
Suasana meriah pernikahan keluarga besar Aftano telah berakhir dengan semakin berkurangnya para tamu undangan yang mulai mengundurkan diri untuk pulang karena hari sudah larut. Arthur mengajak istrinya pulang ke rumah besar nan mewah keluarganya.
Begitu juga saudari-saudarinya yang lain beserta suami dan anak-anaknya masing-masing. Mereka sudah terlihat masuk ke dalam kamar pribadi masing-masing. Karena terlalu capek dan lelah. Bahkan kepulangan Arthur ke rumah utama tak banyak yang berkomentar. Seolah tahu akan ada hal lain yang terjadi di rumah utama itu.
Matty tidur bersama orang tuanya di kamar pribadi Arthur. Tapi, entah kenapa Arthur tak dapat memejamkan matanya malam itu. Dia terus terjaga sambil menyalakan laptopnya di sofa kamar tidurnya.
Ji An yang merasa keberadaan suaminya tak ada di sisinya ikut terbangun dan mendapati suaminya sibuk dengan laptopnya. Namun pandangannya kosong entah melihat kemana. Bahkan jari-jari tangannya sudah berhenti menari di atas keyboard laptopnya.
"Kau tak mengantuk?" suara istrinya membuyarkan lamunannya.
Arthur menatap istrinya lekat. Kemudian Arthur menutup laptopnya dan meletakkan ke atas meja di depannya. Arthur menarik tangan istrinya hingga terjerembab ke pangkuannya. Dipeluknya tubuh istrinya intens. Mencium aroma stroberi khas istrinya. Ji An balas mengeratkan pelukannya mengelus punggung suamiku.
Ciuman Arthur mulai merambat di setiap lekuk leher istrinya. Mengecup, menghi*sap hingga meninggalkan jejak kepemilikannya. Membuat Ji An menggeram. Arthur mendorong tubuh istrinya tak meneruskan kegiatannya.
"Kenapa?" tanya Ji An lembut sambil mengusap pipi suaminya.
"Maaf, aku hanya ingin seperti ini sebentar." desis Arthur seolah menahan hasrat dan perasaannya yang entah kenapa perasaannya sejak tadi sedikit gelisah.
Ji An masih bertahan di pangkuan suaminya sambil mendekap erat kepala suaminya yang melingkari dadanya. Mengelus punggung tangan suaminya lembut.
**
__ADS_1
Setelah hampir tiga jam, Ji An tampak tertidur pulas di atas kepala suaminya yang juga mendekap kepala suaminya yang tidak tertidur sama sekali. Arthur sedikit bergerak pelan agar istrinya tidak terbangun karena pergerakannya.
Arthur membopong tubuh istrinya di ranjang dekat putranya tertidur, mengecup kening keduanya penuh cinta. Arthur turun ke bawah setelah melirik jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul tiga pagi. Dia pun turun ke dapur bermaksud untuk mengambil minuman untuk melegakan tenggorokannya.
"Pa ..." ucap Arthur sedikit tersentak melihat papanya duduk di kursi meja makan sambil menyesap kopinya.
"Kau juga tak bisa tidur?" tanya Derian sambil menyeruput kembali kopinya.
Arthur ikut duduk di kursi meja depan Derian sambil memegang botol air mineral dingin, meneguknya sebentar dan menutupnya kembali.
"Cepatlah istirahat, hari mulai pagi!" saran Derian.
"Lalu kenapa papa sendiri tak tidur?" wajah Derian kembali sendu mengingat istrinya terlihat kesakitan yang ditahannya seolah tak ingin merepotkan orang di sekitarnya.
Untung saja lampu penerangan meja makan remang-remang sehingga Arthur tak menyadari air matanya. Namun Derian salah, Arthur melihat sekilas air mata itu. Dan dada Arthur berdenyut nyeri seolah ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan Derian.
"Istriku sedang hamil anak kedua kami." ucap Arthur memecah keheningan keduanya.
"Benarkah? Cucuku akan bertambah lagi. Syukurlah!" jawab Derian meski dadanya sedikit tenang tak sesesak tadi.
Flashback on
__ADS_1
"Kau sudah selesai?" tanya Ji An siang tadi saat mereka sedang dirias untuk persiapan resepsi pernikahan sore nanti.
Sebelah tangan diletakkan di bahu suaminya, tangan sebelahnya berada di belakang tubuhnya seperti menyembunyikan sesuatu.
"Why?" tanya Arthur menarik jemari tangan istrinya, mengecup punggung tangannya mesra.
"Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu." Arthur tak menjawab, namun menatap istrinya penasaran menunggu kalimat istrinya lebih lanjut.
"Tara..." Ji An menunjukkan tespect di tangan yang disembunyikan di belakang tubuhnya tadi. Arthur meraih benda itu.
Dia tidak sepolos itu tidak tahu apa benda itu. Arthur melihat garis merah dua pada alat itu.
"Ini... benarkah?" tanya Arthur tak percaya. Ji An mengangguk antusias.
"Matty akan punya adik." jawab Ji An sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Wajah Arthur mulai berbinar binar bahagia menatap istrinya. Arthur menarik tubuh istrinya hingga jatuh ke pangkuannya.
"Thank you very much, beby." ucap Arthur mesra sambil mengecupi seluruh wajah istrinya yang sudah di make up, dia tak peduli jika make up istrinya luntur, dia terlalu gembira mendengar kabar itu.
Dulu dia tak merasakan hal itu saat istrinya hamil Matty karena mereka belum disatukan. Kini dia berjanji akan selalu mendampingi istrinya sampai melahirkan demi menebus masa lalunya. Ji An kegelian sampai tak bisa menjawab ucapan suaminya.
__ADS_1
Flashback off
TBC