
Sung Hun menunggui tuannya yang masih seperti orang tidur saja. Dia tetap duduk dengan setia di samping ranjang tuannya dengan tablet di tangannya mengecek pekerjaan perusahaan tuannya yang sudah dialihkan padanya lagi.
Tubuh paruh bayanya berkali-kali menguap menahan kantuk yang sejak tadi dirasakannya. Sudah hampir jam 3 pagi dirinya masih setia untuk belum memejamkan mata. Setelah mendengar kabar dari para pengawal tentang penculikan tuan muda kecil yang dilakukan Hyung Jae, Sung Hun tak mampu tidur tenang.
Perasaan cemas dan khawatir selalu menghantuinya. Tapi setelah Arthur meyakinkannya tak akan terjadi apapun pada tuan muda kecilnya, Sung Hun dapat bernafas lega kembali. Namun dia kembali terkejut saat mendengar kabar kalau Ji An nona mudanya ternyata pamit pergi dan menitipkan ayahnya untuk membawa pulang putranya.
Yang tidak mungkin Hyung Jae dengan begitu mudah akan menyerahkan tuan muda kecil begitu saja tanpa adanya imbalan apapun.
"Ji...An..." lirih terdengar dari bibir pria paruh baya yang baru tadi masih setia menutup mata. Sung Hun tersentak langsung menoleh ke sumber suara.
"Tuan..." ucap Sung Hun menggenggam jemari tangan tuan besar Kim.
Tak lupa Sung Hun menekan tombol panggilan dokter. Ji Sung menoleh menatap pria paruh baya yang duduk di kursi samping ranjangnya.
"Sung... Hun..?"
"Iya tuan, ini saya..." jawab pria itu dengan senyumnya tanpa sadar air matanya mengalir.
"Maaf..."
__ADS_1
"Tidak tuan, tuan melakukannya karena ingin melindungi saya." jawab Sung Hun terharu.
"Ji... An... dimana?" ucapnya lirih masih terlihat kesulitan.
Sung Hun langsung terdiam, dia bingung harus menjawab apa, tak mungkin dia akan mengatakan yang sebenarnya padanya. Itu pasti akan mengakibatkan fatal pada tuannya nanti. Untungnya dokter dan perawat segera datang memeriksa kondisi Ji Sung penuh ketelitian. Dokter tampak semangat karena mengetahui kondisi pasien yang ditanganinya selama ini mulai sadar.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Sung Hun setelah dokter selesai memeriksa.
"Syukurlah, keadaan mulai stabil. Beliau hanya butuh perawatan selama pemulihan. Alat-alat di tubuhnya akan dilepas dan tertinggal infusnya saja. Dan kami akan memindahkannya ke ruang perawatan." jelas dokter itu tersenyum ramah.
"Syukurlah, terima kasih dok." jawab Sung Hun dia masih menunggu di luar ruang ICU sampai terlihat para perawat memindahkannya ke ruang perawatan.
**
Brak...
Bluk...
Seseorang muncul di keremangan, Ji An semakin waspada karena tak dapat melihat dengan jelas bahkan di tangannya menggenggam erat vas bunga yang didapatnya di meja nakas dekat ranjang.
__ADS_1
"Si... siapa...?" lirih Ji An masih tidak beranjak dari sisi ranjang dengan Matty masih terlelap karena pengaruh obat tidur. Ji An berdiri di depan putranya sekaligus melindunginya.
"Ssst..." bisik bayangan itu yang berjalan mendekatinya. Hingga tampaklah siapa yang muncul.
"Art..." ucap Ji An langsung menutup mulutnya terkejut dan berjalan menghambur ke pelukan suaminya.
Air matanya langsung berderai karena perasaan lega yang tadinya tegang. Arthur meraup istrinya dalam pelukannya erat. Dia kecewa pada istrinya karena tak mau mengatakan kebenaran padanya. Tapi dia juga sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini.
"Kau baik-baik saja?" bisik Arthur tak mau suaranya terdengar dari luar. Sambil meraba-raba tubuh istrinya.
"Aku tak apa. Matt..." Ji An menggeleng dan berbalik menatap Matty yang sedang terbaring seperti sedang tidur.
"Kenapa dengannya?" tanya Arthur cemas beralih menghampiri putranya.
"Si brengsek itu memberinya obat tidur entah seberapa banyak, sejak kedatanganku belum bangun juga." jelas Ji An cemas dan panik sambil masih menangis sambil mengelus putranya.
"Brengsek kau Jung, aku akan buat perhitungan padanya." umpat Arthur.
"Matt, Matty... honey, wake up come on!" ucap Arthur menepuk-nepuk pipi putranya lembut tapi tak bergeming.
__ADS_1
Brak...
"Siapa?" seru salah seorang penjaga yang tiba-tiba mendobrak pintu kamar itu sambil menodongkan pistol pada Arthur dan Ji An. Sontak Arthur dan Ji An mengangkat kedua tangannya ke atas.