
Kini ketiganya sudah berada di restoran hotel itu, setelah menyelesaikan ritual mandi mereka, ketiganya makan malam bersama di restoran sebagai ganti sarapan tadi yang gagal karena Arthur harus mengurus pekerjaannya.
"Ma, nanti tidur bersama ya?" pinta Matty dengan tatapan mata polos.
Ji An dan Arthur saling pandang seolah sama-sama mengatakan berilah penjelasan pada Matty. Matty beralih menatap sang papa yang juga diam.
"Makan dulu Matt, tidak baik makan sambil bicara!" tegur Ji An meneruskan makannya begitu juga Matty dan Arthur.
Setelah makan malam, Matty menggandeng kedua orang tuanya dengan tangan sebelah mamanya dan sebelah lagi tangan sang papa. Ji An sontak berhenti mendadak melihat Jung Hyung Jae berjalan ke arah mereka. Hyung Jae tersenyum seringai menatap keduanya dan beralih menatap Arthur yang juga menatapnya tak suka.
Sesaat Hyung Jae menegang menatap wajah Matty dan wajah Arthur bagai pinang dibelah dua. Hanya saja Matty seperti versi mininya Arthur. Pikiran Hyung Jae melayang mengambil kesimpulan bahwa Matty adalah putra Arthur. Namun hal itu tetap tak menyurutkan niat Hyung Jae untuk melanjutkan rencana perjodohannya dengan Ji An karena setahunya Ji An dan Arthur selama ini tak berhubungan.
"Selamat malam tuan Arthur." sapa Hyung Jae membungkukkan badannya memberi salam pada Arthur.
"Hai uncle Jung ..." sapa Matty melambai pada Hyung Jae.
Arthur sontak menatap Hyung Jae tak suka. Bagaimana pria brengsek ini mengenal putraku? batin Arthur kesal.
"Hai Matt, kau baru selesai makan malam?" tanya Hyung Jae menunduk menatap Matty.
"Yeah uncle... with mama dan papaku." jawab Matty tersenyum senang.
"Papa?" tanya Hyung Jae menatap Ji An dan Arthur bergantian.
Ji An menegang takut Hyung Jae mengatakan hal yang sebenarnya tentang dirinya. Arthur menatap Ji An dan Hyung Jae menyelidik namun Arthur segera mengendalikannya, bukan saatnya. batin Arthur.
"Dia putraku jika kau ingin tahu tuan Jung." jawab Arthur dingin dan tajam, dia benci karena tuduhan beserta bukti yang diberikan pada pihak berwajib sapa dielakkan oleh keluarga Jung. Asistennya lah yang dijadikan kambing hitam.
"Putra? Apa maksud anda?" tanya Hyung Jae menatap Ji An tak percaya.
__ADS_1
Arthur menatap Ji An yang semakin terlihat pucat dan panik. Dan kembali menatap Hyung Jae.
"Dulu kami pernah menikah siri. Hingga akhirnya kami pisah dan putus kontak. Dan saat itu aku tak tahu sudah ada seorang putra di rahimnya." jawab Arthur tenang membuat Ji An sontak menatap Arthur tak percaya.
Dia tak mengatakan yang sebenarnya, bahkan dia menolongku? batin Ji An entah kenapa hatinya menghangat mendengar penjelasan Arthur meski itu bohong. Hyung Jae seketika mengepalkan jemari tangannya di sisi tubuhnya tetap berusaha mengendalikan emosinya.
"Ah, menikah siri ya? Lalu kenapa nona Ji An tidak mempertemukan anda dengan putra anda?" tanya Hyung Jae masih menahan emosi dengan jemari masih terkepal.
"Itu bukan urusan tuan Jung. Urus sendiri urusan anda. Kami ingin beristirahat." jawab Arthur masih saja dingin dan tajam hendak meninggalkan Hyung Jae dengan menggendong Matty. Hyung Jae semakin mengeratkan kepalan jemarinya.
"Oh ya..." Arthur kembali berbalik menoleh menatap Hyung Jae dan dia juga berbalik. "Kami akan segera menikah, kuharap tuan Jung sudi untuk datang. Saya akan mengirimkan undangannya untuk anda." ucap Arthur tersenyum seringai dan menarik jemari tangan Ji An erat menunjukkan kepemilikan.
Arthur seolah tak mau pria brengsek itu menatap wanitanya dengan tatapan seolah ingin menerkamnya. Ji An kembali menghangat melihat gandengan tangan Arthur padanya.
"Brengsek." umpat Hyung Jae meninggalkan tempat itu dengan amarahnya.
"Lagi-lagi si brengsek Arthur itu yang mengganggu urusanku. Ini akan semakin sulit memiliki Ji An dan menguasai hartanya jika ada Arthur dibelakangnya." guman Hyung Jae saat mobil sudah melaju dengan sopir dan asisten barunya yang sudah duduk di kursi mobil depan.
**
"Berikan Matty padaku!" ujar Ji An membawa Matty ke gendongannya.
"Tidak. Matty tidur denganku." sela Arthur menyela jemari Ji An yang hendak mengambil Matty dari gendongannya.
"Biarkan dia tidur denganku Art, kumohon!" pinta Ji An memelas, sedangkan Matty sudah tertidur sejak di dalam lift di gendongan Arthur.
"Kalau kau ingin tidur dengannya, tidurlah bersama kami di kamar kami." ucap Arthur tersenyum seringai.
Ji An spontan menatap Arthur sebal. Arthur segera masuk diikuti Ji An yang tak punya pilihan lain karena keinginannya untuk tidur bersama putranya, sudah seminggu ini Arthur tak mengizinkan dirinya tidur berdua saja dengan putranya, dia sangat merindukan putranya itu.
__ADS_1
Bahkan semalaman Ji An tak lelap tidur karena tidak tidur bersama putranya. Arthur membaringkan tubuh Matty di ranjang. Dia beralih menatap Ji An tak percaya yang benar-benar ikut masuk ke dalam demi ingin tidur dengan putranya.
"Aku akan tidur di sofa."
"Kenapa? Bukannya kau ingin tidur bersama putra kita?" tanya Arthur heran setelah dirinya melepas pakaiannya hanya menyisakan celana boxernya, karena hal itu sudah biasa dilakukannya saat tidur dan hal itu sontak membuat wajah Ji An memerah malu sontak memalingkan wajahnya ke arah lain.
"A.. aku cukup, asal tidur sekamar dengannya." jawab Ji An tergagap dan mulai membaringkan tubuhnya di sofa.
Arthur hanya menatap tak percaya. Sekeras itukah kau menghindariku? batin Arthur kecewa, dia menginginkan sesuatu yang lebih saat wanitanya itu memutuskan untuk tidur di kamar yang sama namun... itu hanyalah harapan belaka bagi Arthur.
Tengah malam, Arthur membuka matanya mengingat Ji An yang juga tertidur di kamar yang sama. Dia sontak menoleh menatap Ji An yang terlihat tidak nyaman tidur di sofa, dia pun merasa kasihan dan menghampiri Ji An dan memindahkan tubuhnya ke ranjang yang sama dengan putranya dan dirinya.
Arthur tersenyum puas karena wanitanya tak terusik sama sekali saat dirinya memindahkannya, malah terlihat semakin pulas saja tidurnya. Arthur pun ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Ji An dengan Matty di pinggir dan Ji An di tengah dan Arthur memeluk erat tubuh wanita yang sudah menjadi ibu dari putranya itu.
"Tidurlah dengan nyaman, kau pasti capek. Aku mencintaimu Ji An...." bisik Arthur membuat Ji An menggeliat memiringkan tubuhnya menghadap Arthur dan spontan menyerukan kepalanya di dada Arthur dengan nyaman karena dia merasa mendengar kata-kata manis di dalam mimpinya.
Arthur balik mendekap tubuh itu meski harus menahan adik kecilnya yang tiba-tiba bangun dari tidurnya karena dekapan itu.
TBC
.
.
.
Maafkan typo
Beri dukungannya
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya