
Arthur dan anak buahnya sudah siap di posisi. Malam itu juga setelah mencari keberadaan putranya, Arthur langsung berangkat ke lokasi. Semua anak buahnya sudah di posisi yang diinstruksikan Zein dan dirinya masih berkutat dengan laptopnya mencoba memanipulasi cctv yang mungkin ada di sekitar tempat itu.
Arthur memberi perintah pada Zein untuk melakukan semaksimal mungkin demi keselamatan sang putra. Karena dirinya tak mau terjadi suatu kesalahan atau luka sekecil apapun pada putranya. Dia akan merasa sangat bersalah pada putranya dan istrinya jika terdapat luka seujung kuku sekalipun.
"Lakukan seperti biasa Zein! Jangan ada kesalahan!" titah Arthur dengan suara beratnya yang mengintimidasi.
"Tuan..." seru Zein meski suaranya tak terlalu kencang.
"Apa Zein?" Arthur sontak menoleh kembali menatap Zein dengan nada suara yang terdengar panik.
"Nyonya... nyonya ada disini." ucap Zein cemas menatap Arthur menyesal.
"Apa maksudmu?" Arthur sontak mendekati laptop Zein yang menampilkan cctv rumah mewah itu yang menampilkan sosok istrinya sedang mengikuti seorang pria bawahan pria brengsek itu sambil celingak-celinguk kesana-kemari seperti mengantisipasi keadaan.
"Apa yang dilakukannya disini Zein?" Arthur semakin meradang melihat istrinya juga ada disini.
Itu artinya putranya benar ada di dalam rumah mewah itu. Dan kini bertambah satu orang lagi yang harus ditolongnya.
"Sepertinya ada yang menghubungi nyonya dengan memperlihatkan foto putra anda yang diculiknya." jawab Zein, membuat Arthur semakin berang saja.
__ADS_1
Jemari tangannya semakin terkepal kuat, rahangnya mengeras, matanya memerah menahan amarah. Giginya bergemelatuk mencoba menahan untuk mengendalikan amarahnya sebelum memulai pertempuran.
"Brengsek kau Jae, aku benar-benar tak akan memaafkanmu jika kau lukai keduanya bahkan seujung kuku sekalipun." guman Arthur.
"Siap di posisi! Aku akan masuk ke dalam memancingnya. Jika aku memberi kode, lakukan seperti yang kutitahkan tadi. Mengerti?" ucap Arthur.
"Siap tuan." seru suara anak buahnya yang langsung siap di posisi seperti yang diinstruksikan oleh Zein.
**
"Uncle Jung?" ucap Matty yang sudah mulai membuka mata langsung duduk di tepi ranjang sambil mengucek matanya seperti habis tidur.
"Hei boy ..." balas balik Hyung Jae yang sejak tadi duduk di sofa depan ranjang putra musuhnya itu.
"Mamamu sebentar lagi sampai boy, mungkin sedang dalam perjalanan." jelas Hyung Jae yang disertai senyum seringai di bibirnya.
"Benarkah uncle?" tanya Matty polos meyakinkan dengan tatapan mata yang berbinar-binar. Pasalnya sudah hampir seminggu dia tak bertemu sang mama karena sibuk mengurus kakeknya.
"Tentu..." jawab Hyung Jae sambil terbahak-bahak.
__ADS_1
'Kau memang anak kecil yang polos, tapi ingatlah satu hal, sebentar lagi kau akan jadi ayah tirimu.' batin Hyung Jae.
Seorang penjaga muncul menatap Hyung Jae seolah akan bicara sesuatu. Hyung Jae melambai dengan satu jemari saja yang artinya Hyung Jae ingin mendengar kabar itu secara rahasia dengan bisikan saja.
Pria tadi terlihat membisikkan pada tuannya yang dingin itu.
"Benarkah?" guman Hyung Jae tersenyum senang dan miring.
"Iya tuan." jawab pria tadi.
"Sepertinya mamamu sudah tiba." ucap Hyung Jae setelah memberi kode pada pria tadi untuk pergi.
"Benarkah uncle?" tanya Matty sambil makan makanan camilan yang disiapkan di depannya itu dengan lahap karena dia sangat lapar.
Setelah bangun tidur dirinya merasa sangat lapar. Dan entah kenapa dia jadi sangat mengantuk dan tiba-tiba terlelap dan berbaring kembali di ranjang tadi. Senyum miring kembali menghiasi bibir
TBC
.
__ADS_1
.
.