
Ji An membuka mata perlahan menatap sekeliling, meraih ponselnya melihat jam menunjukkan pukul delapan pagi. Dia langsung tersentak bangun dari tidurnya.
"Shit, aku harus kerja, aku masuk pagi hari ini." ujarnya menatap ke samping tempat tidur terdapat Arthur dengan tubuh besar dan kekarnya dengan bertelanjang dengan dada terbuka.
Selimutnya tersibak dan astaga, adik kecil Arthur berdiri tegak menantang meski sang pemilik masih tertidur pulas. Sontak kejadian semalam terlintas kembali di benak Ji An membuat seketika wajahnya merona mengingat keliarannya semalam.
Ji An menarik selimut untuk menutupi tubuh Arthur yang polos sampai ke leher, dia tanpa mandi langsung memunguti pakaiannya yang sudah berceceran dan memakainya, dia tak mau terlambat untuk bekerja. Kalau tidak pemilik restoran akan memecatnya.
Ji An mengabaikan rasa sakit di sela*kangannya karena dirinya terburu-buru harus sampai di tempat kerja setengah jam lagi dan kini sudah menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit lagi.
Ji An bergegas pergi meninggalkan kamar itu dan pergi dengan naik ojek online.
***
Sementara itu, Arthur masih tertidur pulas entah apa yang dimimpikannya hingga dia terlihat tersenyum dalam tidurnya.
Saat waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas siang, ponsel Arthur berdering tiada henti. Mau tak mau Arthur terpaksa membuka matanya meraih ponselnya di meja nakas dekat ranjang.
Dalam percakapan ponsel :
Arthur : "Halo." jawab Arthur masih dengan mata terpejam.
Pablo : "Kau dimana?"
Arthur : "Memang kenapa ini masih pagi."
Pablo : "Pagi. Hei, damn. Ini sudah siang bro. Kau tak bermimpi kan?"
Arthur : "Tentu saja ti....dak..." Arthur membuka matanya melihat sekeliling kamar, bukan kamar yang ada di apartemennya. Lalu dimana ini? batin Arthur .
Pablo : "Arthur, are you there?"
Arthur : "Ah, yeah... aku akan menghubungimu lagi."
Pablo : "Kuliah satu jam lagi dimulai,... hei...damn."
Pablo teman kuliah Arthur semalam yang merencanakan pesta ulang tahun Arthur di club malam.
Sementara Arthur, dia menatap sekeliling kembali dengan tak percaya, bagaimana hal ini bisa terjadi. Aku tak ingat apapun, tapi... ah... shit... Ji An... batinnya segera bangun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, saat dirinya berdiri dengan selimut ikut terjatuh.
__ADS_1
Terpapang jelas di sprei ranjang itu ada darah... Oh, shit ji An masih perawan dan aku yang pertama untuknya? batin Arthur berbunga-bunga menyadari gadis yang dicintainya itu masih segel. Jarang sekali menemukan gadis yang masih segel dalam hidup yang kelam ini.
**
Di cafe tempat Ji An bekerja. Arthur memasuki cafe itu dengan semangat penuh senyuman. Dia bertekad akan melamar gadis itu untuk menjadi istrinya. Tak peduli dengan yang lainnya.
Dengan alasan sudah merenggut harta berharga milik gadis yang dicintainya itu, dia akan menjadikannya miliknya. Dia pasti tak akan menolaknya sekarang. batin Arthur berbunga-bunga. Diciumnya bunga mawar merah yang dibelinya tadi saat perjalanan menuju cafe dari club.
"Excuse me." sapa Arthur melihat salah seorang pelayan yang dikenali sebagai teman gadisnya yang sering dilihatnya karena Arthur kerap menjemputnya saat pulang kerja meski sering kali ditolak namun Arthur tetap memaksa.
"Ya?" jawab pria itu.
"Apa Ji An ada?" tanya Arthur dengan senyum sejuta watt nya.
"Ah, anda tak tahu?"
"Ya?" tanya Arthur balik mengernyitkan dahinya.
"Ah, tadi ada beberapa orang datang mencarinya dan setelah berbincang, dia izin pada bos untuk pulang lebih dulu." jelas pelayan cafe itu ragu-ragu karena melihat raut wajah Arthur mulai berubah dingin.
"Kau tahu siapa yang mendatanginya?" tanya Arthur dengan nada cemas.
Arthur langsung keluar, berlari menuju tempat kost gadis itu. Meski Arthur tak pernah mendatangi langsung tempat kost nya, Arthur tahu gadis itu tinggal di kost itu. Arthur sudah menyelidiki latar belakang gadis itu lewat orang kepercayaannya namun masa lalunya seolah tertutup rapat, tak ada yang bisa digali informasi tentang gadis itu.
Seolah ada yang sengaja menutupi identitasnya. Arthur hanya mendapatkan tentang kehidupannya sekarang, tentang keluarga Arthur benar-benar tak menemukannya. Bodohnya dia tak pernah bertanya siapa nama marganya, setahunya dia berasal dari Korea.
"Excuse me." ucap Arthur saat tiba di kost an Ji An melihat seorang gadis baru saja keluar dari rumah kost yang sama.
"Ya?" jawabnya.
"Apa Ji An ada?" tanya Arthur.
"Bukannya dia masih bekerja, biasanya pulang jam empat sore." jawab gadis itu.
"Ah, aku baru dari tempatnya bekerja tapi katanya dia sudah izin pulang lebih awal, mungkin dia sakit atau bagaimana. Bisakah bantu aku mengeceknya? Mungkin saja dia tertidur di kamar." pinta Arthur.
Melihat wajah tampan Arthur yang memelas, gadis itu terpesona dan merasa kasihan pada Arthur. Dia pun mengangguk mengiyakan dan masuk kembali menuju kamar yang dimaksud. Arthur hanya menunggu di luar. Bagaimana pun itu adalah tempat kost khusus perempuan, dia tak diizinkan sembarangan masuk.
"Bagaimana?" tanya Arthur melihat gadis tadi sudah muncul. Gadis itu menggeleng.
__ADS_1
"Kamarnya dikunci dari luar, itu artinya dia belum masuk ke kamarnya. kunci gembok kamarnya masih mengunci dari luar." jelas gadis itu membuat Arthur semakin frustasi, dia mengusap kasar wajahnya dengan tangannya.
"Ah, ini no ponselku. Bisakah kau memberitahuku jika dia sudah kembali?" pinta Arthur penuh harap.
Gadis itu menerimanya tulisan di secarik kertas itu dan menganggukkan kepalanya. Arthur tersenyum dan pergi meninggalkan rumah kost an itu untuk mencari tempat-tempat yang mungkin didatangi gadisnya.
"Dimana kamu sayang? Jangan bilang kau pergi karena kecewa padaku, aku akan bertanggung jawab padamu." guman Arthur dalam mobilnya mengelilingi kota mencari-cari mungkin saja dia melihat gadisnya ah ralat wanitanya masih belum jauh pergi.
***
Hingga lebih dari sepuluh hari, Arthur mencari keberadaan Ji An namun tak ada kabar sama sekali. Bahkan dia sudah menambah orang terpercayanya untuk menambah personil dan jarak pencarian hingga ke negara asal wanitanya namun hasilnya nihil.
Dia tak bisa menemukan wanita yang bernama Ji An itu dimanapun dia berada. Wanita itu bagai hilang ditelan bumi. Bahkan barang-barang yang ada di kost annya tak terlihat ada yang datang untuk mengambilnya sampai sebulan berlalu. Arthur masih belum menyerah juga untuk mencarinya.
Dia pun sampai tak konsentrasi untuk belajar kalau saja sang papa tak datang ke apartemennya di NYC jika tak mendapatkan kabar dari orang suruhannya yang bertugas mengawasinya selama kuliah.
"Sampai kapan kau akan seperti ini?" teriak Derian yang siang itu sudah tiba di apartemen putranya itu.
Wajah Arthur yang buruk, kotor, tak terurus, kantung mata hitam. Wajah dengan cambang yang panjang tak terurus. Jangan lupakan botol alkohol berceceran di lantai apartemennya. Arthur sendiri tertidur pulas di sofa.
"Kalau kau tak mau serius kuliah, aku akan menyeretmu pulang dan mengatakan pada mamamu kalau kau tak mau kuliah lagi." Arthur yang pura-pura tidur sontak membuka matanya dan terduduk menatap sang papa tajam.
Keduanya pun saling melempar tatapan tajam. Namun saat ingat sang mama disebut. Arthur mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia kembali teringat tatapan sedih sang mama yang akan melihat keadaan buruknya. Apalagi ini sudah hampir tiga bulan pencarian namun tak mendapatkan jejak apapun dari wanitanya.
Arthur beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Berniat untuk melakukan kewajibannya sekaligus mencari keberadaan wanitanya.
**Flashback off
TBC
.
.
.
Maafkan typo**
Beri dukungannya
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya