Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Episode 20


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Davin menyusupkan tangannya melingkari perut Davi. Tubuh Davi langsung menegang meski dia tidak berontak.


Tadi dia berdiri dari duduknya melihat air hujan yang mengguyur di luar jendela. Namun kini dia menyesalkan kenapa dia berdiri tadi.


"Kau sudah makan?" Tanya Davin lagi dengan lembut sambil mengecupi leher dan tengkuk Davi dengan lembut dan hati-hati.


Karena tubuh Davi tegang dan kaku.


"Le... lepaskan aku!" Bisik Davi sambil menggeliat pelan karena merasa tak nyaman malah terdengar mirip ******* yang merdu di telinga Davin.


Setelah tak menampakkan batang hidungnya setelah dirinya keguguran, kini pria brengsek ini muncul, batin Davi.


"Rileks sayang, tenanglah! Biarkan seperti ini! Aku merindukanmu." Bisik Davin di dekat telinga Davi yang terdengar merinding di bulu kuduk Davi.


Davi terdiam tak berontak lagi. Entah kenapa dia menemukan ketenangan dan kenyamanan dalam dekapan itu. Dia tidak munafik kalau masih ada cinta untuk Davin di hatinya. Hanya saja dia sangat kecewa dengan perilaku Davin padanya yang sangat posesif dan overprotektif.


Selama ini dia tidak buta dengan perlakuan Davin yang lembut padanya saat dirinya pura-pura dalam tidurnya. Dia hampir saja tersentuh dengan perlakuan Davin yang manis. Namun mengingat kejadian buruk saat Davin mengambil miliknya yang berharga membuat Davi kembali menutup dirinya. Namun sekarang dia sudah capek melawan dan memberontak.


Dia tahu betul watak Davin. Semakin dia berontak dia juga akan posesif. Namun sebaliknya, jika dia lembut, Davin juga tak akan kalah lembutnya memperlakukannya. Kini dia hanya bisa mencoba merayu dan berperilaku lembut padanya agar mungkin saja dia akan mengizinkannya menemui orang tuanya.


"Maaf... maafkan aku... tentang anak kita..." Bisik Davin setelah lama membenamkan wajahnya di ceruk leher Davi.


Davi hanya diam tak menjawab, dia malah mengernyit heran kenapa pria ini sangat merasa bersalah karena kegugupannya dirinya. Padahal dialah yang tidak memperlakukan baik tubuhnya. Namun Davi memilih bungkam untuk tidak menjawab apapun.


Kepala pelayan memang tidak mengatakan apapun tentang Davin yang memilih tidak mengirimnya ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Kalau saja dia segera dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan mungkin janin itu masih hidup di perut Davi.


"Kau pasti lelah, istirahatlah!" Bisik Davin melepaskan pelukannya meski sebenarnya dia tak rela.


Davi masih tetap diam. Davin menggiringnya menuju ranjang dan membaringkan tubuh Davi dan tubuh Davin di sebelahnya. Meski Davi sontak mundur karena Davin berbaring di sisinya.


"Tidurlah! Aku akan pergi setelah kau tertidur. Aku tak akan memaksamu lagi jika kau menolaknya." Ucap Davin lembut menatap Davi penuh cinta sambil mengelus lembut rambut Davi dengan sayang.


Davi mulai mengendurkan pertahanannya. Dia akan mempercayai Davin untuk saat ini. Dia pun berbaring berusaha senyaman mungkin di ranjang sambil menarik selimut hingga batas lehernya mencegah Davin memperlakukan macam-macam padanya lagi.

__ADS_1


"Tidurlah!" Davi masih terdiam menatap Davin lekat yang menyiratkan akan tatapan tulus cinta seseorang pada dirinya.


Davi mulai menutup matanya yang memang sudah mengantuk. Tak lama dia pun memejamkan matanya dan terlelap. Davin tersenyum melihat Davi yang begitu mudahnya terlelap.


"Aku mencintaimu. Sangat... Jangan benci aku! Tetaplah mencintaiku seperti sebelumnya." Bisik Davin mengecup kening Davi lama.


Dan beranjak dari ranjang menuju kamar di sebelah.


***


Davin sudah bersiap untuk sarapan dengan pakaian formal kantornya, jas rapi dan dasi membuatnya semakin menawan.


"Sarapan sudah siap tuan." Ucap kepala pelayan saat Davin tiba di meja makan yang sudah ditata rapi.


"Apa dia sudah bangun?" Tanya Davin ragu-ragu.


Dia ingin sekali mendatanginya saat setelah bersiap tadi. Namun karena ada meeting pagi itu dia harus segera berangkat ke kantor apalagi Fero sudah bersiap untuk menjemputnya.


"Nona sudah bangun dan mandi, seperti biasa dia menghabiskan waktunya hanya duduk di sofa dekat jendela kamarnya." Jelas kepala pelayan.


"Sudah tuan, saya sudah mengantar sarapannya lima belas menit yang lalu, dan nona juga menghabiskan sarapannya tanpa sisa sedikitpun." Jelas Kepala pelayan itu lagi membuat Davin mendesah lega sekaligus kecewa entah karena apa.


"Aku akan langsung berangkat." Ucap Davin tanpa sarapan lebih dulu.


"Tuan tidak sarapan?" Tanya kepala pelayan menatap tuannya berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya.


***


"Nona, ini susu anda." Ucap kepala pelayan itu menyerahkan segelas susu pada Davi yang hanya diam menatap keluar jendela.


"Terima kasih." Davi menerimanya dan meminumnya perlahan sampai habis tanpa mengatakan apapun lagi.


Kepala pelayan menghela nafas berat melihat nonanya semakin hari semakin mirip boneka hidup saja.

__ADS_1


"Apa ada lagi yang nona butuhkan?" Tanya Kepala pelayan sebelum meninggalkan kamar nonanya.


Davi terlihat diam tak menjawab, bahkan dia terlihat melamun dengan tatapan mata kosong menatap ke depan keluar jendela. Biasanya Davi langsung menjawab dengan penolakan namun hari ini dia seperti tak mendengarkan apa yang dikatakan kepala pelayan itu.


"Nona..." Panggil kepala pelayan itu lagi tetap membuat Davi tak bergeming.


Hingga kepala pelayan itu mendekati Davi dan menyentuh bahu Davi yang tersentak kaget dan terbuyar dari lamunannya.


"Ya?" Tanya Davi gelagapan.


"Apa ada lagi yang nona butuhkan?" Kepala pelayan mengulang kembali pertanyaannya.


"Ehm... apa aku boleh mengatakannya?" Tanya Davi ragu-ragu menatap kepala pelayan itu penuh harap.


Kepala pelayan itu terdiam sejenak, dia tak menyangka ucapannya akan mendapatkan jawaban lain dari biasanya.


"Kalau boleh saya tahu, apa yang diinginkan nona?" Tanya kepala pelayan hati-hati.


"Bisakah aku bertemu orang tuaku?" Harap Davi menatap Kepala pelayan itu dengan tatapan permohonan.


Kepala pelayan sontak terdiam. Dia ingin sekali mengiyakan permintaan wanita calon istri majikannya itu. Namun dia belum mendapat izin dari tuannya. Dia tahu betul watak majikannya jika suatu hal tidak sesuai dengan keinginannya.


"Maaf nona. Saya akan bertanya lebih dulu pada tuan muda." Jawaban yang dikatakan kepala pelayan membuat wajah Davi kembali murung dan terlihat mendung.


Meski dia sudah menduga apa yang dikatakan kepala pelayan itu dia berharap mungkin dia bisa menurutinya.


"Aku tak butuh apapun lagi." Ucap Davi dingin dan datar mengalihkan kembali pandangannya ke luar jendela.


Kepala pelayan terlihat merasa bersalah karena tak mampu mengabulkan keinginan nonanya. Bagaimana pun juga keputusan akhir tetap ada di tangan tuan muda. Apalah dirinya itu hanya seorang pelayan.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2