisi mama saat beliau tak ada. Aku akan selalu bersamamu." hibur Ji An menahan air matanya untuk tidak menangis.
__ADS_1
"Apakah aku bisa tanpanya?" bisik Arthur masih dalam dekapannya.
"Tentu. Kau hanya harus bergantung padaku. Istrimu." jawab Ji An, lagi-lagi air matanya tak dapat ditahan.
Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayangi, dicintai, bahkan sangat dikagumi. Dulu dia juga sangat kehilangan saat ibunya meninggal.
"Hiks...hiks..." isakan Arthur semakin terdengar kencang hingga mendekap erat tubuh istrinya kuat.
Ji An masih terus menepuk-nepuk dan mengelus punggung suaminya untuk penghiburan.
***
"Kau mau makan sesuatu?" tanya Derian melihat istrinya sudah bangun dari tidurnya.
"Makanlah sesuatu meski tak ingin!" ucap Derian tersenyum lembut menatap istrinya penuh cinta.
"Apapun yang kau masak, aku menyukainya." jawab Karina lemah masih ditutupi dengan senyum manisnya.
"Kau mau melihatku memasak?" tanya Derian tersenyum ceria mencoba menutupi kesedihannya.
Karina mengangguk. Derian langsung membopong tubuh istrinya menuju ke dapur. Mereka tidur di kamar tamu lantai bawah. Derian tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya saat dirinya pergi sebentar. Derian mendudukkan istrinya di sofa dekat dapur.
"Duduklah! Aku mau membuat spaghetti bolognese untuk istriku tercinta." ucap Derian tersenyum sambil mengecup punggung kedua tangan istrinya lembut.
Karina hanya tersenyum bahagia melihat perlakuan suaminya yang selalu manis padanya bahkan sampai rambutnya beruban, rasa cinta dan perhatiannya tetap sama seperti saat pertama kali mereka mengenal. Derian menuju meja dapur, memakai apronnya.
__ADS_1
Mulai menyiapkan bahan-bahan makanan yang ingin dimasaknya. Dia bergerak lincah dengan alat-alat dapur itu. Meski umurnya sudah tak lagi muda, keahlian memasaknya masih sangat lincah. Meski kadang-kadang terjadi sedikit kesalahan namun Derian mampu mengatasinya.
Karina menatap punggung suaminya terharu. Tersenyum bahagia, melihat perhatian dan cinta suaminya. Karina memejamkan matanya bersandar pada sandaran sofa, mencoba mengingat kembali masa lalunya saat bertemu dengan suaminya yang dilalui mereka berdua dengan tidak mudah.
"Sayang... sayang..." Derian mengelus pipi istrinya lembut.
Sudah setengah jam dirinya selesai memasak spaghetti bolognese untuk istrinya. Mungkin sudah dingin. Dia melihat wajah tentram istrinya yang tidur dengan damai. Senyuman manis terukir di pipinya. Apa yang diimpikannya sampai tersenyum seperti ini? Kuharap dia memimpikanku? batin Derian tersenyum simpul melihat wajah istrinya penuh cinta.
'Kita akan selalu bersama, sehidup semati bersama.' lirih Derian mencium bibir istrinya membuat Karina seketika membuka matanya perlahan, mendapati wajah suaminya yang sedang menatapnya dengan penuh cinta.
"Kau sangat cantik? Bagaimana kau bisa secantik ini?" bisik Derian mengusap lembut pipi istrinya. Karina mengecup telapak tangan suaminya yang mengelus pipinya.
"Kau yang membuatku terlihat cantik. Dan hanya untukmu kecantikanku ini." jawab Karina lembut.
"Terima kasih sayang. Terima kasih untuk segalanya." bisik Derian mencium bibir istrinya dalam, mereka saling mencium, melu*mat, menghi*sap.
Ciuman panas pun terjadi. Karina mengalungkan lengannya di leher suaminya masih terus mencium bibir itu. Bahkan lidah mereka telah menari-nari di dalamnya.
TBC
Menjelang end season 1
Makasih sudah membaca 🙏
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1