
Suasana meriah pernikahan yang melingkupi keluarga besar Aftano tak sampai dua hari, kini suasana itu sudah berganti suram. Kabar kematian sang nyonya besar rumah Aftano langsung mendominasi surat kabar, majalah dan media sosial saat ini. Begitu juga keluarga besar Aftano, semua tampak memakai pakaian hitam untuk ikut mendoakan ibu mereka yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya dini hari tepat pukul empat pagi.
Derian tampak seperti mayah hidup yang tak bertenaga. Dirinya lah yang terakhir menemani istrinya untuk terakhir kalinya. Air matanya tak dapat mengalir tapi raut wajah kesedihan dan putus asa tampak jelas di matanya. Ingin dia berteriak membangunkan istrinya yang dengan teganya meninggalkannya seorang diri.
Bukankah kita berjanji untuk sehidup semati menemaniku sayang, kenapa kau tinggalkan aku seorang diri. Setega itukah dirimu. batin Derian sambil menatap tubuh yang terbujur kaku di ranjang di tengah ruang rumah besar itu. Dengan bibir masih tersungging senyuman yang sangat menawan.
Itulah yang membuat Derian tak mampu meneteskan air matanya karena senyum kebahagiaan terpancar pada tubuh kaku istrinya. Begitu bahagianya kah kau meninggalkanku? batin Derian lagi.
Angel tampak menangis di depan mayat sang mama. Meski dia bukan putri kandung Karina, dirinya tampak sangat sedih dan terluka. Selama ini Karina lah yang menjadi penyemangat hidupnya selama ini. Karina lah yang paling mengerti dirinya. Tangisan sesenggukan terus terdengar di sekeliling mayat itu.
__ADS_1
Begitu juga Putri tampak menatap kosong di depan mayat sang mama. Dengan wajah kusut, mata sembab, hidung merah karena tak henti-hentinya menangis sejak mendengar sang mama menghembuskan nafas terakhirnya.
Vio berkali-kali pingsan saat mendengar sang mama telah tutup usia, kesedihan sangat terpancar jelas dimatanya.
Arthur menatap kosong sang mama yang sudah terbujur kaku di depannya. Wajah sedihnya tercetak jelas di matanya. Keinginan sang mama terkabul melihat keempat putra-putrinya sudah berkeluarga dan memiliki anak. Seolah senyuman di bibir sang mama merupakan kelegaan karena sudah melihat kebahagiaan pada anak-anaknya dengan keluarga masing-masing.
Ajeng dan suaminya juga melayat di rumah besar itu. Mantan ibu mertua Karina Hesti juga hadir dengan didampingi adik Reno. Alena dan Riko turut hadir sebagai penghormatan terakhir pada istri rekan bisnisnya. Tak ketinggalan para besan Derian juga hadir untuk melayat.
Semua pelayat tak berani menegur Derian dan putra-putrinya serta menantu-menantunya. Sudah menjadi rahasia umum jika istri Derian merupakan kesayangan seluruh anggota keluarga besarnya. Juga sikap rendah hati dan banyaknya kebaikan yang ditebarkan oleh Karina semasa hidupnya membuat semua orang yang datang mendoakan dirinya. Maka tak heran jika pemakaman dilakukan sehikmat mungkin demi menghormati mendiang Karina.
__ADS_1
Prosesi pemakaman pun sudah siap, setelah ritual doa-doa yang diucapkan oleh tetua yang dipercayakan. Mayat mulai dibawa ke tempat peristirahatan terakhir yang sudah disiapkan oleh orang kepercayaan keluarga besar itu.
Setelah pemakaman selesai, para pelayat meninggalkan pemakaman satu persatu. Begitu juga putra-putri Karina dan menantu-menantunya. Kini hanya tinggal Derian masih setia bersimpuh di depan pusara yang tertulis nama istrinya.
"Semoga ini akhir dari perjuangan penyakitmu sayang. Semoga kau diberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Aku hanya bisa mendoakan dari sini." air mata mengalir di pipi Derian yang segera diusapnya.
"Jika kau sudah bahagia disana, aku akan menyusulmu. Semoga aku bisa bertahan tanpamu. Hiks...hiks..." air matanya sudah tak bisa dibendung lagi.
Derian menangis bagai anak kecil yang ditinggalkan orang tuanya. Air mata yang tak mampu mengalir tadi kini jebol juga. Tangisan yang menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya membuat siapapun tak berani mendekat.
__ADS_1