
Setiap hari Davi tak pernah melewatkan sarapan, makan siang dan makan malam yang dikirim kurir Davin setiap hari. Seperti hari ini, Davi sarapan menu bergizi yang terjamin kebersihan dan kehigienisannya. Setiap hari menu yang dikirimkan padanya selalu berbeda. Mungkin untuk mengurangi rasa bosan juga morning sickness di pagi hari.
Dan nyatanya kehamilannya kedua ini Davi tak mengalami hal itu seperti hamil pertama dulu. Bahkan bisa dikatakan Davi cepat lapar meski baru beberapa jam lalu makan. Melihat kondisi itu, kurir Davin membawakan serta berbagai camilan sehat untuk dia konsumsi juga. Bahkan Davi tak bisa untuk tidak makan semua camilan yang menggunggah seleranya itu.
"Non masih lapar?" Tanya bi Sum melihat Davi masih terus menikmati camilan itu sambil nonton televisi.
"Iya bi." Jawab Davi singkat fokus kembali nonton televisi.
"Tapi non baik-baik saja kan perutnya?" Tanya bi Sum cemas karena Davi menghabiskan begitu banyak camilan hingga bungkus ke sepuluh setelah sarapan paginya.
"Gak apa kok bi, baik-baik saja tuh." Jawab Davi tanpa menatap bi Sum.
"Ayah gak pulang bi?" Tanya Davi setelah bi Sum tidak bertanya lagi hanya menemani Davi sesuai perintah kurir pengantar Davin. Dan bi Sum setiap hari harus melaporkan apa saja yang dilakukan dan dimakan Davi. Apa dia bisa menerima semua makanan yang dikirim oleh majikannya.
"Gak non, katanya ibu mulai mengalami perkembangan yang lebih baik jadi, saran dokter untuk menungguinya setiap saat setiap waktu." Jawab bi Sum. Davi hanya mengangguk-angguk mengerti.
***
"Kau akan menjadi sekretarisku." Ucap Davin menjelaskan pekerjaan Su Jin di kantornya.
"Bukannya kau sudah punya sekretaris?" Tanya Su Jin.
"Dia akan kupindahkan ke bagian lain." Jawab Davin enteng.
"Oke." Jawab Su Jin.
"Sementara dia akan memberi tahu apa pekerjaanmu dan jika sudah siap dia akan ke pekerjaan barunya." Ucap Davin.
"Oke."
"Hari ini temani aku makan siang dan bertemu dengan seseorang." Ucap Davin.
"Oke." Su Jin tak banyak bertanya untuk ajakan Davin yang terakhir itu. Dia sempat melihat sekelebat reaksi dari tatapan mata Davin yang berubah sendu.
"Mbak Dewi, bisa masuk sebentar!" Titah Davin lewat telepon kantornya yang ada di mejanya.
"Baik tuan." Jawab sekretaris yang dipanggil Dewi itu.
Tok tok tok
"Masuk!" Titah Davin.
__ADS_1
"Anda memanggil saya tuan?" Tanya Dewi seraya melirik ke arah Su Jin.
"Fero sudah mengatakan padamu kan?" Tanya Davin menatap Dewi.
"I.. iya tuan." Jawab Dewi mengangguk ragu.
"Dia Su Jin. Dia yang akan menggantikan pekerjaanmu. Kau beritahukan pekerjaan yang harus dilakukannya nanti. Semuanya." Jelas Davin tegas.
"I.. iya tuan."
"Oh ya, meski kau kupindahkan ke bagian lain, tapi gajimu tetap, jadi kuharap kau tidak akan kecewa."
"Iya tuan." Jawab Dewi tegas setelah mendengar keputusan terakhir Davin.
"Mari mbak...!" Ajak Dewi mempersilahkan pada Su Jin dengan sopan. Su Jin hanya mengangguk sopan.
***
Ting
Suara pesan masuk di ponsel Davi. Pesan dari pengacara Davin untuknya.
'Maaf nona, tuan muda akan menemui anda nanti saat makan siang. Sopir tuan muda akan menjemput anda pukul dua belas tepat. Terima kasih.' Isi pesan Arman.
Davi segera bersiap, entah kenapa dia tersenyum bahagia mendengar akan bertemu langsung dengan suaminya. Dia tidak akan pernah menanda tangani berkas perceraiannya apalagi sekarang dia dalam kondisi hamil. Bayi mereka butuh orang tua lengkap. Dia bahkan rela jika nanti dikurung Davin di villa atau di rumah asal tetap bersama dengan suaminya yang kini sudah merajai hatinya itu.
"Non kelihatan bahagia sekali?" Tanya bi Sum melihat bibir Davi terus senyum.
"Iya bi, aku mau bertemu suamiku." Jawab Davi sumringah. Bi Sum pun ikut tersenyum senang juga melihat nona majikannya kini bisa tersenyum bahagia karena yang dilihatnya beberapa hari ini terlihat murung.
"Non pasti sangat mencintainya ya?" Goda bi Sum membantu Davi mengenakan pakaiannya karena sebentar lagi waktu sopir Davin menjemputnya tinggal setengah jam lagi.
"Iya bi, aku sangat mencintainya juga merindukannya." Jawab Davi senyum-senyum sendiri tidak jelas.
"Semoga kalian bisa bersatu kembali ya non." Doa bi Sum.
"Aamiin." Jawab Davi. Bi Sum kurang lebih tahu apa yang sedang terjadi dengan nona majikannya ini. Dia merasa kasihan karena Davi selalu terlihat sedih setiap hari sejak kepulangannya.
Ting tong ting tong
Suara bel pintu Davi berbunyi, Davi bergegas keluar rumah karena sudah menunggunya lima belas menit yang lalu.
__ADS_1
"Bi, aku pergi dulu ya!" Pamit Davi pada bi Sum.
"Iya non, hati-hati!" Jawab bi Sum tersenyum bahagia melihat nona majikannya juga bahagia.
***
"Kita pergi sekarang!" Ajak Davin saat melintasi meja sekretarisnya.
"Oke." Jawab Su Jin meninggalkan Dewi sendiri. Karena menurut jadwal memang Su Jin menemani tuan mudanya keluar ada janji dengan seseorang.
Su Jin hanya diam dalam perjalanan menuju restoran tempat mereka janjian bertemu. Su Jin tak tahu Davin mau bertemu dengan siapa. Davin tak menjelaskan apapun padanya. Su Jin sendiri merasa tidak berani untuk bertanya entah kenapa orang yang akan mereka temui adalah seseorang yang penting bagi Davin.
Mobil sudah terparkir sempurna di halaman parkir depan restoran. Davin keluar lebih dulu diikuti Su Jin. Davin menatap sekeliling halaman parkir belum menemukan mobil milik sopir pribadinya yang digunakan untuk menjemput istrinya. Davin melirik jam tangan mahalnya masih ada waktu lima menit lagi untuk waktu janjian mereka.
"Aduh.." Rintih Su Jin saat baru saja keluar dari dalam mobil. Su Jin sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri menunduk menahan sakit.
"Kau tak apa?" Tanya Davin segera mendekati Su Jin yang terlihat kesakitan.
"Perutku kembali sakit." Jawab Su Jin lemah.
"Kembali sakit? Apa maksudmu?" Tanya Davin merasa kebingungan.
"Tak apa, mungkin karena aku lagi datang bulan jadi terasa nyeri. Tak apa sudah beberapa kali sejak tadi." Jelas Su Jin sambil memegangi perutnya menahan nyeri.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Ajak Davin memapah Su Jin masuk ke dalam mobil kembali.
"Tak apa Matt, sungguh. Nanti...aww..."
"Kita ke rumah sakit sekarang, tidak ada bantahan!" Tegas Davin memapah Su Jin masuk ke dalam mobilnya lagi tak peduli dengan makan siangnya dengan istrinya hari ini, dia akan membuat janji lain kali lagi.
Deg
Detak jantung Davi tersentak sakit melihat pemandangan di depan matanya yang tidak dia percaya. Suaminya merengkuh bahu seorang wanita cantik dengan mesra. Air mata Davi entah sejak kapan sudah menetes mungkin hormon kehamilannya membuatnya sensitif terhadap hal-hal yang sedikit saja menyakitkannya.
"Mari non!" Davi tidak memperhatikan sopir yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Tatapannya masih terus tertuju ke depan pemandangan suaminya yang sudah berani membawa wanita lain sementara masih berstatus suaminya.
Apa karena wanita lain hingga dia memutuskan untuk bercerai? Batin Davi yang semakin terasa sesak sakit.
Apa kau sudah benar-benar melupakanku? Batin Davi lagi menangis sejadi-jadinya begitu melihat suaminya sudah pergi naik mobil berdua saja dengan wanita lain. Bahkan dia tak menunggunya untuk sekedar menyapanya saja.
.
__ADS_1
.
TBC