
"Selamat datang tuan." Sapa kepala pelayan di villanya.
Davin terdiam berdiri di depan pintu masuk entah ingin apa. Mulutnya serasa terkunci.
"Nona di kamarnya dan sudah selesai mandi." Davin langsung melangkah menuju kamar di sebelah Davi tanpa menjawab apapun dalam ucapan kepala pelayan.
***
"Panggil dia untuk makan malam bersama di meja makan." Titah Davin setelah dirinya selesai mandi dan berganti pakaian.
"Baik tuan." Kepala pelayan langsung undur diri dan menuju kamar Davi.
"Permisi nona." Sapa kepala pelayan membuat Davi menoleh.
Dia sedikit mengernyit heran karena tak melihat nampan makanan yang dibawanya. Biasanya jam segini makan malamnya dibawa ke kamarnya. Dia masih terdiam menatap kepala pelayan menunggu kata-katanya.
"Tuan muda mengajak anda untuk makan malam di meja makan bersama." Ucap kepala pelayan membuat Davi semakin mengernyit heran.
"Untuk?" Bukan jawaban yang diberikan Davi tapi dia malah balik bertanya.
"Eh, itu... mungkin tuan muda mulai mengizinkan anda keluar kamar dengan mengajak makan malam bersama." Jawab kepala pelayan bingung dengan apa yang disampaikan hanya semata terlintas dalam benaknya.
Davi tampak berpikir, dia terdiam agak lama hingga kemudian dia memilih menurut apa mau Davin.
"Kita kesana sekarang." Jawab Davi berjalan ke arah pintu kamar dengan diikuti kepala pelayan di belakangnya.
Tampak Davin sudah bersiap duduk di kursi meja makan tempat kursi kepala keluarga. Davi menatap Davin yang juga menatapnya namun sedetik kemudian, Davi memilih melepas pandangannya ke arah lain. Mencari tempat duduk yang sekiranya agak jauh dari Davin duduk.
"Duduklah disini!" Titah Davin lembut sambil mendorong kursi di sebelahnya.
__ADS_1
Davin seolah tahu apa yang ada di pikiran Davi hingga Davi kembali menatap Davin agak lama. Memilih untuk tidak berdebat panjang. Davi menuruti apa ucapan Davin.
Kepala pelayan maju ke depan meja makan menyiapkan makan malam untuk kedua majikannya. Keduanya terdiam sama-sama tidak mengucapkan sepatah katapun. Suasana meja makan menjadi hening dan mencekam karena tatapan Davin tak lepas dari tatapannya pada Davi yang terdiam menundukkan kepalanya enggan membalas tatapan tajam Davin.
"Besok penghulu akan kemari untuk menikahkan kita." Ucapan Davin membuat makan Davi terhenti.
"Aku tak mau melakukan dosa terlalu banyak pada calon istriku. Begitu pun aku ingin segera memilikimu tanpa merasa bersalah." Davi masih tetap diam, tangannya terlihat mengepal menahan amarahnya.
"Aku akan menyuruh orang dari butik menyiapkan gaun dan MUA untuk besok pagi." Ucap Davin lagi masih sambil memakan makanannya.
"Bolehkah aku menemui orang tuaku dulu?" Ucap Davi membuat Davin yang semula dalam keadaan tenang kini tatapannya berubah tajam dan dingin.
Namun Davi terlihat menantang tatapan mata itu berusaha untuk tidak takut. Davin menghela nafas mengendalikan dirinya untuk tidak berteriak dan marah di hadapan calon istrinya.
"Kita akan menemui orang tuamu setelah kau hamil anakku dan kita telah resmi menjadi suami istri." Putus Davin meninggalkan meja makan yang masih belum habis karena sudah kehilangan moodnya.
"Biarkan aku menemui orang tuaku, setidaknya meminta restu pada mereka!" Teriak Davi namun tak digubris oleh davin yang langsung masuk ke dalam ruang kerjanya yang tak jauh dari meja makan
Karena Davin ingin suasana pribadi dengan davi mungkin karena ingin membahas tentang ijab qobul mereka besok pagi. Davin tak mau urusan pribadinya ada yang ikut campur, apalagi jika itu bertentangan dengan ucapannya.
"Hiks ... hiks... ibu ... ayah... " Bisik Davi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Setelah kegugurannya Davi sudah mulai tenang dan tak pernah menangis sekalipun. Dan entah kenapa hari itu dia ingin menangis lagi karena perlakuan Davin padanya saat itu.
Dia mengatakan mencintainya namun sikapnya tak menunjukkan sama sekali perasaan cinta itu. Davin lebih sering menyakiti hatinya meski tidak secara langsung.
***
Srek....
__ADS_1
Bruak...
Lagi-lagi Davin membanting semua barang-barangnya di meja kerjanya. Berkas-berkas penting tentang perusahaan berserakan di lantai sudah tak dipedulikan sama sekali. Bukannya tak mau Davin mengizinkan Davi menemui orang tuanya. Davin ingin meresmikan hubungan mereka dulu sebelum bertemu dengan kedua calon mertuanya.
Davin yakin jika dia meminta restu pada mereka sebelum resmi menjadi sepasang suami istri, kedua calon mertuanya pasti akan menuntutnya atas tuduhan penculikan terhadap putri mereka. Bukannya Davin takut pada hukum, Davin tak mau dipisahkan lagi dengan Davi. Davi adalah miliknya, wanitanya. Satu-satunya wanita yang akan menjadi istrinya.
Jika dia menemui orang tua davi setelah sah menjadi suami Davi, Davin yakin kedua calon mertuanya itu tak akan bisa lagi memisahkan mereka. Tangan Davin terkepal di sisi tubuhnya dengan erat. Dia tak mau melampiaskan emosinya di hadapan calon istrinya yang akan membuatnya semakin takut padanya. Cukup sikap lembut dan kasih sayang yang ditunjukkannya pada calon istrinya itu.
***
Esok paginya, kepala pelayan sudah melayani Davi sepagi benar untuk persiapan ijab qobul kedua majikannya. Pegawai butik dan MUA sudah tiba sesuai titah Davin untuk datang pukul delapan tepat. Tidak ada kata terlambat, karena kedisiplinan kunci keberhasilan. Davin tidak bisa mentolerir siapapun yang terlambat dan merugikannya.
"Kami dari butik Annisa, ingin merias anda." Ucap seorang wanita yang terlihat cantik dan masih muda namun tak lebih muda dari Davi.
Davi menatap mereka satu persatu yang masuk ke dalam kamarnya yang berjumlah empat orang. Dua orang yang menyiapkan gaunnya, dan dua orang yang akan meriasnya. Begitulah yang dijelaskan oleh wanita cantik berhijab itu. Davi menatap kepala pelayan seolah meminta pendapatnya.
Namun kepala pelayan hanya menunduk tak memberikan solusi apapun. Dia tahu diri apalah dirinya yang hanya seorang pelayan di villa itu. Davi menghela nafas berat dan panjang.
"Lakukanlah tugas kalian!" Jawab Davi terpaksa dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Keempat wanita itu saling menatap bertanya-tanya ada yang aneh dari pengantin itu. Namun karena mereka hanyalah orang yang dibayar oleh tuan muda Aftano, mereka hanya terdiam tak berani berkomentar apapun selain menjawab iya dan tidak.
"Baik nona." Kedua perias bersiap di tempatnya. Yang satu lagi menyiapkan alat-alat make up dan ditata sedemikian rupa di meja rias di kamar itu.
Sedang kedua orang yang bertugas menyiapkan gaun kebaya Davi memilih berdiri di dekat tempat beberapa gaun dipajang agar bisa dipilih Davi untuk dipakainya nanti.
.
.
__ADS_1
TBC