
"Anda memanggil saya tuan?" Tanya Fero pagi itu setelah dia sudah sibuk dengan berkas pekerjaannya.
Davin mendongak menghentikan pekerjaannya sebentar menatap Fero yang bersikap sopan di depannya seperti biasa.
"Kau jemput seseorang di apartemenku sekarang. Dia akan menjadi sekretarisku sekarang." Titah Davin tegas.
"Seseorang? Kalau boleh tahu siapa ya tuan?" Tanya Fero dengan dahi berkerut, siapa seseorang yang dimaksud.
Davin yang tadi sudah kembali sibuk dengan berkasnya kembali mendongak lagi menatap Fero berpikir sebentar sebagai siapa dia mengenalkan Su Jin pada Fero. Dahi Davin ikut berkerut tak menemukan ide untuk menyebut Su Jin. Fero juga semakin berkerut dahinya melihat Davin yang juga seolah bingung menjelaskan.
"Kau jemput saja dulu! Oh ya namanya Su Jin, dia seorang gadis." Ucap Davin masih terus berpikir bagaimana nanti dia menjawab pertanyaan siapapun saat ada yang bertanya namun Davin kembali lega, kalau dia berhak untuk tidak menjelaskan apapun kepada siapapun meski Fero sekalipun.
"Lalu? Bagaimana dengan sekretaris yang sekarang?" Tanya Fero lagi. Davin kembali terdiam, dia menghentikan gerakannya lagi namun masih tetap menunduk tak menatap Fero.
"Coba kau carikan tempat kosong lainnya yang sepadan dengan pekerjaannya!" Titah Davin asal.
"Tapi tuan...?"
"Apa aku harus turun tangan sendiri untuk masalah seperti ini? Apa gunanya kau ada?" Teriak Davin tanpa sengaja marah pada Fero.
"Ba..baik tuan." Fero pun terpaksa undur diri tak mau mendengar tuannya mengamuk lebih besar lagi. Fero memang selalu menyelesaikan masalah tuannya dengan sempurna tanpa cacat. Apapun keputusannya Davin tak pernah tidak setuju.
Davin menghela nafas panjang merasa bersalah karena melampiaskan kekesalannya pada Fero. Meski Fero bisa mengerti tentang dirinya. Saat ini perasaannya tidak enak sejak semalam. Dia juga mendapat laporan dari orang-orangnya kalau apa yang dititahkan selama ini selalu diterima dan dihabiskan oleh istrinya...ah tidak calon mantan istrinya jika dia sudah menandatangani berkas perceraian mereka.
Entah kenapa mengingat hal itu, dada Davin terasa sesak seperti kehabisan oksigen. Padahal dia tak pernah mempunyai riwayat penyakit asma. Bahkan keluarganya semua sehat tanpa kurang suatu apapun.
"Aku merindukanmu... sangat...aku selalu mencintaimu... namun jika dengan begini kamu bahagia... aku rela asal kamu bahagia dan anak kita." Lirih Davin sambil menelungkupkan wajahnya di meja kerjanya.
__ADS_1
***
"Non!" Panggil bi Sum melihat Davi sedang sibuk di dapur entah sedang apa.
"Iya bi." Davi yang sedang sibuk mengaduk adonan tepung di meja menoleh menatap bi Sum yang tadi berlari ke pintu depan saat membantunya membuat kue.
"Ada yang mencari non." Jawab bi Sum.
Kening Davi berkerut berpikir siapa kira-kira tamunya.
"Gak tahu non, katanya pak Arman. Nona akan tahu jika saya bilang begitu." Jawab bi Sum.
"Baiklah." Davi mencuci tangannya di wastafel sebelah dapur.
"Lanjutkan dulu ya bi!" Titah Davi berusaha untuk tegar agar terlihat baik-baik saja di hadapan siapapun.
"Saya sudah mengatakannya terakhir kali, kalau saya menolak untuk tanda tangan sebelum bertemu dengan suami saya." Jawab Davi tegas. Pak Arman langsung terdiam.
"Tapi nona..."
"Pergilah pak! Saya tak mau bicara banyak lagi sebelum anda menuruti keinginan saya." Tegas Davi langsung masuk ke dalam tanpa mendengar ucapan pak Arman yang sudah ditebaknya untuk apa.
Arman terlihat menghela nafas panjang, dia bingung harus melakukan apa. Di satu sisi mendesaknya untuk segera menyelesaikannya namun di satu sisi menolak dengan alasan ingin bicara untuk terakhir kalinya namun dia tahu tuannya tidak mudah mengabulkan keinginannya.
"Apa yang harus kulakukan." Guman Arman masih enggan untuk meninggalkan ruang tamu Davi meski setelahnya dia terpaksa harus pergi dari rumah itu karena pemilik rumah sudah mengusirnya meski tidak secara langsung.
***
__ADS_1
Fero memarkir mobilnya di basemen apartemen milik tuannya. Dia memang diminta untuk menjemput seseorang, Su Jin. Entah siapa lagi gadis ini. Fero mulai menebak-nebak siapa gadis yang dimaksud tuannya. Davin tak pernah menceritakan detailnya tentang gadis itu. Bahkan Fero belum pernah bertemu dan tidak diberi foto gadis itu. Bagaimana dia bisa tahu kalau gadis itu bernama Su Jin?
Fero hanya menebak kalau gadis itu bukan dari tanah air, dilihat dari namanya mungkinkah gadis itu datang dari tempat asal nyonya besar? Fero kembali menghela nafas panjang, tadi sebenarnya dia ingin minta foto gadis bernama Su Jin ini. Setidaknya dia tidak akan keliru nantinya. Namun teriakan tuannya mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi.
Ting
Suara lift terbuka tak ada siapapun di dalam. Memang apartemen tuan mudanya merupakan apartemen mewah yang tidak sembarang orang bisa tinggal disana kecuali orang-orang yang memiliki penghasilan diatas lima M. Sehingga tak banyak yang tinggal di apartemen mewah itu.
Fero memencet lantai apartemen nomer dua puluh tempat apartemen tuannya berada. Fero menunggu sampai benda berbentuk balok itu mengantarkannya ke tempat tujuannya dengan sabar.
Ting
Lantai dua puluh telah sampai, pintu lift pun terbuka. Fero berjalan ke unit tuannya karena memang setiap lantai hanya ada satu unit apartemen saja.
Ting tong ting tong
Bel tombol pintu ditekan Fero dan dia menunggu penghuni apartemen membuka pintu. Meski sebenarnya dia tahu password pintu apartemen itu. Dia tak mungkin lancang langsung menekan password karena dia tahu. Apalagi mendengar yang menghuni apartemen tuannya adalah seorang gadis. Itu artinya Fero tidak boleh sembarangan asal masuk saja.
Namun sudah lebih dari sepuluh menit pintu tak kunjung dibuka. Dan Fero akan tahu misal gadis itu sudah keluar dari dalam apartemen karena setiap unit terhubung langsung dengan lift. Jadi tingkat keamanan apartemen akan aman jika ada seseorang yang tidak dikenal masuk ke dalam apartemen. Namun sejak tadi Fero tidak melihat siapapun yang keluar masuk dari lift itu.
Ting tong ting tong
Fero kembali menekan bel dan muncul kembali di layar tempat penghuni unit apartemen akan tahu siapa tamunya. Namun layar itu seolah tidak menyala. Layar itu lampu merahnya akan menyala jika penghuni sudah melihat layar yang sama dari dalam apartemen. Namun sepertinya layar itu tidak menyala seolah memang tidak ada di penghuninya.
.
.
__ADS_1
TBC