
Tok tok tok
Tok tok tok
Pintu kamar Hyung Jae diketuk tidak sabaran oleh anak buahnya.
"Bos...bos..." seru salah seorang pengawal yang ada di luar pintu kamarnya.
"Aaahh...sial..." umpat Hyung Jae bangun dari tidurnya dengan malas membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" bentak Hyung Jae menatap ketus, sorot matanya tajam menakutkan karena tidurnya terganggu.
Apalagi dia baru saja memejamkan matanya untuk tidur dan ini baru pukul tiga menjelang pagi.
"I...itu...bos, ada... yang menyerang kita. Anak buah kita terdesak." ucap pria pengawal itu ketakutan, panik dan gugup mendengar bentakan bosnya.
"APA!!!" teriak Hyung Jae langsung meraih jaket tak lupa membawa revolver nya.
"Ayo!" titah Hyung Jae turun ke bawah sudah tidak mendengar suara perkelahian lagi.
Hyung Jae dan seorang anak buahnya tadi terlihat waspada karena kemungkinan anak buahnya sudah kalah semua.
"Dimana Shin?" bisik Hyung Jae.
"Tuan Shin sedang melawan mereka tuan. Tuan Shin yang meminta saya untuk membawa anda meninggalkan tempat ini untuk menyelamatkan diri sementara dia mengulur waktu untuk musuhnya." jelas pria itu.
"Apa? Itu artinya kita sudah benar-benar terdesak?" tanya Hyung Jae tak percaya.
"Maaf bos." sesal pria itu sambil melirik ke kanan ke kiri melihat situasi yang mungkin saja, musuh menyerang mereka tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa-apaan lari, tentu saja kita harus melawan mereka!" ucap Hyung Jae tak suka.
"Bos, situasinya tidak mungkin kita melawan. Malah akan sebagai bahaya. Percuma. Itulah sebabnya tuan Shin meminta saya membawa anda melarikan diri dari sini dulu." Hyung Jae tampak termenung sejenak, mencerna ucapan pria itu.
"Ok. Kita pergi!" Hyung Jae menurut, hingga pria itu membawa ke sebuah lorong rahasia untuk melarikan bosnya.
****
Sementara itu...
"Kau sudah terdesak, sebaiknya menyerah. Jangan membuatku hilang kendali!" seru Arthur sudah meletakkan moncong pistolnya ke dahi Shin yang tadi berusaha mati-matian melawan.
Shin tampak diam tak bergeming, dia benar-benar kalah. Wajah babak belur di seluruh tubuhnya menunjukkan bahwa dia memang harus sudah menyerah kalah.
'Ternyata lawanku kali ini memang sungguh sangat kuat. Pantang tuan muda Jung begitu sering memperingatkanku tentang kawanku yang kali ini memanglah sangat tangguh.' batin Shin yang sudah terduduk berlutut di hadapan Arthur yang masih menempelkan moncong pistolnya itu.
"Sepertinya kau orang kepercayaan Jae, kau bahkan rela mengorbankan nyawamu untuk melakukan apapun keinginan bosmu itu meskipun tahu itu salah." ucap Arthur yang tak dijawab oleh Shin yang sudah terduduk lemas dengan darah mengalir dari sudut bibir dan dahinya.
Padahal di rumah Matty putranya tipe anak penurut yang jarang melawan. Bahkan sedikit suara saja bisa membuat putranya terbangun mesti terlihat tertidur pulas.
"Art, Art... Matty tidak bangun-bangun meski kubangunkan." seru Ji An dari arah kamar tempat putranya dan istrinya disekap.
Arthur tampak menatap pimpinan anak buahnya dan memberi kode untuk mengatasi Shin.
"Baik tuan." ucap pria yang dikode Arthur tadi tegas, melakukan titah Arthur.
Arthur mendekati istrinya menepuk-nepuk pipi putranya mencoba membangunkannya, namun hanya terdengar dengkuran halus dari putranya yang digendong istrinya.
"Kita ke rumah sakit!" ucap Arthur mengambil alih gendongan itu berlari ke arah mobilnya tadi tampak cemas. Ji An hanya mengikuti sambil terus menangis.
__ADS_1
"Zein, urus semuanya disini!" teriak Arthur saat sudah berada dalam mobil yang diikuti Ji An dengan sopir yang dibawa Arthur tadi.
"Siap tuan." seru Zein segera menitahkan pada anak buah yang lain membereskan tempat itu sambil menunggu kedatangan polisi yang sudah dihubunginya tadi.
**
Matahari sudah mulai masuk ke dalam kamar tempat Ji Sung dirawat. Dia membuka matanya perlahan menatap sekeliling. Terlihat Sung Hun masih setia menemaninya di kursi samping tempat tidur.
"Tuan..." lirihnya melihat tuannya membuka matanya.
"Sudah jam berapa ini?" tanya Ji Sung mulai bangun dari tidurnya di bantu Sung Hun untuk duduk bersandar tak lupa Sung Hun menegakkan ranjang rumah sakit itu dengan tombol pada ranjang.
**
"Makanlah tuan! Dan minum obatnya!" ucap Sung Hun setelah membantu tuannya baru dari toilet membersihkan dirinya, tentu saja masih dengan kursi roda karena keadaannya yang masih belum benar-benar sembuh.
"Apa putriku belum datang?" tanya Ji Sung masih melihat belum ada tanda-tanda siapapun datang.
"Selamat pagi." sapa seorang dokter yang menangani Ji Sung selama ini.
Keduanya orang tua itu tampak menoleh bersamaan. Dokter tersenyum ramah menatap keduanya.
"Selamat pagi dok." Sung Hun langsung bangun dari duduknya memberi ruang pada dokter untuk memeriksa tuannya.
"Kondisi anda semakin membaik, mungkin butuh waktu untuk bisa berjalan dengan normal. Karena tubuh anda sudah lama koma dan tak bergerak sama sekali. Mungkin dengan terapi yang teratur akan segera sembuh." jelas dokter itu setelah selesai memeriksa dengan teliti. Ji Sung tersenyum mendengar ucapan dokter.
"Terima kasih dok." ucap Sung Hun menyela yang berdiri di sebelah ranjang sisi lain tuannya. Dokter itu tersenyum ramah membalas ucapan Sung Hun.
"Baiklah. Saya permisi dulu. Sebaiknya anda segera sarapan dan minum obat. Akan sangat membantu proses kesembuhan." ucap dokter itu lagi.
__ADS_1
"Baik dok." kedua orang tua itu mengangguk. Dokter meninggalkan ruang perawatan Ji Sung.
TBC