
"Art, please... biarkan aku bertemu putraku. Kumohon!" isak Ji An terkurung di dalam kamar hotel.
Setelah Arthur marah karena ketidakjujurannya, Ji An ditinggal begitu saja oleh Arthur di kamar hotel itu. Bahkan pengawal yang biasanya berjaga tak ada ditempat, seolah memberikan peluang untuk Ji An kabur. Namun untuk apa Ji An kabur karena alasan satu satunya untuk kabur adalah ingin memastikan putranya baik-baik saja namun sekarang putranya sedang bersama ayah kandungnya kini.
Jadi percuma saja dirinya kabur. Arthur benar-benar tak mengizinkan dirinya untuk menemui putranya. Hingga Ji An tertidur karena kelelahan di depan pintu kamar hotel tempat Arthur dan Matty berada. Arthur membopong tubuh wanitanya itu kembali ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Arthur menatap wajah wanitanya lekat, membelai pipinya lembut.
"Kenapa kau tak datang menemuiku? Kau kau setega itu memisahkan kami." guman Arthur dengan tatapan penuh sesal.
"Seharusnya kau tak pergi meninggalkanku. Kemana kau pergi saat itu?" guman Arthur lagi, sebenarnya dia merasa bersalah dan kasihan pada wanita yang masih sangat dicintainya ini.
Namun mengingat bahwa dia tega memisahkan dirinya dengan putranya membuat Arthur ingin memberi pelajaran pada wanitanya bahwa dirinya bukan tidak menginginkan anak mereka. Arthur pasti akan dengan senang hati jika saat tahu Ji An hamil putranya karena mengingat bahwa dirinya lah yang merenggut kesucian Ji An.
Arthur beranjak meninggalkan kamar itu menuju kamar sebelah menemui putranya yang masih setia tertidur pulas setelah menghabiskan makan malam yang tidak sedikit yang dilahapnya dengan rakus. Seolah baru makan makanan mewah dan mahal.
Hati Arthur seketika bagai teriris melihat putranya makan dengan lahap seperti orang kelaparan. Apa yang dimakan putraku selama ini hingga dia makan seperti orang yang belum pernah makan makanan seperti itu. batin Arthur semakin kesal pada Ji An.
***
"Art, buka pintunya, biarkan aku masuk. Aku bisa jelaskan semuanya. Kumohon dengarkan penjelasanku!" rintih Ji An merengek di depan pintu pagi-pagi sekali.
Arthur dan Matty yang masih tidur merasa terganggu dengan suara Ji An di luar pintu.
"Siapa pa?" tanya Arthur polos sambil mengucek matanya.
"Dari kamar sebelah, tidurlah kalau masih mengantuk!" ucap Arthur tersenyum bahagia mendengar panggilan dari putranya yang lama terpisahkan.
"Seperti suara mama pa?" tanya Matty lagi.
"Bukan. Ayo tidur lagi! Masih gelap di luar.!" hibur Arthur membaringkan kembali tubuh Matty.
Matty menurut dan berbaring kembali, karena dia memang masih mengantuk. Suara rintihan masih terdengar dari pintu luar. Setelah melihat Matty tertidur pulas kembali. Arthur bangun, meraih baju tidurnya karena dia tertidur dengan bertelanjang dada begitulah kebiasaannya.
Cklek
Suara pintu dibuka, Arthur menatap Ji An yang terlihat kacau dan berantakan. Matanya sembab karena menangis semalaman. Ji An langsung berlutut mendekati Arthur, mencengkeram erat di bawah lututnya untuk memohon.
"Please, biarkan aku bertemu putraku, kumohon. Jangan ambil putraku! Dia milikku satu-satunya Art, kumohon jangan pisahkan kami!" Ji An semakin dalam berlutut, sebenarnya Arthur sudah merasa tak tega pada wanitanya ini.
__ADS_1
Namun dia harus memberinya pelajaran bahwa dirinya sangat mencintainya dan berharap dia segera menyadari perasaannya.
"Berdirilah!" titah Arthur dengan membantu Ji An berdiri.
Dia langsung berdiri melihat Arthur sedikit melunak. Ji An mengusap air matanya dengan senyum bahagia. Arthur menatap dari atas hingga ke bawah.
"CK ck ck... Bersihkan dirimu. Apa kau ingin putraku melihat keadaanmu ini?"
"Apa?"
"Bersihkan dirimu, kita temui putraku!"
"Dia juga putraku." ucap Ji An gugup. Arthur hanya diam menatap Ji An lekat.
"Bersihkan tubuhmu, kita menemuinya setelah itu." jelas Arthur membuat wajah Ji An sumringah.
"Tentu. Terima kasih."
Arthur langsung masuk tanpa bicara apapun. Ji An bergegas masuk ke dalam kamar hotelnya tadi membersihkan diri dan bersiap.
**
Matty tak banyak bertanya lagi, melihat raut wajah Arthur yang dingin dan tajam. Dia belum begitu mengenal sang papa yang katanya sibuk bekerja itu. Matty memang anak kecil yang tumbuh dewasa pemikirannya karena terpaksa, sejak dia berumur satu tahun, dia selalu ditinggal ibunya bekerja demi mereka berdua.
Saat bertanya dimana papanya, sang mama selalu menjawab bekerja di tempat jauh. Kalau bertanya kapan pulang, sang mama selalu menjawab. Kalau sudah tidak sibuk dia pasti pulang. Tapi Matty tahu sang papa tak akan pernah pulang secepatnya.
Akhirnya dengan inisiatifnya sendiri dia mencari tahu tentang sang papa dengan mencari di barang-barang pribadi sang mama. Dan ditemukannya di dompet sang mama , seorang pria tampan namun belum terlihat dewasa seperti sekarang. Yang meyakinkannya bahwa foto itu adalah papanya, terlihat dari wajah foto dan dirinya itu sangatlah mirip, dirinya bagai duplikat sang papa.
Kini dia sudah sampai di restoran yang ada di lantai bawah hotel itu. Sambil menunggu pesanan sarapannya, Matty menatap sekeliling entah apa yang dicarinya. Matanya sontak berbinar melihat dengan kerinduan wajah yang beberapa hari ini tak pernah dilihatnya. Wajah yang dirindukannya.
Untuk sesaat Matty merasa seperti anak kecil pada umumnya jika hal itu menyangkut perasaannya, dia merasa cemas karena tak pernah melihat sang mama beberapa hari ini.
"Mama..." seru Matty melambaikan tangannya. Ji An yang melihat putranya melambai, dia balas melambaikan tangannya dan mendekatinya.
Memeluk tubuh putranya penuh kerinduan. Sesaat Arthur tersenyum menatap kedua orang yang dicintainya itu. Kami seperti keluarga kecil saja. batin Arthur.
"Tuan..." Zein tiba-tiba mendekat berbisik di telinga Arthur. Arthur terdiam sebentar menatap kedua wajah yang sudah duduk tenang di depannya.
__ADS_1
"Maaf boy, papa ada hal penting yang harus dilakukan. Kau tak apa kan sarapan dengan mama?" tanya Arthur menyesal.
"It's okay pa." jawab Matty tersenyum polos.
Ji An juga tersenyum menatap Arthur yang dibalas senyum juga.
Arthur meninggalkan keduanya bersamaan dengan sarapan mereka yang diantar oleh pelayan.
"Makan yang banyak ya sayang." ucap Ji An mengusap rambut putranya lembut.
"Mama juga." jawab Matty. Ji An hanya mengangguk.
**
"Wah, ibu dan anak sedang sarapan di hotel mewah berdua saja." ucap suara seseorang yang menghampiri meja keduanya.
Ji An tersentak spontan berdiri di depan putranya untuk menghindari tatapan pria yang baru tiba terhadap putranya. Orang ini, tak bisakah dia pura-pura tak kenal kami saja. batin Ji An.
"Mau apa kau?" ucap Ji An ketus.
"Hai boy... kau tak mengajakku sarapan?" tanya pria itu memiringkan kepalanya untuk menyapa Matty yang sibuk makan.
"Hai uncle Jung..." balas Matty menyapa tanpa tahu tatapan sinis sang mama pada pria yang dipanggilnya uncle Jung. Ya, Jung Hyun Jae tuan muda konglomerat Jung.
"Tinggalkan kami!" seru Ji An masih dengan nada ketus. Saat pria itu ikut duduk di kursi meja yang sama dengan mereka dengan santai.
TBC
.
.
.
Maafkan typo
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
__ADS_1
Tetap beri like, rate dan vote nya