Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 47


__ADS_3

Fero sampai di supermarket di lantai paling bawah gedung apartemen itu yang memang terdapat supermarket untuk memenuhi kebutuhan para pemilik unit apartemen juga untuk umum. Fero langsung mencari rak tempat peralatan wanita diletakkan.


Fero menoleh ke kanan ke kiri sepanjang rak yang dilewatinya namun belum juga menemukan apa yang dicarinya. Hingga seorang karyawan supermarket menghampiri Fero yang terlihat kebingungan.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Sapa karyawan itu ramah dan sopan tak lupa senyuman terus terukir di bibirnya.


"Eh, ah... itu... aku...butuh sesuatu." Jawab Fero gugup gelagapan. Wajahnya sontak memerah karena malu. Dia ragu untuk mengungkapkan ucapannya pada karyawan supermarket perempuan itu.


"Iya?" Tanya karyawan itu ramah.


"Itu .. a...aku... butuh..." Fero dengan wajah memerah memalingkan muka, "pembalut." Kata itupun keluar dari bibir Fero. Dia sambil memalingkan muka dengan menutup mulutnya malu setengah mati setelah mengucapkannya. Apalagi karyawan wanita itu tersenyum dengan tetap ramah dan sopan meski sambil menahan tawanya.


"Silahkan di sebelah sini tuan!" Tunjuk karyawan wanita itu menunjukkan tempat dimana peralatan wanita dijajar rapi di atas rak tak jauh dari tempat Fero berada dan berbeda rak yang dilihat Fero tadi.


Fero segera melangkah menuju rak yang dimaksud karyawan tadi. Masih sambil menutup mata dan melirik para pengunjung supermarket yang berada di dekatnya yang berbisik-bisik membicarakan dirinya.


"Ah, sial." Umpat Fero dalam gumannya.


"Silahkan tuan, seperti apa yang anda butuhkan!" Tanya karyawan wanita itu semakin membuat Fero memerah karena malu.


"Apa saja!" Jawab Fero cepat agar segera selesai.


"Mau yang sayap atau tidak?" Tanya karyawan wanita itu ramah.


"Eh, memangnya bisa terbang kalau ada sayapnya?" Tanya Fero spontan membuat karyawan wanita itu menahan tawa geli. Dan Fero benar-benar merutuki ucapan spontannya.


"Ambilkan semuanya!" Titah Fero.


"Ah, baiklah. Bagaimana kalau satu yang sayap dan satu yang tidak sayap?" Tawar karyawan itu.


"Terserah!"


Karyawan itu mengambil beberapa pembalut merk terkenal dengan satu bungkus sayap dan satu bungkus yang tidak ada sayapnya.

__ADS_1


"Ada yang anda butuhkan lagi tuan?" Tanya karyawan itu lagi.


"Tidak. Eh... berikan makanan box sial makan juga!" Titah Fero lagi.


"Baik."


Fero segera membayar tagihan belanjaannya itu dengan menahan rasa malunya. Karena kasir di supermarket itu juga menahan senyumnya untuk tidak menertawakan barang yang dibelinya.


"Totalnya...." Ucap kasir itu, Fero langsung menyerahkan kartu debitnya untuk dilakukan pembayaran. Dan tak lama setelah menerima belanjaan dan kartu debitnya lagi Fero segera pergi meninggalkan supermarket sambil mengumpat-umpat tak jelas di luar supermarket.


"Terima kasih atas kunjungannya." Sapa kasir itu ramah.


"Kuharap sekali ini saja aku membeli barang aneh ini." Guman Fero sambil menatap kantong yang dibawanya itu dengan tatapan jijik.


***


"Ini yang kau pesan." Ucap Fero menyodorkan kantongnya pada Su Jin yang sudah bangun dari berbaringnya. Sepertinya rasa sakitnya sudah tidak terlalu.


"Terima kasih." Jawab Su Jin menerima kantong itu.


"Terima kasih." Fero segera meninggalkan Su Jin memberinya waktu untuk berganti pakaian dan sarapan.


***


Davin masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Meski konsentrasinya pecah karena kabar dari pengacaranya yang mengurus perceraiannya yang lagi-lagi tidak berhasil mendapatkan tanda tangan dari istrinya membuat Davin terdiam. Meski hati kecilnya merasakan senang karena berkas perceraian ditolak kembali oleh istrinya namun mengingat apa yang terjadi pada keduanya membuat Davin kembali murung.


"Huff ... bukannya ini yang kau inginkan? Tapi mengapa kau mempersulitnya?" Guman Davin menghela nafas panjang.


"Aku merindukanmu..." Bisik Davin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Buatkan janji temu makan siang nanti! Batalkan semua pertemuan sebelum jam dua siang." Titah Davin pada sekretarisnya melalui telpon kantornya.


"Baik tuan." Jawab sekretaris itu berdecak kesal karena tuannya keburu menutup telponnya sebelum mendengar jawabannya.

__ADS_1


***


"Kita kemana?" Tanya Su Jin saat dalam perjalanan di dalam mobil berdua saja dengan Fero. Setelah selesai sarapan Fero memperkenalkan dirinya sebagai asisten pribadi sekaligus tangan kanan Davin. Maksud Su Jin Matty.


Dan keduanya pun saling diam hingga dalam perjalanan. Fero belum menjelaskan apa yang dikatakan tuannya tadi. Baginya itu tak perlu, biarkan tuannya sendiri yang menjelaskan.


"Ke perusahaan." Jawab Fero singkat memang tidak suka berbasa-basi.


"Oh." Jawab Su Jin singkat pula meski sebenarnya ada banyak sekali yang ingin ditanyakannya. Su Jin yang sering banyak bicara merasa sepi saat keduanya sama-sama terdiam di dalam mobil. Mau bicara, bicara apa, mau bertanya sepertinya Fero tak akan memberikan jawaban yang diinginkannya.


Mobil yang dikendarai Fero memasuki gedung perkantoran milik keluarga Aftano. Fero turun diikuti Su Jin tanpa menunggu Fero membukakan pintu untuknya. Fero menyerahkan kunci mobil pada satpam gedung yang memang biasa memarkirkan mobil-mobil milik orang penting di perusahaan jika tidak ada sopir yang mengantarkannya.


Semua karyawan yang lalu lalang termasuk resepsionis yang berjaga di lobi gedung perusahaan menatap sambil berbisik-bisik di belakang Fero yang membawa seorang wanita Asia yang sangat cantik dan menawan. Semua orang terpana dan terpesona dengan Su Jin yang berasal dari negeri ginseng. Juga para karyawan pria yang menatapnya penuh rasa kagum.


Su Jin sendiri yang memang ramah menatap semua orang dengan senyum yang terus terukir di bibir cantiknya. Hingga banyak pria yang menatapnya meleleh melihat senyum Su Jin yang ramah. Berbeda dengan Fero yang merupakan tangan kanan CEO mereka menatap semua orang dengan tatapan dingin dan datar.


Tok tok tok


"Masuk!" Titah Davin saat pintu ruangannya diketuk.


Fero masuk ke dalam diikuti Su Jin.


"Saya sudah datang tuan." Ucap Fero yang diacuhkan Davin masih terus sibuk dengan berkas pekerjaannya. Davin sontak mendongak menatap Fero dan wajah yang tidak asing di depannya.


"Kau sudah datang?" Tanya Fero melihat Su Jin sudah datang.


"Iya." Jawab Su Jin ramah dengan senyumannya. Fero terdiam menatap interaksi keduanya heran. Fero selalu melihat tuannya tidak pernah ramah pada wanita manapun kecuali istrinya kini bersikap ramah pada wanita yang menurutnya asing karena dia belum pernah bertemu dengannya. Namun dia pernah melihatnya tapi lupa.


"Kau tinggalkan kami Fero. Lakukan tugasmu sesuai perintahku tadi pagi!" Usir Davin membuat Fero sontak membungkukkan badannya memberi hormat sekaligus undur diri.


"Baik tuan." Fero meninggalkan ruangan Davin.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2