Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 17


__ADS_3

"Ma, kenapa kita tak mengajak papa pergi bertiga?" ucap Matty saat lift yang mereka naiki pintunya terbuka. Ji An spontan menatap putranya.


"Ide yang bagus boy." jawab Arthur tersenyum, sambil mengecup pipi putranya sekilas. Arthur beralih menatap Ji An yang terdiam.


Arthur keluar dari lift menuju kamar ruang kerjanya yang ada di hotel itu. Ji An yang masih dalam lamunannya hanya mengikuti langkah Arthur yang masih menggendong putra mereka.


"Ini ruang kerja papa?" tanya Matty saat Arthur mendudukkan di sofa depan meja kerjanya.


Ji An baru sadar dimana mereka saat ini. Dia ikut duduk di sofa samping putranya, tangannya mengutak-atik ponsel mencoba menghubungi seseorang yang bisa memberinya informasi yang diinginkannya, namun ponsel itu sedang tidak aktif. Ji An lagi-lagi mencobanya tetap saja tidak terhubung.


Akhirnya dia meninggalkan pesan karena terlihat masih online beberapa jam lalu. Arthur menatap Ji An yang terlihat sibuk dengan ponselnya dengan tatapan sebal, Apa yang lebih penting dari pada ponselnya itu. batin Arthur, namun tatapan mata Ji An terlihat cemas, panik dan sedih. Tanpa sadar Arthur melihat Ji An mengusap wajahnya berkali-kali sambil mendesah.


"Mama Kenapa?" tanya Matty yang mengenal sang mama jika mamanya sedang gelisah saat ini.


Arthur hanya menajamkan pendengarannya demi mengetahui jawaban Ji An saat ditanya putranya. Dia pura-pura menyibukkan diri dengan membolak-balik berkas laporan itu.


"Tak apa sayang, maaf membuatmu cemas, terima kasih sudah memperhatikan mama, tidak seperti seseorang." jawab Ji An tersenyum manis sambil mengusap rambut putranya.


Arthur tersentak merasa tersindir dengan kata-kata itu. Dia spontan berdiri dari duduknya.


"Ayo kuantar!" tarikan tangan Arthur spontan ditolak Ji An, karena bukan itu maksudnya, dia hanya ingin diizinkan pergi dengan putranya.


"Tidak. Cukup biarkan aku pergi bersama putraku." jawab Ji An berhasil melepaskan cekalan tangan Arthur.


Arthur menatap Ji An dingin dan beralih menatap Matty yang bingung dengan kedua orang tuanya.


"Denganku atau tidak sama sekali. Kau dengar tadi, putraku ingin kita pergi bersama." Arthur tersenyum seringai.


"Art...."


Drrtt ..drrrtt... ponsel Ji An berdering, dia melirik layar ponselnya dan tertera nama orang yang ditunggunya untuk menghubunginya. Ji An terlihat antusias. Ji An menatap kedua orang yang berarti dalam hidupnya itu bergantian yang dibalas tatapan penasaran pada keduanya.


"Aku... ke toilet sebentar."

__ADS_1


"Di pojok ruangan." seru Arthur menunjuk ke arah pojok ruangannya.


Ji An sebenarnya ingin pergi dari ruangan itu dengan alasan untuk menerima panggilan pada ponselnya itu namun karena alasannya yang spontan terucap di mulutnya. Panggilan itu akhirnya mati. Arthur hanya menatap gerakan Ji An yang terlihat salah tingkah itu. Dan membuat Arthur semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang menjadi ibu dari putranya itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang harus kau selesaikan?" tanya Arthur melihat Ji An kebingungan karena panggilan ponselnya mati saat dirinya belum sempat menjawabnya padahal dia terlihat antusias saat menerimanya.


"Biarkan aku membawa putraku pulang Art?" pinta Ji An memelas dengan tatapan penuh permohonan.


Arthur terdiam menatap Ji An penuh tanda tanya dan juga kasihan.


"Pergilah, selesaikan urusanmu! Biarkan Matty bersamaku, itu jauh lebih aman. Kami akan menunggumu disini." ucap Arthur yang melihat wajah Ji An awalnya senang namun kembali sendu karena dirinya tetap tak diizinkan membawa putranya.


"Tapi..."


"Kalau kau tak mau urusanku kucampuri pergilah, kami akan menunggumu sampai kau kembali." ucap Arthur lagi tak menerima penolakan, Arthur kembali duduk di kursi kerjanya pura-pura sibuk kembali dengan berkas-berkas laporannya lagi. Entah kenapa dadanya terasa sesak seperti diremas setelah mengucapkan kalimat itu.


Ji An mengikuti langkah Arthur, yang terlihat masa bodoh dan cuek padanya, entah kenapa hatinya mencelos melihat kecuekan Arthur padahal dia ingin menceritakan semua masalahnya namun Ji An merasa bahwa diantara mereka tak ada hubungan apapun selain putra mereka.


Dan Ji An takut mengungkapkan perasaannya kalau ternyata mungkin saja Arthur punya seseorang pengganti dirinya meski saat pertama bertemu Arthur mengatakan kalau dia mencari dirinya kemana-mana namun tak pernah menemukan. Ji An menghela nafas panjang, beralih menatap putranya lembut, menyentuh pundak putranya.


Ji An beralih mendekati meja Arthur yang sedang serius dengan pekerjaannya.


"Aku... titip Matty, terima kasih. Aku pergi dulu." Arthur hanya mengangguk tak menatap sama sekali ke arah Ji An.


Entah kenapa itu membuat Ji An kecewa dan sedih, dia... masih sangat mencintai pria di hadapannya tak pernah sekalipun melupakannya selama ini. Ponsel Ji An kembali berdering, dia segera mengangkatnya setelah di luar ruangan Arthur sambil menuju lift khusus.


Arthur menghela nafas berat, dia ingin mengamuk melampiaskan kekesalannya tapi dia tak mungkin melakukannya di hadapan putranya yang sedang asyik makan dan tablet mainannya yang disiapkan Arthur agar putranya tak bosan bersamanya.


Arthur menatap putranya sendu, hatinya sesak dan sakit merasa dicueki wanitanya yang dinantinya selama ini. Kenapa kau tak mau terbuka padaku? Apa aku segitu tak bisa dipercaya olehmu? Batin Arthur menepuk dadanya yang terasa sesak.


Tok tok tok


"Masuk!" ucap Arthur setelah mengendalikan dirinya karena perasaannya.

__ADS_1


"Tuan, memanggil saya?" jawab Zein membungkukkan badannya.


"Suruh beberapa orang mengikuti Ji An, laporkan semua yang dilakukannya dimanapun dan apapun!" titah Arthur sambil melirik putranya yang masih fokus pada tabletnya yang artinya tidak mendengarkan ucapannya pada Zein.


Arthur tak mau putranya berpikir macam-macam kenapa dirinya meminta orangnya untuk membuntuti sang mama.


"Baik tuan."


"Dan... kau sudah mencari tahu tentang latar belakangnya?" tanya Arthur lagi.


"Belum lengkap tuan, banyak kejanggalan pada latar belakangnya, tapi saya belum pasti. Kalau sudah pasti saya akan mengatakan seluruhnya pada tuan nanti."


"Cepatlah!" ucap Arthur tak sabar.


Dia sudah sangat penasaran tentang latar belakang wanitanya itu, dulu dia menyuruh seseorang menyelidiki latar belakangnya namun tak menemukan apapun. Sekarang katanya ada yang janggal dengan wanitanya itu semakin membuat Arthur penasaran.


"Baik tuan, saya undur diri." Arthur mengangguk, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mengusapnya kasar.


'Sebenarnya apa yang ingin kau sembunyikan dariku? bisik Arthur, lagi-lagi dia mengusap wajahnya kasar. Menyugar rambutnya, menyandarkan tubuhnya yang terasa pening. Dipijatnya perlahan tengah hidungnya yang terasa berdenyut.


Sesulit inikah mendapatkan dirimu? Batin Arthur lagi-lagi mendesah, menghela nafas panjang dan berat. Menatap langit-langit ruangannya, wajah sedih Ji An terlihat di hadapannya. Aku masih tetap mencintaimu, hanya dirimu.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya

__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya


__ADS_2