
"Karena saya tidak berarti apa-apa. Silahkan tunggu kakak anda disini. Mungkin pengawal sudah berhasil menghubunginya." Davi hendak beranjak duduknya.
"Ada apa ini?" Suara dingin dan tajam membuat keduanya sontak menoleh ke arah suara yang baru saja tiba.
"Hyung..." Seru Dika menghampiri Davin yang baru saja tiba.
"Dika?" Davin tampak mengernyit melihat salah satu adik kembarnya. Dia membalas pelukan adiknya dengan manly.
Pandangan Davin kembali tajam menghunus melihat Davi juga ada disini terlihat sedang bercakap dengan adiknya. Dan Davin tak suka melihat hal itu meski pria itu adalah adik kandungnya sendiri. Davin menatap Davi tajam seolah menelanjanginya. Apalagi saat melihat dress yang dikenakan Davi berada di atas lutut, sangat minim dan sedikit ketat meski tak sampai terlihat bentuk tubuhnya.
Davi yang ditatap seperti itu oleh suaminya menyadari bahwa cardigan yang dipakainya tadi sempat terguyur air saat minum di gazebo samping villa. Davi langsung menyilangkan kedua tangannya ke arah dadanya memahami arti tatapan suaminya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Davin kembali menatap Dika setelah sesaat membuang pandangannya.
"Aku merindukanmu Hyung..." Jawab Dika cengengesan.
"Jangan katakan kau bikin masalah lagi, sehingga kau lari kemari!" Seru Davin tepat sasaran namun tak diakui adiknya yang seorang idol itu.
"Ayolah Hyung, aku merindukanmu. Kau tak merindukan adik tampanmu ini." Goda Dika cengengesan.
Davin sempat melirik Davi yang meninggalkan mereka tanpa pamit.
"Kita bicara di ruang kerjaku!" Davin berbalik menuju ruang kerjanya yang tak jauh dari ruang tamu.
***
"Hyung menikah tanpa meminta restu dari appa dan eoma?" Tanya Dika to the point tanpa basa-basi. Menurut penilaian setelah bertemu Davi dan sikap kakaknya yang tidak ingin Dika tahu tentang Davi.
"Itu bukan urusanmu. Aku yang seharusnya bertanya, ada urusan apa kau kemari? Kau sangat menolak jika diajak pulang kemari jika tidak keadaan mendesak." Tanya Davin tepat sasaran. Dika meringis mendengar pertanyaan kakaknya yang serasa menohoknya.
"Masalah tidak terlalu penting jika appa dan eoma mengetahui kelakuanmu Hyung." Dika membalikkan keadaan.
__ADS_1
Keluarga mereka meski sudah lama tinggal di negara asal sang ibu. Tapi adat ketimuran sangat dijaga sepenuhnya atas permintaan sang ayah Arthur. Sehingga tak ada sejarah keluarga Aftano yang berani main-main dengan pernikahan tanpa meminta restu pada orang tua mereka.
Davin tampak menghela nafas panjang merasa terpojok. Dia tak akan selamat dari orang tuanya jika mereka mengetahui pernikahannya dengan Davi. Apalagi jika orang tuanya tahu Davin memperkosanya sebelum mereka sah sebagai suami istri.
"Itu urusanku dengan mereka." Jawab Davin final.
"Kalau begitu jangan menginterogasiku. Itu juga urusankj dengan orang tua kita." Davin terdiam. Dia bisa saja ikut campur urusan adiknya. Namun dia tahu sekeras kepala salah satu adik kembarnya ini. Berbeda dengan salah satu saudara kembar yang satunya. Yang sangat penurut dan terbuka tentang masalah apapun padanya.
"Tinggallah di mansion utama!" Davin berdiri dari duduknya hendak meninggalkan ruang kerjanya.
"Apa dia hanya mainan Hyung jika Hyung bosan akan membuangnya?" Dika masih belum menyerah mengorek kehidupan kakaknya. Davin terdiam berbalik menatap adiknya nyalang.
"Siapa yang menyuruhmu ikut campur urusan kakak?" Tanya Davin menatap Dika tajam.
"Yeah... aku kan hanya ingin tahu saja." Jawab Dika acuh sambil mengangkat kedua bahunya acuh.
"Jangan terlalu ingin tahu! Jika bukan urusanmu!" Peringatan Davin membuat Dika cuek.
***
Cklek
Hingga suara pintu dibuka tanpa ketukan membuat Davi tersentak sontak menatap ke arah pintu. Dia sudah bisa menebak siapa yang masuk ke dalam kamar dengan tanpa permisi. Tampak Davin dengan wajah datar masuk ke dalam kamar. Keduanya saling menatap tanpa mengeluarkan suara. Davin menatap istrinya intens sarat akan kemarahan namun tak begitu diperlihatkan.
Davin mengendurkan dasinya dan kancing-kancing kemejanya satu persatu. Entah kenapa perlakuan Davin membuat Davi bergidik ngeri apalagi saat tatapan Davin yang tadi di ruang tamu seolah menelanjanginya. Davi beringsut mundur saat Davin melangkah mendekatinya. Hingga tubuhnya terpentok ke jendela tanpa mampu kemana-mana lagi.
"Aku merindukanmu." Bisik Davin di dekat telinga Davi yang malah terdengar ngeri. Tatapan Davin kali ini tidak seperti biasanya yang lembut. Davi hanya terdiam dengan lidah kelu dan meneguk ludahnya kasar.
"Siapa yang mengizinkanmu menemuinya?" Bisik Davin lagi. Davin melepaskan kemeja dress milik Davi yang memang terdapat kancing bagian atas dress. Puncak dada Davi tercetak jelas pada dress tersebut. Membuat Davin marah mengingat adiknya melihatnya.
"Jawab aku sayang!" Tanya Davin lembut malah terdengar merinding di telinga Davi.
__ADS_1
"A...aku... hanya.."
"Kau harus dihukum." Ucap Davin dengan senyum seringai tanpa mendengar jawaban istrinya.
Tiba-tiba Davin menarik kencang dress Davi hingga sobek dengan kancing berceceran di lantai. Davin membuat dress itu sembarangan. Davi hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya takut. Melawan pun percuma. Karena Davin tidak mentolerir dirinya jika berani bercakap dengan seorang pria meski pria cantik tadi mengaku adik suaminya yang artinya adalah adik iparnya.
Namun mendengar ucapan menohok pria tadi membuat Davi sadar bahwa dirinya tidaklah berarti apa-apa untuk pria yang sudah menjadi suaminya ini.
"Apa artinya aku bagiku?" Pertanyaan Davi membuat Davin menghentikan gerakannya saat sudah memulai untuk memenuhi hasratnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Apa artinya bagiku untukmu? Pelac**kah? Jal**gkah? Pemuas nafsumu kah?" Tanya Davi dengan berani menatap mata Davin meski terlihat berkaca-kaca di matanya karena merasakan sakit di dadanya atas perlakuan kasar Davin padanya.
Dia ingin tahu semuanya, apa arti dirinya bagi pria yang sudah menikahinya ini tanpa mengenalkan dirinya pada keluarga besarnya.
"Kau ingin aku menganggapmu apa?" Jawab Davin malah balik bertanya. Membuat Davi membelalakkan matanya menatap Davin miris.
"Hahaha...hahaha.... Lakukan jika itu membuatmu puas. Menjadi jal**g? Atau menjadi pelac**mu?" Davi melepaskan semua sisa-sisa sobekan dress-nya hingga sekarang kini dia sudah benar-benar sempurna tanpa balutan sehelai benangpun.
Davin menjauhkan tubuhnya dari istrinya yang terlihat putus asa. Dalam hati kecilnya dia sangat merasa bersalah melihat wanita yang dicintainya terlihat sangat putus asa. Davin terdiam melihat air mata yang menetes di pipi istrinya yang langsung diusap kasar seolah tak mau dirinya melihat kelemahannya.
"Lakukan! Kau ingin tubuhku kan! Ini..." Ucap Davi menunjuk-nunjuk pada dadanya.
"Aku harus kembali ke kantor." Davin meraih kemeja dan jasnya tanpa menjawab rasa keputus asaan istrinya.
Davi langsung merosot ke lantai mendengar pintu kamarnya dibanting oleh Davin.
Isak tangis terdengar di dalam kamar itu yang terdengar menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.
Tak lama kepala pelayan dengan dua orang rekannya masuk ke dalam kamar membantu Davi untuk membersihkan tubuhnya tanpa banyak protes dari Davi.
.
__ADS_1
.
TBC