
Davi menatap rumah yang sudah lebih dari enam bulan ditinggalkannya. Dia menatap rindu untuk pulang ke rumah. Namun entah kenapa perasaannya malah tidak senang saat kini dia bisa pulang ke rumahnya sesuai keinginannya sejak diculik oleh Davin. Yang sayangnya sekarang adalah suaminya, dan mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan suami. Jika Davi sudah menanda tangani berkas perceraian yang sengaja di buangnya di tempat sampah rumah sakit pagi tadi.
Ya, pengacara suaminya datang lagi dan menyerahkan berkas perceraian untuk ditanda tangani olehnya. Namun Davi segera mengembalikan pengacara itu sebelum dia bertemu langsung dengan Davin. Dan bertanya apa alasan suaminya menceraikannya. Bukankah dulu dia keukeuh mempertahankan dirinya dalam cengkeraman penjara mewahnya?
Lalu kenapa sekarang seolah Davin menolaknya saat hatinya mulai luluh. Apalagi dengan kehadiran calon bayi mereka. Dan juga seharusnya pria itu datang padanya minta maaf dan membujuknya sekali lagi untuk tinggal kembali bersama.
Namun sekarang pria yang menjadi suaminya itu apakah sudah bosan padanya sehingga dia membuangnya. Oh sungguh kejam jika hal itu terjadi. Dia dan calon anaknya dibuang dan dikembalikan ke orang tuanya setelah dia merenggut semua miliknya.
Dan bukannya dia pernah mengatakan akan meminta restu pada orang tuanya saat dirinya hamil anaknya sehingga Davi tak bisa lepas darinya lagi dengan alasan anak mereka. Namun sekarang seolah semua omongan yang diucapkan suaminya omong kosong belaka. Davi tersenyum miris mengingat statusnya yang sebentar lagi seorang janda atau lebih tepatnya single parent.
"Nyonya mau saya panggilkan seseorang?" Davi terbuyar dari lamunannya. Dia tersentak kaget sopir suaminya menegurnya, mungkin sudah lama dirinya melamun di depan gerbang rumah tiga lantai milik orang tuanya.
"Gak usah pak, saya akan masuk sendiri. Bapak bisa langsung pergi!" Usir Davi halus.
"Tuan muda memerintahkan saya mengantar sampai ke depan pintu rumah anda nyonya." Jawab pak sopir.
"Dan bapak langsung diinterogasi sebagai penculikku begitu?" Ucapan Davi membuat pak sopir terdiam.
"Bapak pergilah, saya akan masuk dan menjelaskan semua pada orang tua saya." Hibur Davi membuat pak sopir kembali terdiam menimbang ucapan Davi dan mengangguk mengerti.
"Baiklah nyonya. Saya pamit kalau begitu." Davi mengangguk. Pak sopir langsung meninggalkan depan rumah Davi.
Davi melangkah mendekati gerbang rumahnya yang tampak lengang seperti tiada penghuni. Namun Davi bisa melihat rumahnya yang tidak banyak berubah terakhir dia diculik Davin.
"Non Davi? Ini bener non Davi?" Seru seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman.
__ADS_1
"Iya bi Sum. Saya Davi. Davi pulang bi." Sapa balik Davi menatap bik Sum penuh kerinduan. Bik Sum yang sudah bekerja di rumah itu dari Davi kecil langsung membuka gerbang rumah Davi.
"Masuk non. Kenapa tidak langsung masuk? Apa kabarnya non? Bapak dan ibu sangat mencemaskan non Davi yang tak kunjung pulang." Cerita bik Sum antusias bahagia melihat putri majikannya pulang. Dan sekarang sedang berada di hadapannya.
Davi tersenyum tulus menatap asisten rumah tangga di rumah ibunya itu.
"Iya bik. Bagaimana keadaan bibi?" Tanya Davi memeluk tubuh renta itu bersemangat.
"Biak non, baik. Hanya .." Ucap bik Sum ragu takut-takut.
"Hanya apa bi?" Tanya Davi penasaran menatap bik Sum lekat.
"Sekarang masuk ke dalam rumah dulu aja non!" Ajak bik Sum membawakan barang Davi yang hanya tas kecil di lengannya.
"Iya bi." Davi mengikuti langkah bik Sum masuk ke dalam halaman rumah sambil menatap sekeliling halaman yang tidak banyak berubah
"Pak, bapak..ibu..." Teriak bik Sum antusias bahagia tak sabar memberi tahukan kabar bahagia pada kedua majikannya yang selama ini mencari keberadaan putrinya.
"Ada apa bi teriak-teriak?" Tanya ayah Davi muncul dari dapur. Dia sedikit terkejut mendengar asistennya itu berteriak tak kenal waktu.
"Lihat siapa yang datang pak! Lihat!" Cerita bik Sum antusias menunjuk pada pintu depan.
"Memang siapa?" Gelas yang dipegang ayah Davi sontak jatuh pecah berhamburan di lantai melihat sosok yang sangat dirindukannya dan dicarinya beberapa bulan terakhir ini.
Dia terkejut, dia hampir saja menyerah mencari putrinya. Dia mau berpendapat kalau putrinya berbahagia dengan seseorang yang membuatnya meninggalkan pernikahannya tiba-tiba.
__ADS_1
"Ayah." Sapa Davi dengan deraian air mata yang sudah tidak dapat ditahannya lagi. Air matanya menetes membanjiri pipinya. Suara isakan tangisan kerinduan dan rasa bersalah Davi langsung membuatnya berlutut di hadapan ayahnya.
"Maafkan Davi yah, maaf.. Davi salah telah meninggalkan pernikahan Davi waktu itu. Maaf yah...maaf..." Ucap Davi dalam isakan tangis kesedihan dan rasa penyesalan yang sangat.
"Bangun nak! Ayah yang salah memaksamu untuk memiliki pria yang tidak kau cintai. Maafkan ayah sayang, ayah sekarang merestui hubunganmu dengan siapapun yang kau inginkan. Tapi jangan pernah tinggalkan ayah dan ibu nak. Ayah minta maaf jika ayah bersalah." Davi menggeleng-geleng kepala merasa bersalah karena sebenarnya bukan salah keduanya. Hanya salah Davin suaminya yang memang benar menculiknya.
"Davi yang salah yah telah tanpa pamit pergi meninggalkan kalian tanpa kabar. Davi takut kalian marah dan memaksa Davi untuk tetap menikah meski Davi tak begitu mencintainya yah. Maafkan Davi yah." Ucap Davi dengan deraian air mata yang terus menerus menetes di wajahnya.
Ayah Davi langsung menarik putrinya yang dirindukannya dalam pelukannya. Dia sungguh sangat bahagia melihat putrinya sekarang sudah ada di hadapannya dengan keadaan baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun. Ayah Davi tak peduli dengan masa lalu, yang penting sekarang putrinya baik-baik saja, masih hidup dan bernafas.
"Kau kemana saja nak? Kenapa tak segera pulang? Ayah berharap kau pulang dan ayah sudah tak memaksamu untuk melakukan hal yang tidak kau suka nak. Kami hanya berharap kau pulang nak."
"Maaf ayah... maaf.." Bisik Davi dalam pelukan ayahnya yang dirindukannya.
Bik Sum yang hanya menyaksikan interaksi keduanya ikut menangis terharu.
"Ibu mana yah?" Tanya Davi setelah keduanya mereda. Ayah Davi menegang, dia ragu untuk mengatakannya. Dia tak tahu harus menjelaskan bagaimana pada putrinya tentang keadaan ibunya.
"Dimana ibu yah?" Tanya Davi lagi cemas dengan raut wajah ayahnya yang terlihat menegang.
"Ibumu..."
.
.
__ADS_1
TBC