
Setelah beberapa hari Davi mendapat bimbingan dari Febi, Davi sudah mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberi oleh Febi sebagai uji coba jika Febi meninggalkan kantor. Davi gadis yang cerdas yang langsung paham akan pekerjaannya setelah mendapat penjelasan dari Febi.
"Sekarang aku sudah tenang saat meninggalkanmu nanti." ujar Febi tersenyum melihat kesungguhan kerja Davi.
"Semua berkatmu mbak, aku sangat berterima kasih atas kesabaranmu membimbingku." jawab Davi tersenyum.
"Ah, aku tak sabar untuk mengundurkan diri dan menghabiskan waktuku dengan babyku." ucap Febi sambil mengelus perutnya yang buncit.
"Semoga lancar ya mbak, lahiran nanti." ucap Davi sambil mengelus perut buncit Febi.
"Ehm..." suara deheman dari ruang CEO membuyarkan obrolan keduanya.
"Maaf pak. Ada yang bisa kami bantu." keduanya sontak berdiri menatap Davin yang sudah muncul tiba-tiba di meja mereka.
"Kita ke ruang meeting sekarang. Kau ikut! Febi, biar aku lihat hasil dari bimbinganmu selama ini." intruksi Davin berjalan ke ruang meeting tanpa menunggu jawaban keduanya.
"Baik pak. Davi... semangat!" ucap Febi sambil mengepalkan tangannya ke atas memberi semangat pada Davi.
"Doakan ya mbak, semoga aku tak membuat kesalahan."
"Tentu." Davi mengikuti segera langkah Davin yang sudah memasuki lift.
Kini mereka berdua di dalam lift khusus eksekutif. Fero menangani proyek pembangunan di luar kota. Alhasil Davi lah yang setiap hari menemaninya di setiap meetingnya. Dada Davin berdebar kencang saat berduaan dengan Davi di dalam lift. Setelah mengunjungi dokter pribadinya dan bertemu dengan dua hari lalu.
Dokter menyatakan bahwa dirinya sehat tanpa kurang suatu apapun. Dokter malah mencadainya bahwa Davin saat ini sedang jatuh cinta. Tentu saja hal itu membuat Davin terkejut. Dan meminta untuk penjelasan semua yang dikatakan dokternya.
Flashback on
"Apa maksudmu?" seru Davin. Davino Mattew Aftano adalah putra pertama Arthur Zion Aftano, cucu dari Ferderian Zion Aftano.
Pemilik perusahaan nomer satu di negaranya yang kini sudah merambah di negara-negara tetangga termasuk negara dimana mamanya berasal yaitu Korea. Keluarganya memutuskan untuk kembali ke negara asal mamanya karena sang kakek sudah sangat tua untuk mengurus usahanya hingga meminta sang papa dan mama yang mengurusnya.
Namun Davin memilih untuk tetap tinggal di Indonesia tempat asal papa dan meneruskan perusahaan sang kakek yang sudah meninggal tepat setelah sebulan kepergian neneknya. Sang kakek yang begitu mencintai neneknya tak mampu untuk hidup sendiri meski dikelilingi anak-anak dan cucunya. Hal itu membuat sang kakek tak makan dan istirahat dengan benar.
Dia selalu melamun dan mengenang istrinya hingga akhirnya kakeknya menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebulan kepergian sang nenek. Dan itupun karena Arthur juga memintanya untuk tetap tinggal dan bertahan di Indonesia untuk meneruskan bisnis kakeknya.
__ADS_1
Sehingga setelah Davin berusia delapan belas tahun sudah digembleng dengan berbagai pelajaran bisnis tentang bisnis kakeknya yang tidak sedikit. Namun setelah kedua orang tuanya pindah ke Korea dengan adik-adiknya Davin tetap dibantu oleh paman-pamannya baik itu paman Dion maupun paman Al.
Namun karena para pamannya juga sudah sibuk sendiri dengan bisnis turun temurun mereka masing-masing, Davin tak mau merepotkan mereka dan memilih untuk mandiri sendiri untuk belajar lebih giat lagi. Dengan orang kepercayaan papanya, Zion yang sengaja ditinggal sementara waktu agar Davin siap untuk mengurusnya sendiri.
Dan Fero, putra Zion, setelah dinyatakan lulus untuk mendampingi Davin. Zion pun kembali ke Korea mengikuti tuan mudanya yaitu Arthur.
"Kau sedang jatuh cinta." ucap dokter pribadinya yang tak lain masih teman kuliahnya dulu mengeja kata-katanya.
"Kau pasti bercanda." jawab Davin merapikan pakaiannya dan duduk di kursi periksa ruangan dokter.
"Bagaimana aku menjelaskan lagi? Kau menjawab pertanyaanku dengan menjawab iya, iya dan iya. Dan itu artinya kau jatuh cinta pada gadis yang membuatmu berdebar tadi." lanjut dokter itu menatap Davin dengan senyum manisnya.
"Kenapa kau menjadi dokter bedah? Kenapa tidak beralih profesi saja sebagai dokter cinta?" tegur Davin meninggalkan ruangan dokter itu tanpa pamit.
Flashback off
"Maaf pak." panggil Davi beberapa kali melihat atasannya seperti melamun.
Pasalnya pintu lift sudah terbuka dari tadi. Namun tampaknya Davin tengah melamun.
"Ya? Oh..." Davin mengumpat dalam hati karena dirinya ketahuan melamun. Davi hanya mengedikkan kedua bahunya acuh.
Dan meeting berjalan lancar tanpa kurang suatu apapun. Dan Davin puas dengan meeting kali ini dan Davi bekerja dengan sangat baik bahkan lebih baik dari pada Febi, bukan karena Febi buruk, namun Davi lebih memberi penjelasan dengan detail dan dapat dimengerti oleh para orang awam bawahan Davin.
**
Sudah lebih dari dua minggu Davi bekerja sebagai sekretaris CEO menggantikan Febi. Dan Febi sudah mengundurkan diri dari perusahaan. Kini Davi bekerja sendiri di meja sekretaris.
Dan dia lah yang terus menemani Davin di setiap meeting di kantor maupun bertemu klien. Fero, diberi kepercayaan lain mengurus proyek-proyeknya yang lain.
Dan Davin, dadanya masih berdetak kencang jika di dekat Davi. Dan jantung berolahraga seirama dengan tatapan matanya yang penuh cinta pada Davi. Namun entah Davi yang polos atau tidak peka.
Selama bersama, Davi masih bersikap biasa dan tetap formal layaknya atasan dan bawahan. Hal itu semakin membuat Davin jengkel dengan ketidak pekaan Davi.
Suara telepon di meja kerja Davi berdering dan dia segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Ke ruanganku sekarang!" titah Davin yang belum juga Davi mengeluarkan suara sudah kembali ditutup.
Davi ingin mengumpat, namun mengingat Davin adalah atasannya, dia pun mengurungkan niatnya dan berdiri untuk masuk ke dalam ruangan Davin.
Tok tok tok
"Masuk!" jawab Davin dari dalam.
Cklek
Davi membuka hendel pintu dan masuk ke dalam menghampiri Davin yang sedang berdiri membelakanginya mencari sesuatu di lemari ruangannya.
"Bantu aku mencari berkas laporan tahun lalu!" titah Davin masih sibuk tanpa mengalihkan pandangannya.
"Baik pak." jawab Davi dan mulai mencari di lemari sisi lain tempat Davin berada.
"Ah, sial... dimana aku menyimpannya." umpat Davin yang lupa dengan keberadaan Davi yang dimintanya tadi untuk membantu.
"Apa bapak tak ingat warna mapnya mungkin?" sela Davi melihat Davin yang mulai putus asa. Davin tersentak saat mendengar suara lain di dalam ruangannya, mereka sudah di dalam ruangan yang sama setengah jam yang lalu.
"Oh shit, bagaimana aku bisa lupa kalau dia ada di sini?" guman Davin yang tak didengar Davi.
"Apa mungkin yang diatas itu pak?" tanya Davi menunjuk berkas warna merah yang lebih tinggi dari tinggi badan Davi yang hanya 165 cm.
Davin mengikuti arah pandang telunjuk Davi dengan sedikit gemas karena melihat wajah lelah Davi yang juga kesal karena tak mendapatkan apa yang dicarinya. Davin menatap tubuh Davi yang langsing dengan bentuk tubuh yang sangat menarik perhatiannya.
Jangan lupakan, gundukan di dadanya yang terlihat besar. Seketika Davin meneguk ludahnya kasar merasakan sesuatu di bawah tubuhnya menggeliat bangun membuatnya sesak ingin dibebaskan. Wajah Davin seketika memerah membayangkan tubuh Davi jika telanjang di bawah kungkungannya.
"Ah, shit." umpat Davin lagi memalingkan wajahnya menatap sembarang arah.
Adik kecilnya semakin sesak saja. Davin bukan orang yang munafik. Dia pun pernah bermain dengan ja*lang, namun dia sangat pemilih. Dia memilih ja*lang yang perawan dan tak akan melakukan dua kali dengan orang yang sama. Dan dia pun bermain cantik agar tak diketahui orang tuanya, bisa panjang urusannya nanti kalau sampai orang tuanya tahu tentang kebiasaan buruknya ini.
Itu pun jika dirinya sedang tegang, jika tidak Davin terpaksa bermain solo di kamar mandi. Kini pemandangan seorang gadis di sampingnya ini mampu membuatnya tegang tanpa harus telanjang terlebih dahulu. Apakah dia jatuh cinta atau hanya obsesi saja. batin Davin.
"Ukh...uhk..." suara yang mirip desahan itu semakin membuat Davin tak sabaran, memalingkan wajahnya menatap Davi yang kesulitan meraih berkas yang sulit dijangkaunya.
__ADS_1
Namun bukannya membantu, Davin malah menikmati pemandangan itu, apalagi melihat dada Davi yang bergerak indah membuat pikiran mesum Davin membayangkan lagi tubuh Davi jika berada di bawahnya.
TBC