
Seminggu sudah, Karina memutuskan untuk pulang ke mansion mereka. Dia sudah merasa baik-baik saja. Itupun dia harus mengelabui sang suami agar segera mengajaknya pulang.
Sedang Derian menyuruh anaknya untuk kembali ke rumah masing-masing tiga hari sebelumnya, Derian tahu kesibukan putra putrinya. Lagipula Derian ingin menghabiskan sedikit waktunya dengan istrinya.
Begitu juga Arthur karena desakan sang papa mau tak mau dia harus kembali pada rutinitasnya sehari-hari seperti sebelumnya. Dikelilingi berkas-berkas laporan yang tak akan pernah ada habisnya, apalagi kini dirinya sudah pergi cukup lama, tiga minggu. Dan itu sungguh membuat Zein kelabakan dan kerepotan mengatasi para klien tuannya itu.
Banyak yang membatalkan kerja samanya tapi banyak pula yang masih bertahan dengan kerja samanya mengingat Aftano corporation bukan hanya perusahaan kecil. Bahkan rapat pemegang saham otomatis diundur karena CEO mereka sedang berlibur dengan keluarga besarnya. Para pemegang saham yang sudah paham akan hal itu memakluminya karena sudah hapal dengan kebiasaan keluarga besar itu.
Bahkan ponsel mereka akan dimatikan jika liburan keluarga besarnya sedang dilakukan. Tak ada ponsel dan internet apalagi laptop. Mereka benar-benar akan memanfaatkan waktu mereka untuk menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya.
"Apa masih ada yang lainnya Zein?" tanya Arthur dengan tatapan tajam yang melihat Zein sudah hampir tujuh kali keluar masuk ruangan Arthur dengan membawa berkas-berkas laporan yang harus ditandatangani selama ditinggal olehnya.
"Apa tuan berharap semua ini sudah cukup?" jawab Zein balik bertanya. Arthur berdecak, kalau saja Zein bukan orang kepercayaannya, dia pasti akan memecatnya tapi dia sudah terbiasa dengan candaan Zein.
"Besok bisa kulakukan kan? Tak harus hari ini." seru Arthur melanjutkan lagi berkutat berkas-berkas laporan itu.
"Sayangnya berkas-berkas yang saya bawa hari ini adalah berkas yang harus ditandatangani untuk sore ini dan besok pagi. Yang untuk besok siang dan besok sore disana." ucap Zein santai menunjuk berkas-berkas laporan berupa map warna-warni yang bertumpuk-tumpuk di meja pojok ruangan Arthur.
Arthur mengikuti arah tunjukkan tangan Zein. Diapun membelalakkan matanya terkejut melihat tumpukan map itu.
"Oh shit... kau benar-benar mau balas dendam padaku Zein?" seru Arthur lagi. Zein hanya mengedikkan kedua bahunya dan meninggalkan ruangan Arthur.
"Hei... Zein...mau kemana kau?" teriak Arthur melihat Zein tak menghiraukannya.
"Sial... apa aku harus lembur lagi? shit..." umpat Arthur kesal.
Mau tak mau dia terpaksa mengerjakan semuanya. Dia sudah meninggalkan pekerjaannya selama tiga minggu ini untuk menemani sang mama karena sakitnya. Dan ah... dia pun teringat kembali pertanyaan sang mama yang membuatnya menghindar untuk tak menjawabnya.
"Dimana kau Ji An?" guman Arthur memejamkan mata mengingat wajah cantik yang membayanginya beberapa tahun ini.
Entah kenapa akhir-akhir ini sering bermimpi melihat seorang wanita tersenyum sedih dengan pria kecil yang mengusap rambutnya terlihat sedang memberi penghiburan.
__ADS_1
"Siapa mereka? Kenapa aku sering sekali bermimpi hal itu?" guman Arthur mengingat mimpinya saat setelah membicarakan tentang Ji An pada sang mama meski belum semuanya dikatakan.
Arthur mencoba menepis perasaannya, dia mulai melanjutkan pekerjaannya yang tidak akan berakhir sebentar itu, pasti dia akan menginap lagi di kantor.
***
Sementara itu, di tengah kota Seoul yang padat penduduk, kota yang tak pernah tidur sepanjang waktunya karena semua orang sibuk bekerja bagi orang tua dan sibuk belajar bagi semua kalangan anak-anak.
Seorang wanita terlihat kesusahan membawa belanjaannya setelah keluar dari minimarket dekat rumahnya. Hari ini dia sudah gajian, dan setiap selesai gajian , dia selalu belanja membeli kebutuhan rumahnya.
Dia bekerja di restoran tak jauh dari tempatnya tinggal, meski gajinya tak seberapa bisa memberikan kebutuhan yang cukup untuknya dan putra semata wayangnya.
"Mama pulang!" seru wanita itu masuk ke dalam apartemen sewaannya. Tidak cukup luas, namun cukup ditempati dengan putra semata wayangnya.
"Mama." seru bocah itu menghambur memeluk saya sang mama yang baru pulang bekerja dengan menenteng beberapa kantong. Dia langsung membalas pelukan putranya.
"Kau sudah pulang?" tanya wanita itu sambil meletakkan tas kecilnya dan melepas coatnya dan meletakkan di tempatnya.
"Sudah ma, baru saja." jawab sang putra tersenyum antusias.
"Aku sudah makan ma, tadi Su Jin memberiku nasi kepal di sekolah karena katanya dia membawa lebih karena di rumah masih banyak." jelas pria kecil itu dengan senyum polosnya.
"Oh ya. Benar dia tak sengaja bawa kebanyakan, bukannya karena dia sengaja memberimu memang karena ada sesuatu?" goda sang mama melihat putranya tersipu malu.
"Ma..." pria kecil itu tersenyum malu-malu karena digoda sang mama.
Ting tong ting tong
Suara bel pintu apartemen berbunyi, wanita itu segera membukanya dan melihat seorang wanita setengah baya yang dikenalnya sebagai tetangganya sedang menopang nampan berisi nasi kepal.
Ya dia adalah mamanya Su Jin teman putranya yang diminta tolong untuk menjaga putranya jika dirinya terlambat pulang kerja.
__ADS_1
"Mama Su Jin?" sapa wanita itu.
"Ji An ya, dimana Matty, Su Jin bilang dia menyukai nasi kepal, makanya aku diminta putriku untuk mengantarkan nasi kepal lagi pada putramu itu." ucap mama Su Jin menyodorkan nampannya yang berisi nasi kepal itu.
"Terima kasih mama Su Jin. Pasti Matty sangat merepotkanmu." ucap Ji An sambil menundukkan kepalanya berterima kasih merendahkan dirinya. Tak lupa Ji An menerima nampan.
"Jangan sungkan, aku sama sekali tak keberatan, dia anak yang mandiri. Bahkan putriku sangat senang selalu ditemani setiap pulang sekolah, dia juga merasa terbantu karena Matty selalu mengajarinya pelajaran yang tidak dimengerti." ucap mama Su Jin panjang lebar.
Ji An terlihat enggan meladeni wanita paruh baya itu karena pasti pembicaraan itu tak akan berakhir sebentar. Ji An tahu betul mama Su Jin karena dia termasuk terkenal sebagai wanita yang banyak bicara yang tiada habisnya.
Namun Ji An tak bisa mengusirnya karena dirinya selalu menitipkan putranya di rumahnya jika pulang sekolah dirinya belum pulang dari tempatnya bekerja.
"Ma..." teriak Matty dari dalam kamarnya.
"Iya sayang..." jawab Ji An menoleh ke belakang.
"Baiklah Ji An, kalau begitu aku pulang dulu." pamit mama Su Jin.
Ji An memutuskan untuk mandi membersihkan tubuhnya, karena merasa lengket tubuhnya setelah pulang kerja. Dia tak menghampiri putranya tadi saat memanggilnya, karena keduanya tahu, itu adalah kode untuk sang mama agar mama Su Jin segera pulang, kalau tidak seperti itu pasti mama Su Jin pasti tak akan segera pulang.
Ji An membaringkan tubuhnya di samping putranya yang sudah terlelap. Tak lama Ji An tertidur pulas karena saking capeknya.
TBC
.
.
.
Maafkan typo
__ADS_1
Beri dukungannya
Beri like, rate dan vote nya