
Kedua orang tua Davin, Arthur dan Ji An sudah siap untuk berangkat makan malam di sebuah restoran langganan keluarga Kim. Hanya tinggal menunggu Davin yang masih belum turun dari kamarnya di lantai dua. Entah sedang apa, meski Davin berusaha menolaknya namun Davin masih menyayangi kedua orang tuanya sekaligus menghormati mereka. Dia juga tidak setega itu menolak pertemuan perjodohan itu.
Kedua orang tuanya tidak akan memaksa jika keduanya tidak cocok. Orang tuanya menyarankan untuk bertemu lebih dulu untuk menghormati calon yang akan dijodohkan dengannya.
Sepuluh menit kemudian, Davin sudah turun dari lantai dua dengan pakaian formal seperti orang kebanyakan. Ji An tersenyum sumringah melihat putranya yang benar-benar menepati janjinya.
"Kau sudah siap nak?" Tanya Ji An menyambut putranya di bawah tangga. Davin hanya diam.
"Kita berangkat sekarang!" Titah Arthur sambil menggandeng lengan istrinya mesra. Davin hanya berdecak kesal merasa tersindir dengan kemesraan orang tuanya.
Selama dia menjalin hubungan suami istri dengan Davi, mereka tak pernah semesta itu. Bahkan hubungan mereka sangat kaku dan dingin. Tak ada percakapan mesra saat hendak tidur, tak ada foreplay lembut saat keduanya berhubungan intim. Davin memang bukan pria romantis yang menunjukkan cintanya seperti kebanyakan orang. Malah sikap dingin yang ditunjukkan.
Davin menghela nafas panjang mengikuti langkah kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil menuju tempat pertemuan makan malam dengan calon istri yang akan dijodohkan dengannya. Davin akan bicara berdua dengan gadis itu nanti, gadis yang akan dijodohkan dengannya. Dia akan mengatakan yang sebenarnya kalau dia sudah menikah. Namun dia tidak akan mengatakan kalau dia akan bercerai.
***
Davi duduk termenung menunggui ibunya di kamar. Setelah sebulan lalu koma tak sadarkan diri. Ayah Davi memutuskan untuk merawat ibunya di rumah saja. Karena selain keterbatasan biaya, ayah Davi sendiri sedikit lemah setelah bisnisnya gulung tikar karena sibuk mencari putrinya. Dan kini putrinya sudah kembali, dia ingin menuntut pria yang dicurigai telah menyembunyikan putrinya.
Sayangnya saat bertanya hal sebenarnya pada putrinya Davi tidak menjawab yang sebenarnya. Malah terkesan menutupinya. Ayah Davi tahu betul putrinya sedang tidak baik-baik saja. Pipinya tirus, tubuhnya kurus tak seperti saat pertama kali pergi meninggalkan rumah.
"Nak, katakan pada ayahmu! Jangan takut! Siapa yang menculikmu selama ini?" Bujuk ayah Davi untuk kesekian kalinya.
"Sungguh yah, aku tidak diculik. Aku mencintainya hingga kami telah menikah." Jawab Davi lirih pada akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Lalu? Kenapa baru sekarang kau pulang? Ayah pasti akan merestui kalian, kenapa kau memilih pergi meninggalkan kami dengan perasaan cemas?" Tanya ayah Davi menangis terharu.
"Maaf ayah, kami takut jika ayah tidak merestui kami. Dan sekarang kami.."
"Lalu dimana suamimu?" Davi terdiam mendengar pertanyaan ayahnya.
"Dia... dia sedang perjalanan bisnis ayah. Jadi aku memberanikan diri untuk pulang. Aku bosan di rumah kami." Jawab Davi beralasan sambil membuang pandangannya ke arah lain menghindari tatapan ayahnya yang seolah mengintimidasinya untuk bicara jujur.
"Baiklah kalau kamu belum bisa mengatakan pada ayah. Ayah senang kamu akhirnya pulang dengan selamat." Ucap ayah Davi menghela nafas lega.
"Apa ibu akan bangun yah?" Tanya Davi mengalihkan pembicaraan.
"Pasti. Ayah yakin ibumu akan baik-baik saja. Dia hanya sedang tidur." Ayah Davi menyunggingkan senyum paksanya.
"Tidak nak. Tidak. Ibumu pasti akan bangun lagi, apalagi putrinya yang disayanginya sudah pulang." Keduanya pun berpelukan dengan Davi terus menangis di dekapan ayahnya.
***
Davi meringis di dalam kamarnya sambil memegangi perutnya. Dia merasakan kram di bawah perutnya karena rasa stres, tertekan dan rasa bersalah atas yang menimpa ibunya.
"Tenang nak, maafkan ibu ya sayang. Ibu akan berusaha untuk rileks dan tidak terlalu banyak berpikir. Tapi... ibu merindukan ayahmu nak. Ibu merindukannya.... hiks... hiks..." Davi terisak sendiri di dalam kamarnya sambil berbaring meringkuk di ranjang kamar yang dirindukannya namun entah kenapa terasa tak nyaman untuknya sekarang.
Mungkinkah karena tidak ada suaminya? Mungkinkah dia benar-benar merindukan ayah dari anaknya itu.
__ADS_1
"Kau kemana Davin? Aku membutuhkanmu, sakit... hiks... hiks..." Isak Davi yang disembunyikan di dalam bantal agar tidak terdengar di luar pintu kamar.
***
Tak sampai satu jam, keluarga Davin sudah sampai di restoran langganan keluarganya. Diko ikut mengantar pertemuan perjodohan kakaknya. Sedang Dika masih belum berani menampakkan batang hidungnya di mansion ibunya karena tak mau dihajar oleh kakaknya karena kebohongannya dan ke- emberannya tentang istri kakaknya yang ditemui di villa beberapa waktu lalu.
"Selamat malam mama Su jin." Sapa Ji An saat keduanya masuk ke dalam ruang privat restoran tempat mereka janji bertemu. Keduanya langsung saling menyapa begitu juga dengan Arthur dan ayah Su Jin.
Davin yang merasa familiar dengan suara pria dan wanita paruh baya itu langsung mendongak. Dia tak mau menebak-nebak, dia hanya ingin memastikannya kalau yang didengarnya bukan kenyataan.
"Hai Matty!" Sapa Su Jin melambai pada Davin.
"Wah, nuna." Sapa Diko memeluk tubuh Su Jin, ya, teman masa kecil kakaknya. Davin hanya terdiam menatap Su Jin datar dan dingin. Su Jin tak berani berkata apapun. Senyum di wajahnya surut saat melihat reaksi Davin yang datar dan dingin seolah menolak perjodohan itu.
"Apa kabar dik?" Sapa Su Jin pada Diko yang menyambut ramah dia.
"Baik kak. Wah, tak kusangka ternyata nuna ya calon kakak ipar ku?" Komentar Diko sok akrab karena mereka pun sudah akrab sejak Su Jin sering datang ke mansion keluarganya sebagai teman belajar kakaknya.
.
.
TBC
__ADS_1