
Satu bulan kemudian, tuan besar Kim melakukan terapi pasca dari operasi maupun komanya. Kini dia sudah dinyatakan sehat dan anggota tubuh lainnya bisa berfungsi dengan normal. Sepertinya kakinya, kini tuan besar Kim sudah bisa berjalan seperti sedia kala.
Namun tentu saja tenaga seorang pria paruh baya tak selincah pria muda. Intinya hari ini tuan besar Kim diizinkan pulang dengan catatan harus menjaga pola makan sehat dan mengurangi beban pikirannya yang mungkin memberatkannya.
Arthur sudah menghubungi keluarga besarnya di Indonesia untuk mengunjunginya ke Korea untuk melamar calon istrinya, namun karena kondisi kesehatan sang mama. Beliau tak bisa ikut, hanya sang papa dan kedua kakaknya Angel dan Putri. Vio, saudara kembarnya itu tak bisa ikut karena sedang hamil anak keempatnya dan baru berusia delapan minggu yang artinya masih sangat rentan.
Padahal dia pun ingin berkunjung ke Korea juga. Tempat para boyband tampan itu berasal. Entahlah, kadang Arthur heran mau berapa anak yang akan dilahirkannya, sungguh kak Dion berjuang keras untuk mempunyai banyak anak. Kak Angel datang bersama suami dan kedua putrinya. Kak Putri juga datang dengan putri dan suaminya.
Dan mama menunggu di rumah didampingi Vio dan sang suami. Awalnya Derian tak tega meninggalkan istrinya di Indonesia, namun karena desakan istrinya juga, Derian akhirnya mau berangkat, karena tak seharusnya orang tua tidak hadir untuk lamaran sampai pernikahan putra bungsu mereka satu-satunya.
Derian mau tak mau akhirnya berangkat juga bersama putri-putrinya dan para menantu juga cucu-cucunya. Namun Arthur menjanjikan akan melakukan resepsi pernikahan lagi di Indonesia nanti dengan didampingi sang mamanya tercinta.
***
"Papa, kemana kita?" tanya Matty yang merasa penasaran, karena sejak pagi tadi, dia hanya mengikuti apapun ucapan Arthur setelah bangun tidur dan sarapan serta bersiap-siap.
Arthur menoleh menatap putranya yang menatapnya lekat menunggu jawaban dari papanya.
"Kau akan tahu nanti boy..." jawab Arthur tersenyum sambil mengusap rambut putranya lembut.
"Selalu seperti itu..." oceh Matty sebal, dia kembali menatap ke luar jendela mobil yang berjalan hampir satu setengah jam.
Mobil Limosin mewah sudah terparkir di bandara, dia turun diikuti Matty yang berdiri di samping papanya. Arthur sengaja membawa mobil Limosinnya untuk menjemput keluarga besarnya yang tidak sedikit itu. Memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
__ADS_1
Keduanya tampak seperti versi mini dan versi dewasa. Wajah sama, tampan dan mempesona. Yang dewasa tampak datar dan dingin dan yang kecil tampak imut dan menggemaskan.
"Kita menjemput siapa pa?" tanya Matty lagi meski tak berharap tak mendapat jawaban dari sang papa.
"Kakek." jawab Arthur singkat, berjalan menuju pintu bandara tempat jet pribadinya datang.
"Art..." seru Putri saat melihat Arthur muncul di depan pintu kedatangan pesawat.
"Kak Putri..." balas Arthur memeluk kakak keduanya itu.
"Hei Art..." ganti Angel yang menyapa. Mereka saling berpelukan menyapa dan bertanya basa-basi tentang kabar.
"Hei boy ..." sapa Derian memeluk putranya kesayangannya itu erat.
"Papa..." jawab Arthur dengan nada getir.
Arthur hanya mengangguk, padahal dia berharap sang mama dapat ikut kemari. Namun karena kondisi kesehatan tubuhnya, Arthur terpaksa menelan kekecewaan meski itu untuk kebaikan sang mama.
"Hei boy...." sapa Putri yang melihat versi mini adiknya yang sejak tadi hanya menyaksikan basa-basi tegur sapa keluarga sang papa.
"Wah... benar-benar mirip saat kau kecil Art, sekali lihat orang akan tahu kalau kalian adalah ayah dan anak." komentar Angel memutar-mutar tubuh Matty yang tampak sebal diperlakukan seperti anak kecil. Meski dia memang anak kecil.
"Dia putramu?" tanya Derian menatap Arthur penasaran. Arthur hanya mengangguk.
__ADS_1
"Matt, beri salam!" titah Arthur.
Matty mendekati Derian menarik jemari tangan kanan Derian menyalimi dan mencium punggung tangan sang kakek.
"Salam kakek, aku Matty, apa kabar?" salam Matty sopan seperti orang dewasa.
"Wah, pintar sekali anak ini." puji Angel. Derian menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Davino..." bisik Derian lirih. Matty hanya diam.
"Yang lainnya juga Matt." titah Arthur lagi.
"Hei tante, hei om..." sapa Matty melambaikan tangannya menghadap Angel, Putri dan suami mereka setelah Derian melepas pelukannya.
Tak lupa Matty juga menyalimi serta mengecup punggung jemari tangan mereka masing-masing. Dan ketiga putri kecil mereka berdiri berjajar menatap Matty.
"Hai kak Bella, kak Shofie dan kak Vanya." Matty ganti menyapa ketiga sepupu perempuannya itu juga melambaikan tangannya pada ketiganya.
"Hai..." balas ketiganya serentak.
"Dimana calon menantuku? Ah tidak, menantuku." sela Derian.
"Dia di rumahnya menemani ayah mertua karena baru seminggu pulang dari rumah sakit." Derian tampak mengangguk mengerti.
__ADS_1
Mereka pun pergi menaiki mobil Limosin Arthur yang memang telah disiapkannya untuk menjemput keluarganya.
TBC