
"Ayah... ibu..." Rintih Davi berbaring melingkar di ranjang sambil memeluk lututnya.
Mulutnya bergumam menyebut ayah dan ibunya. Namun tampaknya tak membuat siapapun yang mendengarnya kasihan.
***
"Bantu dia mandi dan ganti baju!" Titah Davin setelah selesai membuang seluruh barang-barangnya di atas meja kerjanya.
Davin mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
"Baik tuan muda." Jawab kepala pelayan sambil berlalu meninggalkan ruangan Davin menuju kamar Davi.
"Orang tua nona Davi sedang melapor polisi karena nona sudah menghilang lebih dari dua puluh empat jam." Jelas Fero menatap Davin yang tidak baik-baik saja.
"Aku akan membujuknya setelah ini untuk mengirimkan surat pada orang tuanya." Jawab Davin sambil melepaskan kemejanya setelah jas kantornya di buang entah kenapa karena emosi tadi.
"Baiklah tuan, saya harus kembali ke kantor karena masih ada meeting dua jam lagi." Pamit Fero yang diangguki Davin.
Davin membanting tubuhnya di sofa panjang di ruang kerjanya tersebut. Dia terlalu sakit hati saat Davi bilang hubungan mereka putus begitu saja karena dirinya menghilang tanpa kabar.
Dan Davi pun menerima lamaran kekasihnya setelah sekian lama dan hampir saja semalam kekasihnya akan menjadi milik orang lain. Davin malah akan semakin murka jika terlambat sedikit saja. Davi miliknya, hanya miliknya sendiri.
***
"A... apa ini?" Tanya Davi keheranan karena pakaian yang disiapkan adalah kebaya seperti pengantin saja.
Davi masih memegang erat bath rope nya menolak untuk berganti pakaian yang disiapkan para pelayan itu.
"Tuan muda yang menyiapkannya nona." Jawab kepala pelayan.
"A.. aku ingin pakaian yang lain." Tolak Davi menjauh mendekati balkon jendela kamar.
"Maaf nona, tuan muda tak mau dibantah." Jelas kepala pelayan lagi.
"Aku tak peduli, katakan padanya aku tak mau!" Seru Davi semakin tinggi nada bicaranya.
"Nona... itu..."
__ADS_1
"Sudah kubilang aku tak mau! Keluar! Keluar!!" Teriak Davi menunjuk pintu keluar.
"Ada apa ini?" Davin tiba-tiba muncul di dalam kamar karena mendengar teriakkan Davi.
"Nona tidak mau memakai pakaian yang disiapkan tuan." Jelas kepala pelayan.
"Aku mau pakaian lain." Sela Davi tanpa menatap Davin dan para pelayan, dia membuang pandangannya ke arah lain.
Davin yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian lebih rapi memberi kode pada para pelayan untuk meninggalkan kamar. Para pelayan dengan sigap dan patuh segera menuruti keinginan tuan mudanya.
"Kau ingin aku memakaikan pakaianmu?" Tanya Davin lembut.
Davi sontak menoleh menatap Davin dan melihat ke arah lain hanya ada mereka berdua. Davi mulai ketakutan dan merapatkan bath rope mandinya.
"A... aku ingin pakaian lain." Jawab Davi sudah tidak berteriak seperti tadi lagi karena tak mau memancing emosi Davin yang mungkin akan berbuat nekat padanya.
"Kita akan melaksanakan ijab qobul, dan aku ingin kau memakainya sekarang. Penghulu akan datang satu jam lagi!" Titah Davin lembut.
"Aku belum mengiyakan untuk menikah denganmu." Tolak Davi menatap Davin tajam.
"Aku tak butuh persetujuanmu. Dan aku tak mau ditolak." Jawab Davin mulai kehilangan kesabaran.
Davin memejamkan matanya, dia sudah menyabarkan dirinya untuk tidak terbawa emosi di hadapan kekasihnya.
"Jangan memancing emosiku sayang! Lakukan apa yang aku katakan sebelum aku memaksamu! Dan aku yakin aku lebih suka menggunakan pemaksaan." Ucap Davin masih dengan nada suara rendah meski sebenarnya dia sudah mulai emosi.
"Huh... sejak awal kau tetaplah pria brengsek yang tak mendengarkan siapapun. Kau pun memaksa untuk ku selalu menurut padamu. Tapi sekarang kau sudah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Dan sayangnya aku menolaknya. Lepaskan aku!" Seru Davi menatap Davin nyalang penuh emosi.
Davin murka, Davin marah, Davin mendekati tubuh Davi yang ketakutan melihat raut wajah Davin yang tidak baik-baik saja. Davi semakin mundur, dia menyesal sudah berteriak pada Davin. Seharusnya dia bersikap lembut pada Davin agar Davin tidak emosi.
"Kau... mau apa?" Tanya Davi gelagapan.
"Kau sudah mencoba bermain denganku sayang. Jangan salahkan aku jika aku melakukan pemaksaan dan berbuat kasar padamu!" Bisik Davin yang terdengar menakutkan di telinga Davi.
Tubuhnya gemetar ketakutan, Davi terpundur ke ranjang dan terjerembab ke ranjang. Davin melepas jasnya, dasinya dikendurkan dan dilepas sekalian. Sambil tetap mengejar langkah Davi, Davin melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Kau...kau... mau apa Davin? Jangan! Jangan! Kumohon!" Pinta Davi memelas melihat Davin mulai menatapnya lapar dan mes*um.
__ADS_1
"Jangan lakukan Davin! Kumohon!" Davi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis membujuk Davin.
"Tidak Davin, please!" Permohonan Davi seperti angin lewat bagi Davin.
Davin yang sudah kehilangan kesabaran untuk membujuk Davi akhirnya pupus. Mungkin memilikinya secara utuh akan membuat Davi menurutinya.
"Maaf sayang, kau sudah membuatku kehilangan kesabaran. Kau yang memilih cara yang salah ketimbang cara yang baik-baik. Karena ini keinginanmu aku akan menurutinya." Jawab Davin membuat Davi memberontak saat tubuhnya berhasil ditarik dan berada dibawah kungkungan Davin.
"Jangan Davin, kumohon!" Pinta Davi memelas menatap Davin sendu.
"Sudah terlambat sayang, aku akan membuatmu mendesah di bawahku." Bisikan Davin di dekat telinga Davi membuat Davin sukses meloloskan bath rope Davi hingga terpapang nyata tubuh Davi di bawahnya.
Davin meneguk ludahnya kasar menikmati pemandangan indah di bawah tubuhnya. Davi berontak, Davi meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari cekalan Davi. Namun cekalan kuat dan himpitan tubuh bawah Davin terlalu kuat. Dan tubuh mungil dan tenaga kecil Davi tak mampu memberontak.
Hingga kecupan-kecupan kecil mulai terasa di kulit wajah Davi dan jilatan-jilatan yang membuat Davi tanpa sadar mendesah perlahan sambil terus menerus tangisan keluar dari mulutnya dan rintihan memohon untuk dilepaskan semakin membuat Davin berhasrat dan nafsunya pun berada di ujung tanduk.
"Lepaskan aku Davin! Kumohon!" Bisik Davi untuk kesekian kalinya tak membuat Davin melepaskan diri, nafsunya sudah mengalahkan rengekan dan rintihan Davi.
Kini Davin sudah bersiap di antara pa*a Davi.
"Jangan Davin, kumohon!" Davi terus menerus memohon dan menggeleng-gelengkan kepalanya menolak.
Namun bukan membuat Davin berhenti tapi terus melancarkan aksinya membobol gawang yang sudah diinginkan sejak lama. Bahkan karena terlalu mencintai Davi, Davin berpuasa untuk tidak mencari kepuasan di luar sana.
"Tubuhmu menginginkan juga sayang, aku akan melakukannya dengan lembut. Bertahanlah sebentar saja!" Bisik Davin serak.
Bles...
"Aaww... sakit...sa...kit Davin..." Rintih Davi saat sebuah benda asing masuk ke dalam tubuhnya yang menyebabkannya kesakitan dan air mata semakin mengalir deras di pipinya.
"Hanya sebentar sayang, bertahanlah sebentar saja! Setelah ini kau akan menikmatinya." Bisik Davin sambil mengecupi seluruh wajah Davi dan berakhir di bibirnya untuk meredam rasa sakitnya.
Davin mulai menghentak begitu Davi merasa nyaman tak sakit lagi. *******-******* terdengar memenuhi kamar itu. Davi menyerah, percuma dia memohon dan melawan.
Tenaganya sudah habis. Hari itu, Davin sudah merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis. Davi terdiam menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Dia tak percaya kalau kehormatannya akan hilang begitu saja bukan dengan suaminya.
Hingga setelah satu jam, lenguhan panjang terdengar di dalam kamar memenuhi ruangan. Davin sudah mendapatkan pelepasannya. Davi yang sudah entah ke berapa pelepasannya.
__ADS_1
"I love you baby." Bisik Davin mendekap tubuh Davi erat ke dalam pelukannya.
TBC