
Arthur berlari memasuki rumah sakit terdekat yang ada di Busan. Wajah panik dan cemasnya terhadap putranya membuat berteriak penuh emosi begitu mobil diparkir. Para suster perawat yang berjaga berlari menuju teriakan yang sempat menghebohkan rumah sakit itu. Pasalnya sekarang waktu menunjukkan pukul tiga pagi.
"Tolong putra saya dok!" seru Arthur yang diikuti tatapan memohon Ji An yang sejak tadi mengikuti Arthur di belakangnya dengan kedua tangannya menangkup di dada memohon pada dokter dan perawat yang mendorong brankar itu.
Arthur meraih tubuh istrinya dalam dekapannya saat pintu ruang UGD tertutup dan tak mengizinkan mereka untuk masuk selama diperiksa. Ji An menumpahkan seluruh tangisannya di dada bidang suaminya yang mengajaknya duduk di kursi depan ruang UGD.
"Matty Art, Matty..." bisik Ji An dalam dekapan itu.
"Sssttt... percayalah, putra kita anak yang kuat. Aku yang salah saat itu tak memperhatikannya karena terlalu sibuk." ucap Arthur merasa bersalah.
"Tidak... akulah yang salah, sebagai ibunya, seharusnya aku menemaninya tapi aku..." ucap Ji An masih sesenggukan sambil semakin menelusupknan wajahnya lebih dalam.
Gemetar pundaknya tak bisa membohongi, meski sudah tidak menangis tapi sesenggukan masih bisa terdengar. Dan tak lama pandangan matanya menggelap. Ji An pingsan, mungkin karena kelelahan.
"Baby, hei... baby..." Arthur menepuk-nepuk pipi Ji An lembut karena tidak mendengar isakan atupun sesenggukan dari istrinya yang ada di dalam dekapannya.
"Suster." panggil Arthur saat melihat suster melintas di hadapannya.
"Ya tuan." jawab suster itu mendekat.
"Istriku pingsan." ucap Arthur panik.
"Kita bawa ke ruang perawatan yang kosong, saya akan minta dokter agar diperiksa." jawab suster itu langsung bergegas menuju ruang UGD menemui salah seorang dokter.
__ADS_1
**
"Keluarga pasien." seru dokter saat keluar dari ruang UGD.
Arthur yang menunggu di luar ruang UGD langsung mendekat setelah menyuruh salah seorang pengawal menjaga istrinya di ruang perawatan tak jauh dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan putraku dok?" tanya Arthur masih terdapat raut wajah cemas dan lelah tapi tetap mempertahankan wajah datar dan dinginnya.
"Syukurlah anda secepatnya membawa kemari. Obat tidur yang diberikan berdosis tinggi. Akan berakibat fatal jika hal itu terlambat ditangani. Apalagi putra anda masih sangat muda untuk menerima obat itu. Kami sudah menguras isi perutnya untuk berjaga-jaga agar obat itu tidak semakin berkembang di dalam tubuhnya. Untung saja putra anda anak lelaki yang kuat. Dia bisa bertahan selama itu." jelas dokter membuat Arthur seketika geram mengingat pada Hyung Jae yang berhasil lolos karena tak bisa memberinya pelajaran atas apa yang dilakukan pada putranya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Arthur lagi.
"Sebentar lagi kami akan membawa ke ruang perawatan. Dia harus mendapat perawatan intensif untuk mengecek kondisi tubuhnya pasca mengkonsumsi obat tidur tersebut." jelas dokter itu kembali tersenyum ramah.
***
Kini Arthur terduduk di kursi dekat ranjang yang terdapat dua orang yang dicintainya. Sebelah kanannya ada istrinya yang sedang terbaring masih setia memejamkan matanya. Mungkin karena efek kelelahan dan rasa lega karena sudah berhasil melepaskan diri. Sebelah kirinya putranya yang dipindahkan tidak lama setelah diperiksa dokter di ruang UGD tadi.
Ya, Arthur meminta satu kamar VVIP yang terdapat dua ranjang untuk mereka, tentunya dengan sedikit pemaksaan sampai pihak rumah sakit tak bisa menolak lagi. Bahkan diiringi sedikit ancaman dengan kekuasaannya juga. Arthur menggenggam tangan keduanya dengan masing-masing jemari tangannya tertaut istrinya dan putranya.
Dia tak mau putranya trauma pasca penculikan itu dan mendapati tak ada siapapun di sisinya. Bahkan sejak tiba di rumah sakit. Arthur belum mengganti bajunya atau istirahat maupun mengurus dirinya sendiri. Dia tak mau kecolongan lagi sekalipun ada para pengawal yang berjaga.
"Uchk..." desis Ji An tanpa sadar menggenggam erat jemari tangan Arthur. Arthur langsung berdiri menoleh menatap istrinya yang perlahan membuka matanya.
__ADS_1
"Baby..." bisik Arthur lembut penuh kecemasan. Ji An menoleh ke sumber suara.
"Matt..." serunya spontan bangun dari tidurnya namun langsung memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Aakh..." keluhnya.
"Kau tak apa? Dimana yang sakit?" tanya Arthur cemas sambil memegang istrinya sambil mengelus rambut istrinya lembut penuh perhatian.
"Art, Matt..." belum selesai Ji An bicara tak meneruskan ucapannya, dia melirik ranjang yang ada di sampingnya di belakang Arthur berdiri. Arthur membantunya untuk mendekati putranya. Sakit kepala tak dihiraukannya.
"Matt, sayang..." bisik Ji An setelah mendekat. Digenggamnya erat jemari tangan putranya.
"Ma..." bisik Matty mulai membuka matanya menatap mamanya yang berkali-kali mengecupi punggung tangannya.
"Hei boy, kau tak apa? Mana yang sakit?" tanya Ji An antusias.
Arthur juga mendekat berdiri di samping Ji An duduk. Matty menatap sekeliling dan kembali menatap papanya yang juga menatapnya.
"Pa..."
"Hei boy, you okay?" ucap Arthur tersenyum senang sambil mengelus kaki putranya yang tertutup selimut.
"I'm okay."
__ADS_1
TBC