Tuan Muda Aftano

Tuan Muda Aftano
Part 27


__ADS_3

Dokter memasuki ruang perawatan tuan besar Kim setelah dipindahkan dari ruang operasi. Mendekati ranjang dan memeriksa kondisinya sebentar. Masih dengan peralatan medis di tubuh tua itu demi menunjang kehidupannya.


"Bagaimana dok?" tanya Ji An setelah melihat dokter memeriksa ayahnya.


Tentu saja masih dengan Arthur dan Sung Hun yang mendampinginya. Arthur memang mengurungkan niatnya untuk kembali ke hotel mengurus pekerjaannya demi calon istrinya yang memohon menemaninya sampai sang ayah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Tuan besar Kim baik-baik saja. Operasi juga lancar. Kita tunggu beberapa waktu ke depan. Jika kondisinya sudah stabil dan degup jantungnya normal, beliau pasti akan membuka matanya." jelas dokter itu tersenyum ramah.


"Terima kasih dokter, bisa dipastikan berapa lama lagi dia sadar?" tanya Ji An antusias, senyum mengembang di bibir cantiknya.


"Kita tunggu sampai besok pagi, karena bagaimanapun juga kondisi sebelumnya sudah koma beberapa bulan." jelas dokter itu menjelaskan dengan hati-hati untuk tidak terlalu kecewa keluarga pasien.


"Baiklah. Terima kasih dok." jawab Ji An menunduk memberi hormat dan terima kasih pada dokter yang menangani ayahnya.


"Ayah, kau dengar itu. Operasimu berhasil. Kau akan sembuh ayah. Kau akan sembuh. Dan kita akan pulang bersama." ucap Ji An antusias mendekati ranjang ayahnya sambil menggenggam jemari tangan ayahnya sambil mengecupnya berkali-kali.


Arthur hanya tersenyum terharu melihat pemandangan itu. Begitu juga Sung Hun, dia sungguh sangat bahagia mendengar tuan besar yang dilayaninya sekaligus sahabatnya itu.


**


"Tuan..." Zein memberi hormat pada tuannya saat melihat tuannya sudah kembali di ruang kerja di hotelnya.


Zein ikut berbahagia melihat senyum tuannya terus mengembang di bibirnya sejak masuk ke dalam ruangannya.


Tadi setelah menemani calon istrinya sebentar, Arthur pamit untuk kembali pada pekerjaannya, pekerjaannya memang banyak dan sedang menunggunya. Zein pun sedang berbahagia juga melihat mood tuannya terus membaik. Karena jika mood tuannya baik, pekerjaan pun akan terus membaik juga.

__ADS_1


***


Sementara itu, seorang bocah terbaring pingsan di sebuah ranjang mewah entah dimana dengan tangan terikat ke belakang dan mulut yang disumpal. Dia masih tertidur lelap mendengar nafas teratur. Hyung Jae terlihat duduk dengan menyilangkan kakinya di sofa depan ranjang yang terbaring anak itu.


Senyum miring tercetak jelas di bibir Hyung Jae, karena rencananya kali ini pasti akan berhasil dan tak mungkin gagal, begitulah kira-kira isi pikiran Hyung Jae sambil menatap bocah itu yang bahkan masih tertidur pulas karena obat bius yang diberikan anak buahnya tadi, sebelum menangkap bocah itu. Hyung Jae tertawa terbahak-bahak membayangkan apa yang diinginkannya akan segera terkabul.


"Seharusnya aku sudah sejak dulu melakukan ini. Kenapa aku begitu bodoh karena kasihan pada bocah ini. Bocah ini sangat menyebalkan sejak dulu. Dia selalu menghalangi niatku untuk mendapatkan harta keluarga besar kakeknya." ucap Hyung Jae sambil tawanya seringai.


**


Ponsel Arthur di atas meja ruang kerjanya berdering, Arthur yang sedang membaca berkas laporan di atas meja melirik sebentar. Nomer pengawalnya yang memanggil. Entah kenapa perasaan Arthur sedikit tak tenang dan gelisah menatap ponselnya yang berdering. Hingga dia hanya menatapnya tanpa ada niat untuk mengangkatnya karena masih melamun.


"Tuan..." panggil Zein yang melihat tuannya melamun sambil menatap ponselnya yang terus berdering berkali-kali, Zein pun tak berani menjawab panggilan itu jika Arthur tak memberikan perintah langsung.


Arthur terlihat tersentak dari lamunannya. Menatap Zein kebingungan.


Tak terdengar jawaban dari Arthur tapi rahang Arthur tampak mengeras, tangannya terkepal menahan emosi, sorot wajahnya yang sudah dingin kini menjadi lebih tajam dan menakutkan. Kabar dari pengawal putranya membuat emosi amarahnya memuncak tinggi membuat matanya ikut memerah karena amarahnya.


"Zein..." ucap Arthur dengan nada rendah tapi terdengar tajam dan dingin.


"Ya tuan." Zein hanya menundukkan wajahnya merasa bersalah melihat raut wajah tuannya menahan amarahnya.


"Siapkan anak buah terbaik kita. Suruh mereka mencari dimanapun putraku berada. Dan aku yakin siapa dalang dari semua ini. Kau sepemikiran denganku kan Zein?" suara dingin Arthur sambil meremas pundak Zein yang terlihat gemetar menahan ketakutannya.


Zein pernah melihat hal ini juga saat mendengar kakaknya Angel frustasi karena ditinggalkan suaminya meski itu hanya salah paham dan kini Zein melihat sorot mata amarah ini ada lagi di mata tuannya.

__ADS_1


"Baik tuan." jawab Zein segera meraih ponselnya menghubungi yang terkait dengan anak buah khusus terbaik milik tuannya.


"Jangan beritahu istriku tentang hal ini!" titah Arthur meninggalkan ruang kerjanya.


Ya, akhirnya Ji An dan Arthur memutuskan untuk mengikat hubungan mereka di depan pak pendeta sebelum mereka meresmikan hubungan mereka di depan umum. Arthur ingin segera mengikat wanitanya itu lebih dulu.


**


Ji An seketika ambruk setelah ponselnya terlepas dari tangannya yang baru ditempelkan pada telinganya. Kabar dari seberang ponsel itu membuat Ji An tak mampu berdiri tegak hingga membuatnya hilang kesadaran di dalam kamar perawatan sang ayah yang bahkan belum sadar dari operasinya siang tadi.


"Nyonya... nyonya... bangunlah nyonya!" ucap perawat yang saat itu tengah memeriksa kondisi pasien tuan besar Kim.


Salah satu dari mereka mengangkat kepala Ji An mencoba menyadarkannya dengan menepuk-nepuk pipi Ji An sedang perawat lainnya meminta bantuan mencari seseorang untuk mengangkat tubuh Ji An membaringkan di ranjang kamar perawatan di sebelah ruang perawatan sang ayah.


TBC


.


.


.


Maafkan typo


Beri dukungannya

__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya


__ADS_2