
Kini keduanya sudah berada di dalam pesawat untuk penerbangan ke pulau B. Davi duduk bersebelahan dengan Davin bosnya. Karena Davin tak mengizinkan Davi jauh-jauh agar dia selalu ada saat dia dibutuhkan nanti. Davi hanya bisa menuruti, toh dirinya dibiayai oleh perusahaan perjalanannya ini.
Tak sampai tiga jam, pesawat mendarat di bandara tempat pulau B. Fero sudah datang untuk menjemput Davin. Fero sedikit terkejut dan mengernyitkan dahi saat melihat bosnya tidak datang sendiri. Dia ditemani oleh sekretarisnya. Biasanya Davin tak pernah membawa sekretarisnya meski dia di luar kota.
"Selamat datang tuan." sapa Fero menundukkan kepalanya dan menarik koper keduanya.
Fero tak mungkin tidak membawa koper Davi melihat wajah lelah pada gadis. Dan hal itu pasti ulah bosnya.
***
Davi bersiap karena malam ini harus menemani bosnya untuk bertemu klien.
Tok tok tok
"Sebentar." seru Davi memberikan sentuhan terakhir pada bibirnya dengan lipstik miliknya berwarna pink sebelum membuka pintu kamar hotelnya.
"Kita berangkat pak." ajak Davi melihat Davin yang berdiri di depan pintu kamar Davi menatap Davi terpesona.
"Ayo!" tarikan tangan Davin membuat dada Davi berdebar entah karena apa.
Namun dia merasakan nyaman dan tenang. Dia juga tak berusaha melepaskan genggaman tangan bosnya hanya mengikuti dari belakang meski Davin memintanya untuk berjalan di sisinya.
Saat perjalanan menuju restoran tempat meeting mereka diadakan. Ponsel Davi berdering nyaring. Davi sempat tersentak karena sedang gugup jemari tangannya terus digenggam oleh Davin. Davi langsung melepas genggaman itu hati-hati agar terkesan tak menolaknya mentah-mentah.
Davi mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya yang tertera nama kekasihnya.
"Oh my..." kejut Davi melihat siapa yang menghubunginya.
Mereka punya janji untuk makan malam bersama dan Davi melupakan itu. Dan bahkan dia lupa mengabari kekasihnya jika sedang di pulau B. Davi menepuk jidatnya merasa enggan untuk menjawab panggilan itu. Davi melirik Davin yang ternyata juga tengah meliriknya.
Dalam percakapan ponsel :
Davi :"Honey, maaf. Aku sekarang ada di pulau B." sapa Davi sambil melirik Davin yang melihat ke luar jendela mobil.
Pacar :"Kau tak mengabariku." jawab pria itu terdengar kecewa.
__ADS_1
Davi :"Maaf. Aku lupa karena mendadak. Aku harus ikut dengan atasanku karena ada yang harus kami urus. Maaf." sesal Davi terlihat merasa bersalah.
Pacar :"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik! Jangan sampai kecapean."
Davi :"Terima kasih honey." Davi tersenyum dan menutup panggilannya.
Davin terlihat emosi melihat siapa yang menghubungi Davi. Hatinya panas. Rahangnya mengeras. Namun dia hanya diam tak mau menunjukkan pada Davi. Davi terdiam karena Davin mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
***
Meeting malam itu lancar, besok mereka sepakat untuk mengunjungi proyek mereka. Dan masalah yang mendesak terselesaikan dengan lancar. Davin masih memperlakukan dingin Davi. Davin masih kecewa karena telpon Davi tadi.
Davi pun kebingungan karena bosnya mendiamkannya selama meeting. Mereka hanya bicara seperlunya dan itupun hanya membahas tentang pekerjaan.
Sesampainya di hotel tempat mereka menginap. Davin kembali ke kamarnya tanpa mempedulikan Davi. Entah kenapa Davi terlihat kecewa dan sakit hati dengan perlakuan dingin Davin. Padahal saat berangkat Davin memperlakukannya dengan sangat manis.
Ah, sadar Davi, dia bosmu dan kau sudah punya kekasih. Jangan terlalu berharap. batin Davi menyadarkan dirinya.
Hingga hampir tengah malam Davi bolak-balik di ranjang tempat tidurnya. Dia terlihat gelisah masih terpikir dengan kelakuan Davin tadi. Davi bangun dan mencoba berjalan-jalan di tepi pantai untuk meredakan kegelisahan. Beruntung hotel tempat mereka menginap dekat dengan pantai.
Sementara Davin masih berdiri di balkon kamar tidurnya sambil menyesap rokoknya. Hatinya juga gelisah tak karuan. Dia yang mendiamkannya tapi dia yang gelisah. Dia ingin memeluk tubuh mungil dan mengecup bibir mungil itu.
Dan tanpa sengaja matanya melihat sosok yang dikenalinya sedang berjalan menuju pantai dekat hotel.
"Apa yang sedang dilakukannya?" bisik Davin sambil melirik jam dinding di kamar menunjukkan pukul sebelas malam.
"Ini hampir tengah malam. Apa dia sudah tidak waras." ucap Davin lagi masih menatap arah Davi berjalan.
Davin menyesap rokoknya dan mematikan rokok itu. Mengambil jaket dan keluar kamar untuk menyusul Davi. Dia tak mau gadis itu bertingkah bodoh saat disini.
Davin mencari-cari keberadaan Davi yang ternyata duduk di karang batu dekat pantai tak jauh dari tempat Davin berdiri. Davin menghampiri perlahan dan menatap wajah gadis yang sudah merajai hatinya itu.
"Kau sangat cantik." bisik Davin menatap Davi dari kejauhan yang tidak diketahui Davi.
Davin masih setia terdiam di tempatnya menatap Davi yang menikmati udara malam. Terlihat Davi sudah mulai mengusap-usap kedua lengannya dengan menyilang kan tangannya.
__ADS_1
"Bodoh, sudah tahu dingin, kenapa tak kembali ke kamar." bisik Davin tersenyum.
Menatap wajah Davi di kejauhan sakit hati yang dirasakan Davin tadi perlahan menguap.
"Aku akan memperjuangkanmu meski harus melakukan segala cara. Aku mencintaimu Davi." bisik Davin lembut mendekati Davi perlahan.
**
Davi tersentak kaget saat ada tangan yang melingkari perut ratanya. Dan menjatuhkan kepalanya di bahunya.
"Si... siapa?" Davi terlihat ketakutan jika ada orang asing yang berniat buruk padanya.
"Biarkan seperti ini sebentar!" bisik Davin menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Davi.
Davi terlihat menegang atas perlakuan Davin. Davin mengecup lehernya membuat Davi merinding. Davin semakin intens saat melihat Davi memberikan akses lebih dan terlihat menikmati.
"Aahh..." desahan lolos dari mulut Davi membuat Davin semakin bersemangat.
"Aku mencintaimu Davi. sangat..." bisik Davin di sela-sela kecupannya.
Davi semakin menegang namun menikmatinya. Davin membalikkan tubuh Davi mengahadap padanya, menyerang bibir Davi liar dan brutal. Seolah tak ada hati esok lagi. Davin ingin menuntaskan rasa gelisahnya sejak tadi yang membuatnya uring-uringan karena Davi membuatnya cemburu.
Padahal Davi berbicara dengan kekasihnya. Dan siapakah dia tak berhak marah karena Davi bukan siapa-siapa baginya? Namun sudah mengklaim Davi miliknya saat Davi menerima ciumannya pertama kali mereka.
Bug...bug ... pukulan Davi pada dada bidang Davin membuat Davin melepas ciumannya karena merasa pasokan udara Davi sudah mulai menipis.
"Apa ...?"
"Ssstt... aku tak ingin dengar apapun. Aku hanya ingin menikmati waktu kita berdua." bisik Davin menutup mulut Davi dengan satu jarinya. Davin meraih Davi ke dalam pelukannya.
"Pak, aku..."
"Bisakah kau tak menyebutku dengan kata itu. Aku tak setua itu dan aku tak pernah menikah dengan ibumu. Dan setelah ciuman kita tadi?" wajah Davi memerah saat diingatkan lagi dengan ciuman mereka barusan.
Entah kenapa hatinya sangat bahagia mendengar pernyataan cinta dari orang yang membuatnya gelisah sejak didiamkan tadi. Maafkan aku Gio, aku telah mengkhianatimu. Salahkah cintaku lebih besar pada pria ini? batin Davi membalas pelukan Davin erat.
__ADS_1
Aroma maskulin menyeruak ke dalam hidungnya yang membuatnya nyaman. Bahkan selama pacaran dengan Gio dia tak pernah melakukan hal intim seperti ini. Davi tak mengizinkan Gio sebelum mereka menikah. Tapi saat bersama Davi, dia tak bisa menolaknya bahkan menikmatinya.
TBC